Beranda Tokoh Sayuti Melik: Sang Pengetik Teks Proklamasi Indonesia

Sayuti Melik: Sang Pengetik Teks Proklamasi Indonesia

Sayuti Melik
Image by: Nxenes Kadete

Kalimat.IDSayuti Melik atau nama lengkapnya Mohamad Ibnu Sayuti dicatat dalam sejarah Indonesia sebagai sang pengetik Naskah Teks Proklamasi Indonesia, ia lahir tanggal 22 November 1908 di Kabupaten Sleman Yogyakarta.

Ialah suami dari Soerastri Karma Trimurti merupakan seorang wartawati dan aktivis perempuan pada zaman setelah kemerdekaan Indonesia. S.K. Trimoerti lahir di Kabupaten Boyolali tanggal 11 Mei 1912 dan tutup usia umur 96 tahun di Jakarta bulan Mei 2008 silam.

Sayuti Melik lahir dari pasangan Abdul Mu’in atau biasa dikenal Partoprawito merupakan seorang kepala desa di Sleman Yogyakarta, ibunya bernama Sumilah, pendidikan Sayuti dimulai dari Sekolah Ongko Loro (Setingkat dengan SD) di desa Srowolan, sampai kelas 4 dan ia meneruskan sampai mendapatkan ijazah di Sleman.

Peran Sayuti Melik Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

mesin ketik sayuti melik

Rumah Bung Karno yang berada di kawasan Pegangsaan Timur Jakarta menjadi titik saksi proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Cetusan proklamasi kemerdekaan Indonesia ini menjadi titik awal indonesia terbebasnya dari belenggu penjajahan.

Suasana haru terjadi saat Bung Karno membacakan teks proklamasi, dari awal teks proklamasi ini merupakan beberapa tulisan tangan hasil diskusi antara Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Suebardjo hingga kemudian di ketik ulang oleh Sayuti Melik.

Siapakah Sayuti Melik, mungkin sebagian orang tidak terlalu mengenal beliau, ia adalah tokoh dibalik penyempurna teks proklamasi, semangat nasionalisme ini turun dari ayahanda-nya, pada tahun 1920 ia belajar mengenai nasionalisme di Solo hingga muncul keinginan menentang penjajahan yang terjadi di Indonesia.

Beberapa karya tulisan Sayuti pernah membuatnya ditahan oleh kolonial Belanda, pada tahun 1926 Melik dituduh karena membantu jalannya PKI, Boven Digul menjadi rumah dimana beliau ditahan dan disekap oleh Belanda kala itu.

Pada tahun 1938 Sayuti menikahi gadis bernama SK Trimurti yang merupakan wartawati, beliau berdua mendirikan Koran Pesat di Semarang, Sayuti dan Trimurti pun keluar masuk penjara karena memberitakan melalui korannya pada masa penjajahan Jepang di Indonesia.

Menjelang kemerdekaan Indonesia Sayuti Melik tercatat sebgai anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), setelah mendengar Jepang kalah dari sekutu, pada tanggal 16 Agustus 1945, Sayuti Melik, Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana dan para pemuda lainnya membawa Soekarno dan Hatta agar segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Pada akhirnya Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok didesak untuk mengambil tindakan sebelum semuanya terlambat. Desakan ini terjadi di rumah Laksamana Muda Maeda yang menjadi rumah penyusunan naskah teks Proklamasi.

Setelah teks Proklamasi dibuat, Sayuti mengusulkan teks proklamasi agar segera ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta, maka setelah itu ia mengubah dan mengetik naskah tersebut hingga sempurna, dengan kalimat awalnya, “Wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”.

Sayuti Melik menjadi Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pasca kemerdekaan, Sayuti juga tercatat menjadi anggota MPRS dan DPR-GR. Namun ketika pengangkatan Soekarno menjadi Presiden seumur hidup Sayuti menolaknya.

Pada masa ORBA (Orde Baru) Melik bergabung dengan Partai Golongan Karya (GOLKAR) dan menjadi anggota MPR/DPR pada era tahun 1971 hingga 1977. Sayuti pernah menerimah penghargaan Bintang Mahaputra Tingkat V pada tahun 1961 dari Presiden Seokarno, dan Bintang Mahaputra Adipradana II dari Presiden Soeharto pada tahun 1973.

Setelah memperoleh kemerdekaan Sayuti mendapatkan kebebasan tahanan di penjara Ambrawa tahun 1945. Setelah dinyatakan bebas Sayuti pulang ke kota Semarang. Dikota ini Sayuti menerima surat yang dikirim oleh Soekarno dan Hatta selaku selaku ketua dan wakil ketua PPKI. Surat ini berisi ajakan agar ia segera berangkat ke Jakarta untuk membantu tokoh-tokoh lainnya dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Ketika sampai di Jakarta Sayuti tidak bisa langsung bertemu dengan Soekarno dan Hatta, karena ia sedang berada di Saigon untuk menghadiri pertemuan dengan Jendral Terauchi. Ia baru bisa berdiskusi dengan Seokarno-Hatta pada tanggal 15 Agustus 1945, di kediaman Soekarno (Bung Karno) Jalan Pegangsaan Timur Jakarta.

Sayuti mengeluarkan pendapatnya pada bagian akhir teks proklamasi, yang disusun dirumah Laksamana Muda Maeda, ia mengusulkan naskah proklamasi agar tetap ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta, ia mengetahui jika ada tanda tangan kedua tokoh ini, maka semua pihak pasti akan menerima yang hadir dalam rapat.

Setelah disepakati oleh semua pihak yang hadir pada saat itu, rapat penyusunan tersebut kemudian Soekarno memerintahkan Sayuti untuk mengetik ulang naskah tersebut. Sayuti melakukan perubahan pada kalimat. “Wakil-wakil bangsa Indonesia” yang ada pada naskah hasil tulisan Sukarno menjadi “Atas nama Bangsa Indonesia” kemudian ditambahkan kata “SoekarnoHatta”. Naskah hasil ketikan Sayuti Melik tersebut yang kemudian menjadi naskah proklamasi resmi dan dibacakan pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur No. 56 oleh Sukarno.

Sayuti Melik Sebagai Seorang Jurnalis

sayuti melik

Tahun 1923 diskusi antara pembicaraan politik yang sering ia ikuti, nampaknya sudah menjadi hal yang hampir tidak mungkin bisa ia lakukan, karena Belanda pada saat itu melarang kegiatan semacam itu, maka di sinilah keluar semangat perlawanan dan menulis surat kabar.

Tidak hanya menulis surat kabar saja, Sayuti juga banyak menulis kritik pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada beberapa surat kabar yang diedarkannya dibeberapa kota. Beberapa tulisan pertamanya dapat ditemukan di surat kabar “Islam Bergerak yang terbit di Solo, Sinar Hindia terbit di Semarang dan Penggugah yang terbit di Yogyakarta.” Tahun 1939 Melik ditahan oleh Kolonial Belanda karena dia mendirikan Kantor Koran Pesat di Semarang, pendirian kantor di Semarang ini merupakan ide gagasan beliau dan istrinya Trimurti.

Pada Maret tahun 1942 Jepang masuk ke Indonesia pihak Jepang memutuskan untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia. Kerjasama itu dilaksanakan cukup baik dalam lingkup pemerintahan maupun per-suratkabaran. Hasilnya surat kabar Pesat harus dibubarkan dan mendirikan surat kabar baru dengan nama Sinar Baru.

Aktivitas wartawan Sayuti tetap berlanjut ketika Indonesia memperoleh kemerdekaan pada 1 Oktober 1953, harian Suluh Indonesia didirkan sebagai media propaganda atau penyebaran program serta informasi PNI (Partai Nasional Indonesia).

Suluh Indonesia terbit setelah ketua PNI (Partai Nasional Indonesia) ketika itu dijabat oleh Djojokusumo meminta kepada para anggota partai seperti Mohammad Arsjad, M. Tabrani, M.A. Pane dan Rufinus Tobing untuk membuat sebuah surat kabar. Setelah Sulu Indonesia berdiri, tokoh dipercaya sebagai ketua redaksi adalah Sayuti Melik.

Melik tetap terlibat dalam organisasi penting setelah Indonesia merdeka, tepatnya lagi setelah hari proklamasi indonesia yakni pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno melakukan penambahan anggota PPKI dan sidang ini dilakukan dikantor Sanyo, Pejambon 1.

Terdapat 6 anggota baru resmi bergabung dalam anggota PPKI yakni, RAA. Wiranatakusumah, Ki Hajar Dewantara, Mr. Kasman Singodimejo, Sayuti Melik, Mr. Iwa Kusumasumantri, dan Mr. Subardjo. Sayuti juga masuk dalam anggota parta politik bersama 4 tokoh lainnya yakni, Iwa Kusumasumantri, Mr. Sudjono, Wikana dan Mr. A.A Maramis, ia ditetapkan sebagai pengurus harian PNI Pada 27 Agustus 1945.

Gambar Sayuti Melik

sayuti melik

sayuti melik

sayuti melik

sayuti melik

sayuti melik

Komentar disini
error: