Beranda Tokoh William Tanuwijaya: Founder dan CEO Tokopedia

William Tanuwijaya: Founder dan CEO Tokopedia

William Tanuwijaya

Kalimat.IDWilliam Tanuwijaya merupakan pendiri Tokopedia salah satu toko online terbesar di Indonesia, lahir di Pematang Siantar pada 11 November 1981, kini usia ia 37 tahun, dan merupakan pengusaha asal Indonesia.

William Tanuwijaya merantau selepas duduk di bangku SMA ke Jakarta untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik lagi. Namun pada tahun kedua ia kuliah, hal tak terduga terjadi, ayah dari William terkena sakit, sehingga membuat William harus mencari kerja sampingan agar kuliah nya bisa berlanjut.

Dengan keadaan mendesak memunculkan ide kecintaan William ke ranah internet. Pekerjaan sampingan ia tekuni sebagai penjaga warnet (warung internet) mengantarkan William sukses meluncurkan Tokopedia pada tahun 2009.

Perjalanan William Tanuwijaya di Tokopedia

tokopedia

Saya lahir dan besar dai kota Pematang Siantar Sumatera Utara, ketika lulus dari SMA almarhum ayah dan paman pada saat itu ingin saya mempunyai kehidupan yang lebih baik, buat mereka kehidupan lebih baik dimulai dari pendidikan yang lebih baik. Maka mereka memberikan kesempatan untuk saya keluar dai kampung halaman.

Di tahun 1999 pertama kali saya keluar dari Sumatera Utara dengan menaiki kapal laut 4 hari 4 malam dari pelabuhan Belawan menuju Tanjung Priok, saya kemudian memiliki kesempatan untuk teknik Informatika dari salah satu Universitas di Jakarta.

Pada tahun ke-2 pada saat saya kuliah ayah saya mulai jatuh sakit, untuk bisa tetap di Jakarta kemudian berusaha mencari pekerjaan, pekerjaan pertama saya adalah menjadi operator warnet untuk berjaga pada Shift Malam dari pukul 9 pagi sampai pukul 9 malam.

Dan pada saat itu belum ada jamannya Handphone dan dimana jamannya mahasiswa untuk mendapatkan akses internet datang ke warnet-warnet, dan ini menjadi berkah terselubung luar biasa. Karena saya bisa menggunakan internet secara gratis 12 jam sehari dimana saat itu internet merupakan produk yang mahal untuk dinikmati oleh Masyarakat Indonesia.

Dan itu adalah momen dimana saya jatuh cinta kepada Internet, saya lulus tahun 2003 kemudian mulai bekerja kantoran hingga pada tahun 2007 saya melihat sebuah peluang terbesit inspirasi untuk membangun Tokopedia, asal mulanya karena saya melihat ada masalah kepercayaan orang-orang tersebar di seluruh Indonesia mereka sudah terhubung secara online di internet namun belum mempunyai sebuah kepercayaan untuk ber-transaksi satu sama lain.

Saya melihat masalah kepercayaan ini sudah berhasil dipecahkan oleh berbagai model bisnis marketplace di belahan dunia, di Amerika ada yang namanya IB, di China ada yang namanya Tabaoo (Alibaba), di Jepang ada yang namanya Rakuten, kemudian saya berfikir kalau ada orang Indonesia membangun model bisnis serupa maka ini akan menjadi solusi.

Saya sudah ketemu inspirasinya, tapi saya tau membangun bisnis seperti itu butuh modal yang tidak sedikit, lantas saat itu saya terinspirasi dari para pendiri Startup dunia seperti Google, Facebook, mereka bisa membangun sebuah industri besar padahal mereka masih duduk di bangku kuliah. Kemudian saya pelajari mereka bisa mencari akses pemodalan, ada yang namanya Angel Investor, Vencture Capital, dan seterusnya.

Sayapun mencoba melakukan hal yang sama, namun saya tidak kenal siapa-siapa saya datang ke orang satu-satunya yang mempunyai orang yaitu Bos dimana tempat saya bekerja dulu. Beliau kemudian berbaik hati memperkenalkan saya kepada teman-teman beliau dan saya bersama Co Founder saya keduanya bekerja di perusahaan tempat saya bekerja tersebut. Berusaha melakukan pitching atau mencari pemodal.

Dua tahun lamanya disetiap kesempatan kami berusaha mencari orang yang bisa yakin terhadap Tokopedia, namun kami gagal. Jika saya simpulkan penyebab kami gagal, saat itu orang-orang bertanya tentang 5 hal.

PERTAMA: William Tanuwijaya bisa tidak kamu sebutkan satu saja orang Indonesia yang berhasil sukses atau menjadi kaya Raya karena mereka bisnis teknologi atau internet. Indonesia kekurangan rool modal di Amerika mereka begitu banyak rool modal yang berhasil karena bisnis teknologi. Di Indonesia sayangnya 10 tahun yang lalu hal tersebut belum terjadi. Lantas jika tidak ada orang yang berhasil kenapa kamu PEDE banget bisa menjadi orang pertama yang berhasil, nah ini yang menjadi masalah track record sola rool modal.

KEDUA: Mereka mengatakan Indonesia ini merupakan negara pasar yang begitu luas begitu menjanjikan, 250 juta penduduk, jika kamu membuktikan bahwa Indonesia butuh yang namanya Tokopedia Indonesia butuh yang namanya Marketplace maka raksasa global akan mampu masuk kepada Indonesia. Kamu tidak berusaha membuat Inovasi yang baru, kamu ingin membangun IB versi Indonesia, Alibaba versi Indonesia, Rakuten Versi Indonesia jika ternyata orang butuh bagaimana kamu akan menghadapi IB masuk ke Indonesia, Rakuten masuk Indonesia, Alibaba masuk ke Indonesia, jadi ketakutan akan kompetensi Global kemudian menjadi momok begitu menakutkan sehingga sulit untuk mencari kepercayaan dari pemodal.

Jadi dua pertanyaan tersebut adalah tentang industrinya tidak punya rekam jejak, karena industrinya tidak mempunyai rekam jejak, maka 3 pertanyaan selanjutnya adalah tentang rekam jejak pendiri perusahaan atau calon pendiri perusahaannya mereka umumnya bertanya William Tanuwijaya kamu berasal dari keluarga mana, di Indonesia jika kamu datang dari keluarga yang terpandang maka mungkin harapan mereka jika Tokopedia gagal ada yang menjamin.

Tapi kedua orang tua saya kampung halaman saya waktu itu, ibu saya hanya merupakan ibu rumah tangga. Ayah saya berhenti bekerja ketika saya kuliah karena jatuh sakit. Jadi saya satu-satunya tulang punggung keluarga. Jadi tidak akan ada yang menjamin jika gagal, mereka kemudian bertanya kamu lulusan universitas mana.

Mungkin harapan mereka jika saya kembali dari Amerika kuliah di Ifilie, harvard university, MIT, mungkin saya mempunyai kesempatan lebih besar ketimbang berhadapan dengan persaingan Global. Namun sebagai operator warnet di kelas malam, menganggap saya ini lulusan Warnet, kemudian mereka juga bertanya tentang apa pengalaman bisnis kamu sebelumnya, pernah tidak kamu membangun bisnis sebelumnya.

Sebenarnya saya tidak pernah bermimpi menjadi pengusaha melihat ada kesempatan, ada masalah besar di Masyarakat seharusnya bisa dijadikan solusi dengan adanya teknologi. Karena faktor-faktor itulah wajar kami gagal. Namun satu kesempatan yang mengubah hidup saya adalah ketika saya bertemu dengan seorang calon pemodal dan dia mengatakan pada saya seperti ini.

“William Tanuwijaya kamu tuh masih muda, dan masa muda itu cuman bisa kamu alami sekali dalam hidupmu, jadi jangan sia-siakan masa muda kamu, kamu bermimpi itu bahwa terlalu muluk-muluk rool model kamu semuanya dari Silicon Valley (Amerika). Mereka itu adalah orang-orang yang lahir spesial, kamu itu tidak spesial, jadi jangan sia-siakan masa muda kamu”.

Ini menjadi sebuah tamparan buat saya dan di titik itulah saya ketemu tujuan hidup saya, buat saya perjalanan membangun Tokopedia saya belajar semangat tentang bambu runcing, semangat bambu runcing bagi diri saya ada 3 aspek.

Yang PERTAMA adalah tentang keberanian, dititik itulah saya mendapatkan keberanian, karena saya berkaca balik 2 tahun perjalanan saya mencoba membangun Tokopedia hal yang saya ingin menyelesaikan masalah kepercayaan, tapi saya ternyata belajar ketika saya sendiri ingin membangun bisnis, saya belajar membangun bisnis ini adalah membangun sebuah kepercayaan. Dan sayangnya kepercayaan itu selalu dinilai dari rekam jejak seseorang, dan dititik itu saya mempunyai keberanian, karena saya percaya bahwa masa lalu itu sebuah sesuatu yang tidak bisa diubah. Tapi masa depan harusnya ada ditangan kita sendiri.

Dititik itulah saya mempunyai keberanian untuk percaya diri kami sendiri bahwa ketika tidak ada orang yang percaya kepada kami, dititik itu saya mempunyai keberanian untuk mengambil seluruh kegagalan tersebut dan dijadikan tujuan hidup, karena dititik itulah saya menyadari jika saya bisa mendirikan Tokopedia maka Tokopedia akan membantu generasi berikutnya siapa saja yang ingin memulai bisnis mereka bisa memulai bisnis dengan gratis menjangkau seluruh masyarakat di Indonesia bahkan didunia.

Dan jika pribadi saya berhasil minimal ke depannya ada rool model generasi selanjutnya tidak akan ada lagi yang bertanya tentang 5 pertanyaan tadi yang ditanyakan kepada saya. Tapi tentu keberanian saja tidak akan membawa saya kemana-mana.

Model dari semangat bambu runcing adalah tentang kegigihan, 2 tahun lamanya kami berjuang akhirnya bos saya menjadi pemodal pertama dan hal yang pertama saya lakukan ketika bisa mendirikan Tokopedia dengan kembali ke kampus dimana saya kuliah.

Karena saya percaya membangun sebuah perusahaan teknologi adalah tentang manusianya, saya datang ke kampus saya, dan bertanya bagaimana saya bisa merekrut orang-orang terbaik putra putri dari kampus ini.

Maka dari saran kampus dimana saya kuliah dulu untuk mendirikan Stan bersama CO Founder saya hanya bertahan dua hari saja, namun tidak ada satupun mahasiswa yang mendaftar atau Apply. Padahal didepan saya ada satu bud salah satu dari bank terbesar di Indonesia ada ribuan Mahasiswa apply. Yang berdiri disana adalah Bud dari Sales Promotion Girls, saya dan Co Founder saya adalah pendiri perusahaannya berusaha menjual mimpi kami namun tidak ada satupun yang percaya kepada kami.

Dan dititik itulah saya percaya belajar bahwa Indonesia memang bukan Silicon Valley, saya berusaha menempatkan posisi saya kepada mahasiswa dan mahasiswi yang baru lulus. Bahwa mereka bekerja di perusahaan yang sudah mapan atau bekerja diperusahaan yang bahkan belum jelas masa depannya itu adalah pilihan yang sangat jelas, kita ini bangsa yang belum berani mengambil resiko, maka saya belajar dari titik ini saya harus keluar dari zona nyaman saya.

Saya adalah pribadi yang amat pendiam, seorang yang sangat Introvert, buat saya berbicara di depan publik, merupakan siksaan yang luar biasa. Namun karena pengalaman itu saya menyadari bahwa mimpi itu tidak bisa di pendam, mimpi itu harus disebarkan dan sayapun mulai berbagi pengalaman membangun bisnis kegagalan kampus saya di skala kecil dan pelan-pelan ada mahasiswa yang tertarik, kadang kita harus menunggu 1 hingga 2 tahun kemudian mereka bergabung.

Pada tahun pertama kami hanya memiliki karyawan 4 orang, tahun kelima kami hanya memiliki 80 orang, saat ini Tokopedia sudah memiliki 1.100 team yang bergabung dan ini adalah putra putri terbaik Indonesia. Sebagian dari mereka bahkan memilih pulang dari Amerika sudah bekerja di perusahaan BlackBerry dan seterusnya, dan mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan memutuskan berkarya di Indonesia bersama Tokopedia.

Semangat KETIGA dari bambu runcing adalah HARAPAN, pahlawan kemerdekaan Indonesia membawa kemerdekaan Indonesia bahkan hanya dengan modal bambu runcing tapi tentunya mereka tidak hanya modal nekat atau berani atau gigih saja, alasan mereka berani mengobarkan nyawa mereka digaris terdepan perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah karena mereka mempunyai sebuah HARAPAN.

Harapan bahwa suatu hari Indonesia akan merdeka karena perjuangan mereka, dan saya termasuk orang yang beruntung karena saya menemukan tujuan hidup saya 10 tahun lalu, lebih tepatnya 8 tahun lalu. Dari proses seperti diatas saya berusaha meyakinkan kepercayaan pertama untuk Tokopedia dan saya menyadari bahwa ini harus menjadi tujuan hidup diri saya.

Pada akhir tahun 2014 Tokopedia mendapatkan pendanaan 100 juta USD $ dari Softbank Internet, dan juga mendapat kucuran dana dari Alibaba, Google dan Apple, diakhir tahun 2017 Tokopedia resmi menyandang Toko Online Unicorn dengan valuasi 1 Milliar USD $ atau berkisar 14 Triliun rupiah.

Kekayaan William Tanuwijaya

tokopedia

Kekayaan William Tanuwijaya kini mencapai angka 130 juta USD $ jika di rupiahkan berada dikisaran 1,8 Triliun. Tokopedia kini mengalami perkembangan signifikan, dengan menggandeng 4.659 merchant dengan total 44.785 anggota dengan nilai transaksi mencapai RP. 5.954 miliar.

Pendidikan William Tanuwijaya

william tanuwijaya

SD sampai SMA di Pematang Siantar, Sumatera.
Universitas Bina Nusantara, Teknik Informasi (1999-2003)
Harvard Kennedy School (2017-2017)