Perang Mu’tah: Kisah 3000 Pasukan Muslim melawan 200.000 Pasukan Romawi

Perang Mu'tah

Kalimat.ID – Perang Mu’tah – Pernahkah kalian mendengar sebuah cerita tentang seorang Musilm melawan seorang Romawi? Tentunya, bila kalian adalah seorang muslim yang senang dengan sejarah pasti akan mengenal salah satu cerita ini.

Dimana dulunya merupakan peperangan yang besar-besaran dalam sejarah Islam di Indonesia. Dalam peperangan ini terdiri dari dua kelompok yaitu Pasukan Muslim yang berjumlah 3000 orang ini melawan dengan pasukan Romawi yang jumlahnya hampir 200.000 orang.

Bisa dibayangkan, bila menurut logika kita ini tentunya mustahil perbandingannya cukup besar. Namun, inilah kenyataan sejarah perang mu’tah yang terjadi di jaman dulunya. Seorang Kaisar Heraclius inilah yang membawa 200.00 orang yang berasal dari berbagai kaum yaitu:

  • Nashara Romawi.
  • Nashara Arab di sekitaran dataran Syam.
  • Jajahan Romawi.

Perang Mu’tah ini terjadi sekitar tanggal 5 jumadil Awal pada tahun 8H atau sekitar tahun 629 Masehi. Pada kesemptan kali ini, saya akan menyajikan artikel yang membahas secara lengkap mengenai perang Mu’tah ini. Sehingga, kamu bisa menambah wawasan menjadi lebih luas dalam mengenal sejarah-sejarah Islam yang ada.

Mengenal Sejarah Perang Mu’tah dengan Lengkap dan Singkat

Dinamakan Perang Mu’tah karena peperangan ini terjadi di desa Balqa di Syam. Perang Mu’tah ini terjadi sekitar tahun 8H pada bulan Jumadal Ula atau juga disebut Ghazwatu Jaisyil umara yang mempunyai arti perang pasukan para pemimpin. Dimana dalam perang mu’tah ini sangatlah dasyat dan menyeramkan dalam sejarah Islam yang pernah ada.

Menurut sejarah perang Mu’tah terjadi karena pengaruh penolakan raja-raja di luar Jazirah Arab terhadap surat Rasulullah. Kemudian para perwalikan kembali dari penyampaian dakwah membuat Beliau segera menyiapkan pasukan untuk jihad di luar Jazirah Arab. Rasulullah kemudiian mengetahui berita yang beredar mengenai kerajaan Romawi dan Persi.

Romawi ini mempunyai perbatasan yang menempel dengan batas wilayah Rasulullah. Oleh karena itulah, Rasul menyelidiki tentang berita-berita tentang mereka. Bahwasannya Rasul mempunyai pandangan bahwa dakwah Islam akan tersebar luas dan banyak pada saat sudah keluar dari Jazirah Arab yang sehingga akan membuat seluruh manusia bisa mengetahuinya.

Oleb sebab itu Rasulullah ini juga melihat bahwa Syam merupakan jendel pertama dalam jalannya masuk dakwah. Pada jaman Yaman telah aman dengan ketundukkan penguasa bawahan Kisra ini terhadap dakwah Islam, maka beliau mulai berfikir untuk mengiri pasukan ke negeri Syam dalam memerangi mereka. Sekitar bulan Jumadil Ula pada tahun 8 H yaitu setelah perjanjian Hudaibiyyah dalam beberapa bulan ini Rasullullah telah menyiapkan 300 pasukan dari pahawan kaum Islam.

Salah satu komandan yang di angkat oleh Rasulullah yaitu Zaid BIN Haritsah dan berpesan bahwa apabila Zaid telah gugur, maka akan digantikan dengan Ja’far bin Abi Thalib. Dan apabila Ja’far juga mengalami keguguran, maka akan digantikan dengan Abdullah bin Ruwaahah yang menjadi pemimpin dalam pasukan.

Singkat cerita, Pasukan berangkat dan Khalid bin Walid juga ikut serta dengan mereka. Beliau telah masuk dalam agama Islam setelah perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah pun ikut mengantarkan mereka sampai tiba di luar Madinan dan sebelum pasukan berangkat, Rasulullah mempunyai beberapa pesan yaitu L

  • Jangan memerangi perempuan.
  • Jangan membunuh anak-anak.
  • Jangan membunuh orang buta.
  • Jangan membunuh yang masih bayi.
  • Jangan merobohkan rumah-rumah.
  • Jangan menebang pohon-pohon.

Setelah berpesan, kemudian menutup pembicaraan dengan memanjatkan doa bersma yang isinya :

“Semoga Allah selalu menemani kalian, mempertahankan kalian, dan mengembalikan kalian kepada kami dengan keadaan sehat wal’afiat”

Kemudian mereka berangkat, Para komandan menyusun sebuah strategi yang menerapkan perang kilat yakni membentuk sebuah kelompok dengan pasukan yang berasal dari Syam di bawah seorang komandan dari kesatuan mereka.

Pasalnya, hal tersebut merupakan kebiasaan Nabi dalam melakukan perang-perang melawan siapapun. Cara menyerang yang diterapkan yaitu menyerang musuh dengan se-cepat kilat yang kemudian menghilang.

Namun, pada saat telah tiba di Maan, pasukan Islam ini baru sadar bahwasannya Malik bin Zafilah ini telah mengumpulkan 100.000 tentara dari Kabilah-Kabilah yang berasal dari Arab. Sedangkan Hiraqlius ini mendatangkan pasukan dengan jumlah 100.000 orang juga. Dalam hal ini, tentunya didengar oleh pasukan Islam yang membuat mereka sangat terkejut mendengar berita ini.

Pasukan Islam yang tinggal Ma’an ini sampai memikirkan persoalan ini selama dua harian. Para pasukan Islam ini berfikir bahwa langkah apa yang harus dilakukan dalam menghadapi pasukan yang jumlahnya sekitar 200.000 orang ini. Akhirnya, ada sebuah pendapat untuk mengirimkan suar kabar kepada Rasulullah dan ada pula yang meminta pasukan tambahan pasukan dalama Islam.

Akan tetapi, hal tersebut berbeda dengan pendapat Abdullah bin Ruwahah yaitu berpendapat yang berkata:

“Hai kaum, demi Allah sesungguhnya yang kalian benci justru yang kalian cari yaitu Syahid. Kita keluar tidak memerangi manusia karena jumlah pasukan yang besar, Apabila tidak dengan kekuatan dan tidak juga dengan pasukan yang banyak. Kita tidak berperang kecuali dengan agama yang Allah muliakan kita dengannya. Marilah berangkat ! Sesungguhnya di tengah kita akan ada satu di antara dua kebaikan yaitu menang atau mati syahid.”

Dengan perkataan dari Abdullah bin Ruwahah ini membakar kembali semangat para Pasukan Islam. Sehingga kekuatan iman yang mendorong bertempur menjalar dan menembus jantung pasukan. Dimana mereka dipacu untuk melanjutkan sampai tiba di Desar Masyarif.

Desa Masyarif inilah pasukan Romawi bertemu dengan merka, kemudian mereka menyingkirkan Masyarif dari turun ke Mu’tah. di desa inilah para pasukan Islam ini membuat sebuah bentteng pertahanan. Selali ini tempat ini juga yang menjadi perang Mu’tah yang paling besar dan menyeramkan terjadi.

Pasukan Islam dan Romawi bertempur untuk saling mengalakan. Maut mengangakan mulutnya yang merah. Perang Mu’tah yang terdiri dari 3000 pasukan Islam adalah yang mencari syahid harus bertempur mati-matian melawah 200.000 orang dari pasukan kafir yang bersatu.

Api dalam perang mu’tah ini begitu bergelombang dan bergulung seperti gulungan-gulungan tungku api. Komandan tempur pasukan Islam Zaid bin Haritsah ini membawa bendera Nabi yang bergerak maju ke jantung pertahanan musuh. Ketika itu beliau melihat maut membayang dalam hadapannya, akan tetapi hal tersebut tidak menggentarkan tekad beliau dalam mencari syahid di jalan Allah SWT.

Zaid bin Haritsah ini terus menembus ke tengah pertahanan musuh dengan keberaniannya yang sungguh melampaui batas gambaran khayalan karena dia bertempur hanya mencari syahid saja. Sampai pada akhirnya sebatang tombak musuh bersil merobek tubuhnya. Zaid bin Haritsah ini tersungkur dengan bendera segera di ambil oleh Ja’far bin Abi Thalib.

Ja’far bin Abi Thalib merupakan pemuda tampan yang mempunyai keberanian yang luar biasa walaupun umurnya masih muda yaitu 33 tahun. Seluruh hidupnya ia serahkan dan pasrah hanya kepada Allah SWT.

Laki-laki yang gagaj merupakan adik Ali bin Abi Thalib ini berperang juga hanya semata-mata mencari syahid. Pada saat musuh telah mengepuh kudanya dan melukai tubuhnya, Ja’far Ali bin Abi Thalib ini semaki menggila maju ke tengah musuh dengan memukulkan pedang dengan memutar.

Tiba-tiba seorang tentang Romawi yang data memukul dan menyerang dari arah samping yang berhasil membelah tubuh Ja’far menjadi dua. Seteah melihat Ja’far telah gugur, Abdullah bin Ruwahah ini mengambil dan membawa maju dengan menaiki kuda.

Awalnya Abdullah ini ragu dalam langkahnya, akan tetapi selang beberapa waktu beliau melesat ke depan dan berperang sampai akhirnya terbunuh juga dengan pedang musuh.

Melihat Abdullah telah gugur ini, Bendera diambil oleh Tsabit bin Aqram dan berteriak dengan kata lantang yaitu:

“Hai kaum muslimin, pilihlah seorang komandan yang patut diantara kalian!”

Mendengarkan teriakan Tsabit ini, mereka memilih Khalid bin Walid untuk memegang bendera dan bergerah memutar sehingga berhasil merapatkan barisan pasukannya. Lalu, membawanya berhenti untuk bertahan sampai menjelang malam hari. Ketika malah hari dua pasukan saling menahan diri untuk tidak berperang sampai menjelang subuh.

Di sepertiga malam, setelah melihat musuh yang sangat besar dan pasukannya semakin lama kebanyakan yang gugur, Khalid ini mengambil keputusan untuk menarik mundur pasukannya dengan tidak berperang.

Dengan pertimbangan yang matang, Khalid ini membagi pasukannya dalam beberapa kesatuan kecil dan memerintahkan membuat asap dan keributan di waktu subuh. Hal tersebut untuk menimbulkan gambaran pada musuh bahwa pasukan Islam telah mendatangkan pasukan bantuan dari Nabi SAW.

Dengan taktik inilah musuh pasukan Romawi menjadi cemas dan mereka segera mengurungkan niatnya untuk menyerang pasukan Islam. Pasukan islam bergembira karena tanpa Khalid melanjutkan serangan, musuh sudah mengambil keputusan mundur dengan sendirinya. Dalam perang Mu’tah ini tidak ada yag mengalami kemenangan dan tidak ada pula yang mengalami kekalahan yaitu berhasil imbang.

Pelajaran dapat diambil dari Kisah Perang Mu’tah

Nah, tulah hasil dari kebijakan Khalid yang berhasil menghasilkan peperangan dengan hasil seri. Dari kisah cerita diatas kita bisa mengambil pelajaran dari perang mu’tah ini. Ada 5 pelajaran dari Kisah Perang Mu’tah yaitu:

  • Boleh mengangkat beberapa pemimpin dalam satu waktu dengan syarat tertentu dan memimpin secara berurutan.
  • Kaum muslimin mengangkat Khalid sebagia panglima perang merupakan dalil yang boleh ijtihad di masa hidup Rasusullah.
  • Keutamaan tiga pangliman diantaranya Zaid, Jafar, Abullah) dan keutamaan Khalid bin Walid yang mempunyai kebijakan sehingga menamai Saifullah atau Pedang Allah.
  • Rasulullah bersedih atas kematian ketiga panglimanya, menunjukkan rahmatnya kepada umat dan bahwa Rasul berusaha menentramkan jiwa untuk bersabar terhadap musibah. Karena hal ini lebih baik daripada yang tidak sedih dan tidak tersentuh oleh musibah sama sekali.
  • Hakikat hidup dan kemuliaan yang disingkap oleh Abdullah ini sesungguhnya kemeangan bukanlah karena kekuatan dan jumlah secara materi, melainkan agama dan ketaatan kepada Allah SWT.

Itulah kisah sejarah dari peperangan yang sudah saya sajikan di artikel yang mengenal “Sejarah Perang Mu’tah : Pasukan Islam 3000 orang melawan Pasukan Romawi 200.000”. Seperti yang sudah pada apa yang dikatan oleh Abdullah ini mengajarkan kepada kita untuk terus meningkatkan iman kepada Allah SWT. Karena kemenangan yang hakiki bukan yang menang dalam perang namun, semata-mata mencari syahid dari Allah SWT.

Sekian artikel dari saya yang membahas mengenai sejarah Islam khususnya dalam Perang Mu’tah ini semoga bisa menambah wawasan kamu dalam mengenal agama Islam. Selain itu menjadikan kamu semakin taat dan patuh serta menjauhi larangan-larangannya.

Karena kita hidup diciptakan dari Allah yang berasal dari tanah dan kemudian akan kembali pula di tanah pada masa kematian. Tunggu artikel-artikel lainnya yang membahas tentang sejarah-sejarah dan menarik lainnya hanya di Kalimat.ID !

Komentar disini