Perang Khaibar: Pertempuran Umat Muslim Melawan Yahudi Bani Nadhir

Kalimat.ID – Perang Khaibar merupakan pertempuran yang terjadi antara umat islam yang dipimpin langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melawan kaum Yahudi Bani Nadhir yang berada di Oasis Khaibar, kisaran 150 KM dari Madinah, Arab Saudi.

Penyebab pertempuran ini adalah dari Yahudi Bani Nadhir yang menimbulkan permusuhan kepada umat muslim, pertempuran ini diakhiri dengan menang-nya umat muslim yang dipimpin oleh Nabi Muhammad dengan berhasil memperoleh harta, senjata dan dukungan kabilah setempat.

Hanya berjarak beberapa hari saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beada di Madinah usai peristiwa perang Hudaibiyah, sekitar dua minggu lamanya Nabi memimpin sendiri militer menuju Khaibar, daerah ini jauhnya sejauh 3 hari perjalanan dari Madinah, Khaibar merupakan daerah subur yang menjadi benteng Yahudi Bani Nadhir di jazirah Arab.

Ringkasan Perang Khaibar

Pada Perang Khaibar kaum Yahudi Bani Nadhir tidak mempunyai kekuatan cukup untuk melawan umat muslim yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun mereka cerdas mereka mampu menyatukan musuh-musuh Nabi Muhammad dari berbagai Kabilah yang kuat. Bagi muslim yang berada di Madinah kaum Yahudi ini lebih berbahaya dibandingkan musuh-musuh lainnya, hal ini tergambar pada perang Khandaq.

Pekerjaan yang tidak mudah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyerbu ke jantung pertahanan kaum Yahudi Bani Nadhir, pasukan dari Romawi yang terkenal kuat pun tidak mampu menaklukkan benteng Khaibar yang memiliki sistem pertahanan berlapis.

Pada bulan Muharram tahun ke-7 Hijriah Nabi bersama para sahabat berjumlah 1400 orang yang berangkat dari perjanjian hudaibiyah (perang) menuju ke Khaibar. Para sahabat berangkat dengan penuh keyakinan kemenangan terhadap janji Allah, walaupun para sahabat tau Khaibar merupakan perkampungan Yahudi paling kuat dengan benteng berlapis dengan persenjataan serta kesiapan perang yang matang.

Nabi Muhammad dan para sahabat berjalan sembari bertahlil dan bertakbir, sehingga Nabi Muhammad melarang mereka dan memerintahkan agar merendahkan suara sebab Allah maha dekat bersama kalian, tidak tuli dan tidak jauh (Hadist Riwayat Bukharu: 4205).

Sebelum subuh fajar datang, kaum muslimin datang di halaman Khaibar, sedangkan dari kaum Yahudi tidak mengetahui kedatangan Nabi Muhammad beserta pada sahabatnya, ketika berangkat ketempat bekerja mereka kaum Yahudi Bani Nadhir ketakutan dan masuk dalam benteng pertahanan mereka. Sembari mereka berkata “Ini Muhammad beserta pasukan perangnya” dan Nabi Bersabda “Allahu Akbar, binasalah Khaibar. Sesungguhnya jika kami datang di tempat musuh maka hancurlah kaum tersebut.” (Hadist Bukhari dan Muslim).

Kaum muslimin berhasil mengepung benteng pertahanan kaum Yahudi Bani Nadhir, akan tetapi para sahabat yang membawa bendera perang tidak berhasil memasuki kawasan benteng kaum Yahudi Bani Nadhir. “Besok akan kuserahkan bendera perang kepada seseorang yang Allah dan Rasul-Nya mencintai dan dia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Allah akan memenangkan kaum muslimin lewat tangannya.” Maka para sahabat yang berjuang bangga mendengar kabar baik ini dari Nabi Muhammad SAW, hingga Umar RA berkata “Aku tidak pernah menginginkan kebesaran, kecuali pada perang Khaibar”.

Terjadilah pengepungan benteng-benteng Yahudi oleh umat Muslim yang dipimpin oleh Nabi, namun pahlawan dari Kaum Bani Nadhir bernama Marhab mengajak duel sahabat untuk perang tanding, sahabat Amir bin Akwa melawan Marhab dan mati syahid, hingga Ali RA melawan Marhab hingga membunuhnya dan hal ini membuat runtuh mental Yahudi Bani Nadhir.

Benteng Khaibar mempunyai 3 lapis pertahanan, masing-masing memiliki tiga benteng, jika kaum muslimin berhasil menguasai benteng pertama, Yahudi lari ke benteng kedua, hingga benteng demi benteng dikuasai oleh kaum muslimin.

Jumlah Orang Islam yang Terbunuh Pada Perang

Dalam perang Khaibar terbunuh puluhan kaum Yahudi Bani Nadhir, sedangkan para wanita dan anak anak kecil ditawan. Salah satunya adalah Shofiyah binti Huyai yang jatuh ditangan Dihyah AL-Kalbi lalu ia dibeli oleh Rasul, Nabi mengajar Shofiyah untuk memeluk agama islam, dan menikahinya dengan mahar memerdekakan dirinya, sedangkan dari kaum Muslimin yang meninggal hanya berjumlah belasan orang saja.

Kaum Yahudi tidak akan pernah berhenti dari buruknya terhadap Nabi dan kaum muslim, karena ini adalah prilaku mereka, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran “Mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak.” (QS. Ali Imron: 112).
Setelah kalah dari perang Khaibar kaum Yahudi bersikeras untuk membunuh Nabi Muhammad namun seua rencana itu gagal, seorang wanita dari Yahudi berperan andil dalam kasus pembunuhan ini, ia menghidangkan makanan kepada Rasul dan menyisipkan racun kedalam daging yang akan disantap oleh Rosul. Ketika Nabi hendak memakan daging itu lantas daging itu berucap bahwa ia sudah dicampuri oleh racun, ini merupakan sebuah mukjizat hanya ada pada Nabi Muhammad sebagaimana nabi Ibrahin bisa berbicara dengan bintang (semut).

Setelah kalah dalam perang Khaibar kaum Yahudi Bani Nadhir, Nabi Muhammad bermaksud untuk mengusir mereka dari Khaibar, akan tetapi disini ada sebuah perjanjian, dimana kaum Yahudi meminta kepada Rasul untuk mengelola pertanian dan peternakan dengan sistem bagi hasil, dan akhirnya kaum Yahudi di usir oleh Khalifah Umar karena beberapa kali mendapatkan kejahatan terhadap kaum muslimin.

Rasul lalu membagikan harta rampasan dari perang Khaibar kepada para sahabat yang ikut berjuang berjumlah 1.400 orang. Kemudian Rasul membagikan sebagian harta bekas perang kepada mereka, membagikan kepada Abu Hurairah dan beberapa dari suku Daus yang baru datang dalam keadaan islam. Semua kemenangan ini atas izin Allah dan keikhlasan para sahabat yang berjuang pada perang Khaibar.

Setelah Rosul dan para sahabat berhasil menguasai Khaibar maka Allah menanamkan rasa takut kepada Yahudi Fadak yang terletak sebelah utara Khaibar, mereka mengirim utusan untuk bertemu Rasul dan membuat sebuah perjanjian damai dan meyerahkan sebagian bumi Fadak kepada Nabi Muhammad dan umat muslim, dan Nabi menerima tawaran itu, karena ini termasuk rampasan perang (fa’i) namun diperoleh tanpa berperang.

Hikmah Perang Khaibar

– Dalam peperangan Khaibar nabi Muhammad melarang dan mengharamkan makan daging keledai peliharaan
– Mukijzat Nabi dengan mengetahui bahwa daging ini beracun, meludai Ali RA dan sembuh karena terkena perang, meniup 3 kali pada bekas pukulan pedang yang terkena lutut Salah Bin Akwa RA lalu sakit itu hilang
– Boleh berdamai dengan kaum Yahudi dalam waktu yang ditentukan dan boleh berperang melawan Kafir pada bulan Haram.

Komentar disini
Hosting Unlimited Indonesia