Perang Hunain: Rangkuman Sejarah Lengkap dan Singkat

perang hunain

Kalimat.ID – Perang Hunain, merupakan perang antara Nabi Muhammad SAW bersama pengikutnya yang melawan kaum badui berasal dari suku Hawazin dan Tsaqif. Perang Hunain ini terjadi pada 8H atau sekitar 630 Masehi di sebuah salah satu jalan dari Mekkah ke Thalf. Kisah perang yang cukup besar dalam sejarah Islam yang ada.

Perang Hunain ini memmpunyai cerita yang menarik untuk saya bahas, karena dalam cerita tersebut di pemeran utamai oleh Nabi Muhammad SAW. Bahwa dalam perang tersebut pula kita bisa belajar sesuatu yang diambil hikmatnya. Selain itu, kita bisa mencontoh dan meneladani bagaimana perjuangan dari Nabi Muhammad SAW dalam memerangi kau Badui ini.

Nah, Pada Kesempatan kali ini saya akan mengulas dengan lengkap dan singkat mengenai “Mengenal Sejarah Perang Hunain Lengkap dengan Penjelasannya”. Untuk menambah wawasanmu dalam mengenal sejarah agama Islam yang ada, cocok bagi kamu yang ingin mengetahui salah satu kisah ini. Simak terus sampai selesai tentang sejarah perang Hunain dibawah ini !

Sejarah Perang Hunain Lengkap dan Singkat dengan Penjelasannya

Perang Hunain, Awal mulanya terjadi pada saat Hawazin mengetahui akan kesuksesan kaum muslimin dalam penaklukan Makkah. Hal tersebut membuat kaum Hawazin khawatir dengan para pasukan muslimin yang dipimpin Nabi Muhammad SAW, akan menyerang mereka serta menghancurkan rumah-rumah dan sekitarnya. Oleh sebab itulah, awal mula perang ini terjadi yang membuat Hawazin berfikir sebelum diserang maka mereka harus menyiapkan peperang terlebih dahulu.

Maluk bin Auf al-Nashriy ini mengumpulkan orang-orang Hawazin dan Tsaqif. Beliau berjalan dengan membawa pasukan sampai tiba di Wadi Authas yaitu sebuah lembah. Akan tetapi hal ini informasi ini diketahui sampai ke telinga pasukan muslimin setelah 15 hari dari menaklukan Makkah. Lalu, kaum muslimin segera bersiaga untuk menghadapi kabilah Hawazin dan Tsaqif ini.

Malik bin Auf al-Nashriy ini ternyata juga cukup cerdik, Karena beliau memutuskan untuk memerintahkan pasukannya meninggalkan Wadi Authas atau lembah tadi. yang kemudian menyingkir ke puncak Hunain di sebuah lorong sempit di lembah. Wadi Authas ini dibiarkan tanpa adanya pertahanan sama sekali.

Di tempat itulah Malik bin Auf al-Nashriy ini mengatur serta memberikan instruksi. Malik bin Auf al-Nashriy menginstruksikan jika kaum muslimin tiba di lembah, maka pasukannya harus langsung menyerang kaum muslimin secara dadakan yang sertentak serta memberikan pukulan yang mematikan. Serangan ini diharapkan akan mengacaukan barisan dari pasukan pemburu dan pemanan Muhammad SAW sehingga sebagian mereka dengan sebagian yang lain campur aduk dan saling memukul satu sama lain.

Pada tengah suasana saling pukul memukul, pasukan Malik bin Auf al-Nashriy ini akan melancarkan serangan gencar dan keras. Akhirnya para pasukan Hawazin melakukan strategi semacam ini serta menunggu kedatangan pasukan muslimin. Selang beberapa waktu para pasukan kaum muslimin ini telah tiba di lembah.

Rasulullah datang tidak sendirian, karena beliau ditemani dengan 12.000 pasukan dari pasukan yang baru masuk islam dan dari kaum Quraisy. Kaum Quraisy ini telah masuk Islam baru-baru ini. Sehingga pasukan mereka bertambah kuat dan dengan jumlah besar pengikutnya bergerak untuk berperang. Beberapa kemudian kaum muslimin sampai di lembah Hunain waktu sore hari, setelah itu berencana untuk istirahat disana hingga menjelang fajar.

Tetapi pada saat penghujung malam, pasukan bergerak dan sedangkan Rasulullah yang menunggang kuda putih ini berada di barisan akhir pasukan. Pasukan bergerak menuruni Wadi Auths dan tidak merasakan adanya ancaman yang berbahaya. Akan tetapi, di tengah keheningan tersebut tiba-tiba kabilah musuk menyerang dengan mendadak kepada mereka.

Malik bin Auf ini telah memberi komando bahwa kaum laki-laki untuk menyerang kaum muslimin dengan secara dadakan. Serangan Malik bin Auf ini dengan menerapkan strategi dengan serentak dan juga dadakan menyerang kaum muslimin. Sehingga Kaum muslimin terdesak dengan serangan-serangan panah dari kaum Hawazin dan Tsaqif.

Para kaum muslimin dibutakan dalam waktu fajar tidak merasakan apa-apa kecuali hujan anak panah dari segala arah. Kaum muslimin panik dan bingung karena serangan yang munculnya secara dadakan.Dalam perang Hunain ini membuat kaum muslimin mejadi kacau yang tak karuan.

Pasukan Muhammad SAW ini mengalami goncangan yang sangat berat, mereka mundur dalam posisi terus terserang dan meninggalkan medan tanpa menunggu dari komando siapapun. Pada saat itulah, kaum muslimin bingung akan keadaan yang terdesak dan membuat mereka semua menjadi ketakutan akan adanya perang hunain. Pada setiap kaum muslimin ini menjadi takut dengan kaum Hawazin dan Tsaqif.

Para kaum muslimin terpaksa lari meninggalkan Rasulullah tanpa menunggu komandonya untuk menyelamatkan dirinya. Sementara Rasulullah dibiarkan tertinggal. Karena dalam keadaan posisi terdesak itulah kaum muslimin melarikan diri dari perang hunain tersebut. Tidak ada yang tersisa dan tetap bertahan di medan kecuali Rasulullan dan Abbas serta sebagian kelompok kecil lainnya.

Sisa pasukan yang masih bertahan untuk menemani Rasulullah terus melakukan perlawanan. Para kaum muslimin tetap bertahan di tengah kepungan para pasukan kaum Hawazin. Rasulullah berdiri di tengah lingkaran kecil para sahabatnya dari kalangan Muhajirin dan Ansor serta Keluarga dari Rasulullah.

Di tengah penjagaan dengan ketat di tengah segelintri para sahatbatnya masih memberikan perlawanan sampil bertahan dari serangan musuh, Rasulullah memanggil kaum muslimin yang lain dengan berkata :

“Dimana orang-orang itu ?” Seru Rasulullah.

Namun, para kaum muslimin ini tidak satu pun yang mendengarkan panggilan beliau. Mereka juga tidak menoleh kepada Nabi karena goncang, takut dan negeri akan hantaman maut.

Apalagi melihat gabungan pasukan Hawazim dan Tsaqiif yang masih terus melempari kaum muslimin dengan lembaran maut yang sangat dahsyat sekali. Hal inilah yang membuat para pasukan muslimin menjadi kewalahan dengan serangan-serangan yang dilontarkan para pasukan Hawazin dan Tsaqif ini.

Mereka terus berlari dan mundur meninggalkan induk pasukan. Karena itu, apabila pasukan muslimin tidak mendengar panggilan dari Rasulullah dan tidak dapat memenuhinya. Akan tetapi hal tersebut membuat Nabi Muhammad dirajam dengan kepungan bahaya justru membicarakannya dengan komentar yang karikatural Dan juga bergembira menyambut atas bencana yang ditimpanya.

” Hari ini sihir Muhammad telah batal!” kata Kaldah bin Hambal dengan begitu sinisnya.

Hari ini aku (Syaibah bin Utsman) melihat pembalasan dendamku kepada Muhammad.” ucap Syaibah bin Utsman bin Thalhah, ” hari ini aku (Syaibah bin Utsman) benar-benar menghabisi Muhammad !”. “Kekalahan para pauskan muslimin hanya berhenti dibawah laut ini” kata Abu Sufyan.

Mereka yang mengatakan dengan kejamnya yaitu orang-orang yang berada dalam pasukan kaum muslimin. Mereka berasal dari orang yang barus masuk Islam di Mekkah. Kaum muslimin datang berperang bersama Rasulullah, akan tetapi kekalahan terlihat apa yang disembunyikan jiwa mereka.

Berbeda dengan niat ikhlas para sahabat Rasulullah yang juga sama ikut mlarikan diri untuk menyelamkan diri. Hal tersebut dikarenakan tidak ada cita-cita apapun dalam jiwa mereka dalam kerja mencari sesuatu dalam peperangan.

Posisi Rasulullah benar-benar sulit, pada saat itu merupakan waktu yang sangat sulit dan begitu dahsyatnya. Walaupun dalam kondisi yang sangat berat, Rasulullah memutuskan untuk tetap di medan peperangan dan melanjutkan terus maju ke medan perang sambil bertahan dari serangan-serangan kaum Hawazin. Orang-orang yang bersamanya yaitu pamannya diantaranya Abbas bin Abd al-Muththalib dan Abu Sufyan bin Harits bin Abd al-Muththalib. Abu Sufyan ini memegang tali kendali bagalnya dan berusaha bertahan.

Sementara untuk untuk Abbas bin Abd al-Muththalib ini memanggil-manggil dengan suaranya yang keras sekirannya terdengar oleh orang dari semua lorong. Abbas paman beliau ini berterikan karena supaya mereka segera kembali ke Induk pasukan. Yang diucapkan Abbas yaitu :

“Hai Kaum Ansor !” teruak Abbas Abd Muththalib, : Hai orang-orang yang ngobrol”.

Abbas selalu mengulangi seuannya sampai menggema suara dari dinding ke dinding lembah memantul dan mengirimkan gelombang suara yang sahut menyahut. Sayup-sayup, gema suara itu akhirnya terdengar oleh mereka yang sedang terpojok kena gempuran musuh. Mereka menjadi ingat Rasulullah.

Ingat pada jihad mereka, terlintas di benak kaum muslimin suatu gambaran akibat kekalahan karena serangan kaum musyrik dan akbit kemenangan syirik atas kaum Hawazin.

Akhirnya, mereka menyadari bahwa kekalhan perang ini akan membawa akibat kehancuran dari agama Islam dan seluruh kaum muslimin. Karena mereka berteriak dari segala arah dalam menyambut panggilan Abbas bin Muththalib. Kemudian seluruh pasukan muslimin kembali ke induk pasukan dan terjun ke lautan peperangan dan mengangatkan diri dengan api dalam keberanian yang tinggi.

Mereka berkumpul di seputar Rasulullah dengan jumlah yang semakin bertambah. Mereka memasuki medan laga dan meladeni perang tanding melawan musuh dan memanggang diri di tugku api peperangan. Melihat sambutan ini, Rasulullah bertambah tentang.

Kemudian Rasulullah mengambil segenggam pasir terus melemparkan ke wajah musuh seraya mengucapkan “Syaahatil Wujuuh yang berarti amat buruklah wajah-wajah (Kalian)!”. Kaum muslimin terus merangsek ke tengah medan dengan menganggap kematian di jalan Allah adat sebuah kenikmatan.

Perang Hunain ini semakin dahsyat sehingg Hawazin dan Tsaqin ini semakin yakin bahwa mereka berada di tengah-tengah kebinasaan Maka dari itu mereka pun lari untuk menyelamatkan diri dalam keadan kalah tanpa menungguu isyarat apapun. Harta benda dan perempuan mereka tinggalkan di belakang menjadi harta rampasan perang ghanimah kaum muslimin.

Pasukan kaum muslimin berusaha memburu mereka dan berhasil menawan mereka dalam jumlah yang cukup besar. Korban terbunuh dari pihat musuk juga besar. Pengejaran dihentikan pada saat mereka sampai di Wadi Authas yaitu sebuah lembah. Di lembah inilah kaum muslimin masih sempat menewaskan beberapa musuh dan menyerang sisa-sianya dengan keras.

Namun, komandan mereka yaitu Malik bin Auf ini berhasil melarikan diri ke Thaif dan berlindung disana. Dengan begini, maka Allah telah memenangkan kaum muslimin dengan kemenagan yang semakin menguatkan posisi mereka. Dalam hal ini Allah menurunkan firman-Nya yang artinya :

” Sesunggunya Allah telah menolong kalian ( hai para mukiminin di medan peperangan banyak, dan ingatlah perang Hunain yaitu waktu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu. Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-cerai.

Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman. Dan Allah menurunkan bala tentara yang kalian tidak melihatnya dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir. Dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang kafir” (QS. At-Taubah 25-26).

itulah artikel saya yang mengulas sejarah Islam pada jaman dulu yang saya ulas mengenai ” Rangkuman Sejarah Perang Hunain Lengkap dan Singkat “. Semoga dengan mengetahui perang hunain ini menjadikan kita semakin menjadi orang yang beriman dan bertawa yang kuat. Karena hanya Allah lah kita memohon dan meminta segala pertolongan.

Sekian dan semoga dapat diambil hikmat dari Sejarah Perang Hunain ini !