Beranda Pendidikan 8 Peninggalan Kerajaan Tarumanegara di Pulau Jawa

8 Peninggalan Kerajaan Tarumanegara di Pulau Jawa

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Kalimat.ID – Peninggalan kerajaan Tarumanegara, di abad ke 4 hingga dengan abad 7 Masehi, kerajaan Tarumanegara menguasai wilayah di bagian barat pulau Jawa. Nama Tarumanegara berasal dari dua kata, yaitu “Tarum” dan “Nagara”. Tarum berarti nama sungai yang sekarang ini dikenal dengan sebutan sungai Citarum, sedangkan Nagara berarti Kerajaan atau Negara.

Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan hindu tertua nomor dua di Indonesia setelah kerajaan Kutai. Kerajaan Tarumanegara disebut juga dengan kerajaan Tarum. Kerajaan ini memulai perekonomiannya dalam bidang peternakan dan pertanian. Masyarakat mengetahui kegiatan ekonomi tersebut dari penemuan sebuah prasasti yakni prasasti tugu.

Didalam prasasti tersebut berisi tentang adanya pembangunan saluran Gomati yang panjangnya 12 km atau 6112 tombak, dan pembangunannya dikerjakan selama 21 hari. Selain dua hal tadi, masyarakat tarum juga bekerja sebagai pedagang, bisa dilihat dari lokasinya yang ada didekat selat sunda.

Tercatat dalam sejarah kerajaan tarumanegara jika kejayaannya berada di pemerintahan Raja Purnawarman. Hal itu karena di masa pemerintahan raja Punawarman telah muncul siasat perluasan wilayah. Pada masa itu wilayahnya seluas wilayah Jawa Barat saat ini.

Bukan hanya itu saja, Raja Purnawarman juga telah diketahui menyusun pustaka. Beberapa diantaranya seperti peraturan angkatan perang, perundang-undang kerajaan, silsilah dinasti Warman hingga siasat perang.
Silsilah Kerajaan Tarumanegara

Dibawah ini silsilah yang pernah memimpin kerajaan Tarumanegara:

– Jayasingawarman (358 – 382)
– Dharmayawarman (382 – 395)
– Purnawarman (395 – 434)
– Wisnuwarman (434-455)
– Indrawarman (455-515)
– Candrawarman (515-535)
– Suryawarman (535 – 561)
– Sudhawarman (628-639)
– Hariwangsawarman (639-640)
– Nagajayawarman (640-666)
– Linggawarman (666-669)
– Kertawaman (561 – 628)

Sumber Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Prasasti merupakan peninggalan sejarah yang bisa menjadi bukti terkuat tentang keberadaan suatu kerajaan di wilayah tertentu. Beberapa benda peninggalan kerajaan Tarumanegara yang melegenda diantaranya:

1. Prasasti Ciaruteun

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Prasasti Ciaruteun
Image by: wikimedia.org

Letak
Benda ini ditemukan di tepi sungai ciaruteun dan tidak jauh lokasinya dari sungai cisadane. Prasasti ini bertempat di desa Ciaruteun Ilir yaitu di kecamatan cibungbulang, kabupaten bogor. Lebih tepatnya ada pada titik koordinat 6°31’23,6” LS dan 106°41’28,2” BT. Lokasi tersebut kira kira berjarak 12 km sebelah barat laut dari pusat Kota Bogor.

Bahan Pembuat
Prasasti Ciaruteun terbuat dari batu alam atau dari batu kali. Batu ini mempunyai berat kira-kira 8 kg dengan ukuran 200 cm * 150 cm.

Isi dan Sejarahnya
Sekitar tahun 1823 Prasasti Ciaruteun pernah terhanyut beberapa meter dikarenakan oleh derasnya aliran sungai dan dengan posisi bagian batu yang bertulis terbalik ke arah bawah. Sesudah hanyut pada tahun 1893 kemudian prasasti ini dikembalikan di tempat semulanya. Lalu pada tahun 1903 Prasasti Ciaruteun ini awalnya telah dikenal dengan sebutan prasasti Ciampea.

Prasasti ini mempunyai daya tarik luar biasa yakni terdapat pada lukisan laba-laba dan tapak kaki yang dipahatkan diatas hurufnya. Terdapat pula empat baris aksara Pallawa yang disusun menggunakan bahasa Sanskerta dan ditulis dalam bentuk puisi India melalui Irama anustubh.

Terjemahan bahasa dari Prasasti Ciaruteun:
“Ini merupakan sepasang telapak kaki seperti kaki Dewa Wisnu yang merupakan telapak kaki baginda sang Purnawarman. Yakni raja di negeri Taruma, raja yang begitu gagah berani di dunia.”

Berdasarkan isi dari prasasti tadi, bisa kita simpulkan bahwa prasasti ini dibuat saat masa pemerintahan raja Purnawarman. Pada waktu itu beliau telah memerintah di Kerajaan Tarumanegara. Raja Purnawarman juga ingin memperlihatkan pada rakyatnya bahwa dia ialah seorang raja yang sangat gagah berani di dunia.

Hal ini ditandai dengan bukti cap sepasang telapak kakinya yang seperti Dewa Wisnu. Perlu kalian ketahui bahwa di telapak kaki ini melambangkan dari kekuasaan Purnawarman atas daerah saat ditemukannya prasasti.

2. Prasasti Tugu

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Prasasti Tugu

Prasasti satu ini dinamakan Prasasti Tugu. Yakni prasasti yang menjadi peninggalan kerajaan Tarumanegara. Prasasti Tugu berisi cerita tentang adanya penggalian Sungai Candrabaga yang dilakukan Raja dirajaguru dan penggalian sungai Gomati oleh Purnawarman.

Perlu kalian ketahui bahwa penggalian dari sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari terjadinya bencana alam. Misalnya saja, banjir yang sering terjadi, dan kekeringan yang terjadi saat musim kemarau. Seperti pada pemerintahan Purnawarman.

Lokasi
Prasasti Tugu adalah salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang ditemukan di Kampung Batu tumbuh Desa tugu. Lebih tepatnya ada pada titik koordinat 0°06’34,05” BT dari jakarta dan 6°07’45,40”LS. Wilayah itu sekarang sudah menjadi bagian wilayah kelurahan di Tugu selatan, kecamatan Koja, Jakarta Utara.

Bahan
Untuk bahan nya batu Prasasti Tugu ini dipahat pada sebuah batu yang berbentuk bulat telur dengan ukuran kurang lebih 1 meter.

3. Prasasti Muara Cianten

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Prasasti Muara Cianten

Prasasti Muara Cianten merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara dan ditemukan oleh N.W. Hoepermans kurang lebih pada tahun 1864. Prasasti Ini ditemukan pertama kali di sekitar pasir Muara persawahan yang terletak di tepi sungai Cisadane yang lokasinya berdekatan dengan Muara Cianten.

Prasati muara cianten dulunya dikenal dengan nama prasasti pasir Muara sebab lokasinya yang sudah masuk ke wilayah Kampung Pasir Muara. Prasasti ini berisi sebuah pesan bahwa pada tahun 854 Masehi pemerintahan negara sudah dikembalikan pada kerajaan Sunda. Prasasti Muara Cianten dipahat dengan sebuah batu besar yang alami berukuran sekitar 2.70 x 1.40 x 140 m3.

4. Prasasti Cidanghiyang

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Prasasti Cidanghiyang
Image by: https://situsbudaya.id

Prasasti cidanghiyang yang ke empat ini dilaporkan ke dinas purbakala sekitar tahun 1947 oleh Toebagus Roesjan. Tetapi prasasti ini baru diteliti pada tahun 1954. Prasasti cidanghiyang bertuliskan beberapa bait kalimat puisi dan ditulis dengan huruf Pallawa berbahasa Sansekerta.

Puisi ini berisi tentang pujian serta pengagungan pada Raja Kerajaan Tarumanegara khususnya Raja Purnawarman. Lokasi keberadaan Prasasti Cidanghiyang yaitu di tepi sungai Cidanghiyang yang terletak di desa Lebak, Kecamatan Munjul.

Lokasi dan juga Bahan Pembuatan Prasasti

Lokasi peninggalan prasasti ini berada di suatu titik koordinat 0°55’40,54” BB dari jakarta dan 6°38,27’57”. Prasati Cidanghiyang ini dibentuk atau dipahatkan pada batu yang berbentuk alami dengan ukuran 3 x 2 x 2 meter.

5. Prasasti Jambu

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Prasasti Jambu

Prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara lainnya adalah Prasasti Jambu atau disebut juga dengan pasir kolengkak. Prasasti jambu ini telah ditemukan ada di perkebunan jambu. Prasasti tersebut berlokasi di Pasir Sikolengkak yaitu di sekitar wilayah Kampung Pasir Gintung, Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Dan lebih tepatnya prasasti jambu ini terletak pada titik koordinat 0°15’45,40” BB dari Jakarta dan 6°34’08,11”.

Menurut keterangan, prasasti ini ditemukan pertama kali pada tahun 1854. Penemunya adalah Yoolion Herdika Sava dengan Tryan Martin yang selanjutnya dilaporkan ke pihak Dinas Purbakala tahun 1947. Kemudian diteliti pertama kali tahun 1954.

Bahan Pembuat
Prasasti Jambu ini dipahatkan dengan batu yang berbentuk alami dari alam dan sisinya berukuran 2 sampai 3 meter.

6. Prasasti kebon kopi I

Prasasti kebon kopi I

Peninggalan prasasti yang berikutnya adalah Prasasti Kebon Kopi I. Alasan dinamai dengan Prasasti Kebon Kopi 1 yaitu untuk membedakan antara Prasasti Kebon Kopi I dan II. Prasasti ini merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang menampilkan bentuk ukiran tapak kaki gajah dan diperkirakan tunggangan dari Raja Purnawarman.

Lokasi Penemuan Prasasti

Prasasti ini dari Kebon Kopi I yaitu terletak di Kampung Muara dan termasuk wilayah Desa Ciaruteun Ilir. Prasasti Ini telah ditemukan pertama kali pada abad ke 19 yaitu saat dilakukan penebangan hutan untuk dijadikan lahan perkebunan kopi maka dari itu dinamai dengan Prasasti Kebon Kopi I.

Prasasti ini berlokasi di kawasan berhentinya atau pertemuan tiga sungai yaitu sungai Cisadane di bagian timur, sungai Cianten di bagian Barat, dan Sungai Ciaruteun di bagian Selatan.

Sekaligus juga Sungai Cianten yang bertemu pada Sungai Cisadane di bagian utara. Lokasi ini memiliki jarak kurang lebih 19 km ke arah barat laut dari pusat Kota Bogor yang menuju arah Ciampea.

Bahan Pembuat

Bahan pembuat Prasasti Kebon Kopi I dipahatkan pada batu datar dan dibagian atasnya berbahan andesit berwarna kecoklatan. Tinggi prasasti tersebut sekitar 62 cm dengan lebar 104 cm serta 164 cm. Pada permukaan batu telah dipahatkan bentuk sepasang telapak kaki gajah yang mengapit sebaris tulisan memakai huruf pallawa dengan bahasa sanskerta.

7. Prasasti Kebon Kopi II

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Prasasti kebon kopi II

Selain ada peninggalan Prasasti Kebon Kopi I, peninggalan Kerajaan Tarumanegara juga memiliki Prasasti Kebon Kopi II. Namun prasasti ini sudah hilang dicuri sekitar tahun 1940-an.

Menurut seorang pakar F.D.K Bosch yang sempat meneliti pada prasasti ini, prasasti kebon kopi II ditulis menggunakan bahasa melayu kuno yang berisi sebuah pernyataan “ Raja sunda telah menduduki kembali tahtanya”.

Lokasi penemuan

Prasasti Kebon Kopi II ini ditemukan tidak jauh dengan Prasasti Kebon Kopi I dengan jarak sekitar 1 km. Prasasti ini ditemukan di Kampung Pasir Muara dan lebih tepatnya di desa Ciaruteun Ilir sekitar abad ke 19.

8. Prasasti Pasir Awi

Prasasti terakhir sebagai peninggalan Kerajaan Tarumanegara ialah prasasti pasir Awi. Penemuan prasasti pasir awi pertama kalinya sekitar tahun 1864 oleh N.W. Hoepermans. Lokasi prasasti ini terletak di lereng Selatan sekitar bukit pasir Awi dengan ketinggian kira-kira 559 mdpl. Ada di kawasan hutan diperbukitan cipamingkis. Lebih tepatnya ada pada titik koordinat °10’37,29” BB di Jakarta 6°32’27,57”.

Bahan Pembuat

Prasasti pasir Awi ini dipahat gambar dahan, ranting dan dedaunan maupun buah-buahan. Gambar tersebut juga dipahat dengan gambar sepasang telapak kaki pada batu alam.

Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara

Keruntuhan kerajaan Tarumanegara berlangsung pada masa raja generasi 13 yakni Raja Tarusbawa. Hal ini karena tak adanya kepemimpinan. Raja yang di nobatkan telah memilih memimpin kerajaan kecil miliknya di hilir sungai Gomati. Adanya gempuran yang dilakukan oleh kerajaan lain terutama kerajaan Majapahit semakin membuat kerajaan ini terpuruk.

Namun pada masa kepemimpinan Sudawarman, kerajaan Tarumanegara ini juga sudah mulai mengalami kemunduran karena beberapa faktor. Salah satunya ialah perekonomian yang diberikan pada raja raja yang ada dibawahnya. Kemudian Sudawarman tak menguasai secara emosional dan juga tak menguasai persoalan yang ada di kerajaan Tarumanegara.

Dirinya dari kecil telah tinggal di kanci, yakni wilayah palawa dengan begitu, dirinya tak peduli terhadap masalah yang di alami oleh kerajaan tersebut.

Itulah beberapa pembahasan mengenai Prasasti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang Melegenda. Kita seharusnya sebagai rakyat indonesia sudah lebih mengenal peninggalan-peningalan sejarah dari bangsa kita. Jadi, kita harus menjaga kelestarian budaya ini.