Perang Yarmuk: Strategi Umat Islam Merebut Damaskus

Perang Yarmuk

Kalimat.ID – Perang Yarmuk terjadi tahun 13 Hijriah, hal ini terjadi sebelum penaklukan Damaskus atau biasa disebut juga dengan Damsyik salah satu Kota besar Suriah, dan merupakan kota tertua di dunia.

Perang Yarmuk juga bisa disebut dengan (Battle of Hieromyax), hal ini di akui sebagai perang paling penting dalam sejarah oleh sejarawan dari barat, Perang Yarmuk adalah perang antara Muslim Arab dengan Kekasisaran Romawi (Bizantium) kala itu ditahun 636 masehi.

Pertempuran Yarmuk ini terjadi setelah 4 tahun wafatnya Nabi Besar Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW), dan dilanjutkan kepemimpinan oleh Abu Bakar As Siddiq, untuk memimpin umat muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Pahlawan Perang Yarmuk

– Khalid Bin Walid (Panglima perang Yarmuk dan Ahli Strategi Militer)
– Yazid Bin Muawiyah Bin Abi Sufyan
– Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah
– Amr bin Al-Ash
– Syurahbil bin Hasanah di Ajnadayn

Latar Belakang Perang Yarmuk

latar belakang perang yarmuk

Perang Yarmuk dilatarbelakangi oleh keinginan umat islam pada saat itu untuk menyebarluaskan agama islam di luar daerah Jazirah Arab, hal ini dikarenakan pada saat itu islam sudah lebih unggul, baik dari segi idiologi, dan juga agama islam adalah agama yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Hal ini dikarenakan posisi militer atau tentara perang islam sudah sangat kuat, dan musuh pasti akan kalah, karena didorongi semangat jihad fisabillah yang ada pada diri umat islam. Maka dengan ini umat islam kala itu tidak takut dengan namanya kematian, karena berperang di jalan agama Allah, sehingga dengan ini umat islam berpeluang untuk memenangkan pertempuran Yarmuk.

Khalid Bin Al-Walid membuka wilayah didaerah Irak dan Persia pada tahun 12 hijriah, hal ini mengundang perhatian pemerintahan pusat saat itu berada di Madinah, pada awal tahun 13 Hijariah mengumumkan program mobilisasi penjuru wilayah Syam dan membentuk laskar pasukan untuk membuka wilayah Syam dan merebut kekuasaan pemerintahan di sana.

Perhatian kaum muslim terhadap negeri Syam dimulai pada saat zaman Nabi Besar Muhammad SAW, pada saat itu beliau memerintahkan menulis surat untuk dikirimkan kepada raja Romawi Heraklius, dan didalam surat itu seruan untuk raja Heraklius dan para pengikutnya (rakyat) untuk memeluk agama islam.

Surat utusan ini dibawa oleh Dihya bin Khalifah Kalbi, surat ini sampai ketangan raja Heraklius saat itu sedang berada di negeri Syam yang hendak pulang ke Konstatinopel. Raja Heraklius pada saat itu di Syam sedang merayakan kemenangan atas orang-orang di persia dengan melakukan kunjungan ke Yerussalem, maka surat ini sampai kepada Raja Heraklius, dan isi surat Nabi Muhammad untuk raja Heraklius adalah.

Artinya: 

Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Heraklius, Raja Romawi. Salam atas orang yang mengikuti petunjuk. Amma Ba’du: aku ajak anda dengan ajaran Islam. Masuklah Islam agar anda selamat. Allah akan memberikan pahala bagimu dua kali lipat. Dan apabila kamu berpaling, maka sesungguhnya kamu akan menanggung dosa orang-orang.

Hai orang-orang yang dituruni Kitab! Marilah kepada satu perkataan yang sama (tengah) antara kami dan kamu. Yaitu bahwa kita tidak akan menyembah selain dari Allah, dan kita tidak akan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan yang satu tidak mengambil yang lain menjadi Tuhan selain dari Allah. Tetapi kalau anda tidak mau menurut katakanlah: “Akuilah olehmu bahwa kami ini adalah orang-orang Muslimin.”

Strategi Perang Yarmuk

strategi perang yarmuk

Degan izin Allah SWT, Abu Bakar As Siddiq mengutus Khalid Bin Walid, dia adalah utusan umat islam yang di tunjuk oleh Sahabat nabi Muhammad Abu Bakar, ia diangkat jadi panglima perang dan ahli strategi militer.

Hal ini karena kemampuan beliau dalam menghancurkan benteng-benteng kekuasaan Persia dan Romawi dalam hitungan singkat atas izin Allah, padahal dua kerajaan ini adalah kerajaan termasyhur pada jaman itu, berkat keahlian militer yang dimiliki Khalid Bin Walid akhirnya islam bisa mencapai negeri Iraq dan Syam dengan penuh gemilang.

Dengan keahliannya sampai Abu Bakar As Siddiq memuji kehebatan Khalid “Demi Allah, orang-orang Romawi akan lupa dengan tipu daya setan karena (kedatangan) Khalid bin al-Walid”. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu juga mengatakan, “Para wanita tidak akan mampu lagi melahirkan seseorang seperti Khalid”.

Dengan hal ini orang mengenal Khalid dengan sebutan Saifullah (Pedang) Allah, sebutan ini bermula saat Nabi Muhammad menyebutnya demikian dihari keislamannya. “Engkau adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang Dia hunuskan kepada orang orang musyrik”.

Sebelum berperang, pasukan dari Khalid Bin Walid bertemu dengan pasukan Yazid bin Abi Sufyan, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Amr bin al-Ash, dan Syurahbil bin Hasnah di Ajnadayn. Kemudian terjadi diskusi, Khalid mengatakan bahwa pasukan musuh saat itu berjumlah 240.000 ribu orang, sedangkan pasukan kaum muslimin hanya 46.000 ribu saja.

“كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Betapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS:Al-Baqarah | Ayat: 249).”

Tidak ada sejarah perang hanya dimenangkan dari banyaknya jumlah pasukan, tapi kemenangan hanya akan diraih kepada mereka yang beriman kepada yang memerintahkannya, dengan menguatkan niat dan strategi untuk persiapan perang.

Setelah memahami gagasan dari panglima perang, dan mengetahui rahasia bahwa pasukan Romawi berada dibawah satu komando Theodoric, dengan ini Khalid Bin Walid memantapkan pilihan dengan menyatukan umat islam dibawah alih komando dan strateginya.

Hal ini juga mencegah setan untuk memecah belah pasukan karena banyaknya pemimpin dalam peperangan. Namun pada hari pertama saat perang terjadi perang dipimpin langsung oleh Khalid Bin Walid, dan hari selanjutnya perang di pimpin oleh panglima lainnya untuk memimpin perang pada pasukan.

Dengan ini Khalid membagi pasukannya menjadi 46 kelompok pasukan batalyon, dimana pasukan ini terdiri dari 1.000 pasukan dan dipimpin oleh seseorang yang kuat dan tangguh diantara pasukan mereka. Pengelompokan pasukan pada sayap kanan dan sayap kiri.

Pasukan Kanan: Jantung pasukan ini terdiri dari 15 batalyon yang dipimpin oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, sedangkan pada pasukan sayap kanan juga terdiri dari 15 pasukan, yang dipimpin oleh Amr Bin Al-Ash, dan Syurahbil bin Hasnah dijadikan sebagai wakil pasukan perang.

Pasukan Kiri: pasukan sayap kiri terdiri dari 15 batalyon pasukan yang dipimpin oleh Yazid bin Abi Sufyan, dan sisanya berada di garis belakang, dan pasukan ini dizinkan untuk bergerak bebas, gimana keadaan kondisi perang, dan batalyon terakhir dipimpin oleh Ikrimah Bin Abi Jahl, dan untuk sementara itu Khalid sebagai panglima perang, berada di jantung pasukan, dengan memimpin komandan pasukan lainnya di posisi tersebut, setelah pasukan tertata sesuai strateginya, beliau menyemangati perang untuk berjihad dan bersabar perang dalam menghadapi musuh.

Strategi Khalid Bin Walid dalam perang Yarmuk, menyusun dan memerintahkan pasukannya untuk menunggu pasukan Romawi dahulu untuk memulai peperangan. Khalid meng-instruksikan kepada pasukan, biarkan musuh masuk jauh hingga garis belakang pasukan, dan dibelakang itu mereka berhadapan langsung dengan pasukan berkuda umat islam, dan strategi ini memecah belah pasukan dari kaum Romawi, dan hal ini memudahkan kaum muslimin dalam melawan pasukan romawi.

Dalam taktik perang ini, Khalid melakukan difensif karena dibelakang mereka ada kota Madinah yang harus dilindungi, dan pasukan Romawi menyerang terlebih dahulu, mengingat mereka berada di lembah Yarmuk yang dikelilingi oleh 3 bukit, kaum muslimin pada saat itu menyeberangi sebuah sungai, hingga berada di sisi kanan pasukan Romawi, dan alhasil pasukan Romawi terkepung dibukit, dan sementara itu dihadapan mereka juga ada pasukan kaum muslimin dan keadaan mereka sudah terpuruk.

Pada tanggal 28 Jumadil Ula pada tahun 13 Hijriah, saat fajar, kaum muslimin memprovokasi kaum Romawi, dengan rencana Khalid, pasukan berkuda romawi masuk dalam garis depan perang pasukan umat islam, kejadian ini sesuai dengan rencana awal, dan tentara kaun Romawi ditebas oleh singa singa Allah, sehingga kejadian ini mereka kocar kacir menuju lembah, sungai dan jurang-jurang, sehingga dari mereka banyak terbunuh.

Kerugian pada perang yarmuk kaum muslimin sekitar 3.000 pasukan terluka, dan sedangkan dari kerugian musuh sudah tak terhitung. Seseorang dari pasukan Khalid mengatakan kerugian diderita oleh kaum Romawi sekitar 8.000 orang romawi mati dan diantarnya adalah Theodoric, saudara kandung dari Heracklius, lalu Khalid berkata “Segala puji bagi Allah, telah membela dan menolong hamba-hambanya yang beriman dalam berperang”.

Setelah Perang Yarmuk

Setelah berperang Khalid Bin Walid RA, mengutus mobile guard nya untuk mengejar sisa dari pasukan Romawi atau Bizantium, dan mereka berhasil ditemukan di dekat Damaskus Syria (Suriah), Khalid berhasil menyerang pasukan Romawi yang berhasil melarikan diri, diantaranya adalah Raja Armenia, Mahan dan Jendral tertinggi Romawi tewas dalam penyergapan yang dilakukan oleh Khalid, sisa pasukan melarikan diri dari dua arah, yakni arah utara dan sebelah pantai Mediterania di sisi arah barat, setelah perjanjian Damaskus akhirnya Khalid kembali ke Yarmuk, dan akhirnya Suriah jatuh ketangan kaum muslimin, dan Raja Heraklius dengan penuh kekecewaan dan sedih meninggalkan Antiokia menuju Konstatinopel, salah satu kota besar didunia.

Komentar disini