7 Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai Secara Lengkap

Kalimat.ID – Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai – Apakah anda sudah mengetahui atau memahami segala sesuatu tentang kerajaan Samudra Pasai?

jika belum, saya telah menghadirkan sedikit ulasan dalam artikel ini mengenai sejarah, latar belakang, peninggalan kerajaan samudra pasai, masa kejayaan dll. Lebih lengkapnya mari kita simak penjelasannya secara lengkap dibawah ini.

Kerajaan Samudra Pasai yang berada di Aceh ini ternyata menjadi kerajaan Islam yang pertama di Indonesia. Kerajaan Samudra Pasai didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah ditemukannya sebuah makam raja-raja Pasai di kampung Geudong, Aceh Utara.

Makam ini ditemukan di dekat reruntuhan bangunan pusat kerajaan Samudera di desa Beuringin, kecamatan Samudera, sekitar 17 km di sebelah timur Lhokseumawe.

Di antara makam raja-raja tersebut, terdapat nama Sultan Malik al-Saleh yang merupakan raja pertama peninggalan kerajaan Samudra Pasai. sebelum masuk islam nama aslinya adalah Meurah Silu, dan setelah masuk islam namanya berubah menjadi Sultan Malik al-Saleh dan ia merupakan sultan Islam pertama di Indonesia. Berkuasa kurang lebih 29 tahun (1297 sampai 1326 M). Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peurlak, dengan raja pertamanya yaitu Sultan Malik al-Saleh.

Seorang pengembara Muslim dari Maghribi yaitu Ibnu Bathutah sempat mengunjungi peninggalan kerajaan Samudra Pasai tahun 1346 M. bahkan beliau juga bercerita saat ia berada di negara Cina kala itu melihat sebuah kapal Sultan Pasai yang ada di sana.

Memang kabar dari sumber-sumber Cina ada menyebutkan bahwa utusan Pasai secara rutin datang ke Cina untuk menyerahkan upeti. Informasi lain juga menyatakan bahwa, Sultan Pasai mengirimkan utusan ke Quilon, India Barat pada tahun 1282 M. Hal ini telah membuktikan bahwa Pasai memiliki relasi yang cukup luas dengan kerajaan luar.

Pada masa kejayaannya, Samudera Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan itu, dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, Siam, Arab, India, dan Persia.

Komoditas utama yang dijual adalah lada. Sebagai bandar perdagangan yang besar, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dengan dirham, uang ini digunakan secara resmi di kerajaan tersebut. Selain itu, Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam.

Seiring dengan perkembangan zaman, Samudera mengalami kemunduran, hingga ditaklukkan oleh Majapahit sekitar tahun 1360 M dan pada tahun 1524 M ditaklukkan oleh kerajaan Aceh. Akan tetapi peninggalan kerajaan Samudra Pasai sangat bermanfaat.

Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai memang salah satu dari kerajaan Islam yang pertama. Kerajaan Samudera Pasai juga dikenal dengan nama Kerajaan Samudera Darussalam atau Kesultanan Pasai. Kerajaan ini terletak di pesisir utara pulau Sumatera tepatnya di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara. Provinsi Aceh.

Kerajaan Samudera Pasai didirikan oleh Nazimudin Al-Kamil pada tahun 1267. Nazimudin Al-Kamil merupakan seorang laksmana angkatan laut dari Mesir sewaktu dinasti Fatimiyah berkuasa. Iaditugaskan untuk mengambil alih pelabuhan Kambayat di Gujarat pada tahun 1238 M.Setelah itu, ia mendirikan kerajaan Samudra Pasai untuk menguasai perdagangan Lada. Dinasti Fatimiyah merupakan dinasti yang beraliran paham Syiah, oleh sebab itu dinasti ini bisa dianggap bahwa pada waktu itu Kerajaan Samudra Pasai juga berpaham Syiah. Tetapi, pada saat ada ekspansi ke daerah Sampar Kanan dan Sampar Kiri sang laksamana Nazimudin Al-Kamil gugur.

Setelah keruntuhan dinasti Fatimiyah yang beraliran Syiah pada tahun 1284, dinasti Mamuluk yang bermadzhab Syafi’I berinisiatif mengambil alih kepemimpinan Kerajaan Samudra Pasai. Selain untuk menghilangkan pengaruh Syiah, penaklukan ini juga bertujuan untuk menguasai pasar rempah-rempah dan lada serta pelabuhan Pasai. Syekh Ismail bersama Fakir Muhammad menunaikan tugas tersebut.

Mereka akhirnya dapat merebut Samudra Pasai. Selanjutnya dinobatkanlah Marah Silu sebagai raja Kerajaan Samudera Pasai yang pertama oleh Syekh Ismail. Setelah Meurah Silu masuk Islam dia dinobatkan menjadi raja serta diberi gelar “Malik al Saleh” pada tahun 1285. Nama tersebut adalah gelar yang dipakai oleh pembangunan kerajaan Mamuluk yang pertama di Mesir yaitu “Al Malikus Shaleh Ayub”.

Struktur Pemerintahan Kerajaan Samudra Pasai

Sultan merupakan pemimpin tertinggi kerajaan yang biasanya memerintah secara turun temurun. Disamping itu terdapat terdapat pula beberapa jabatan lain, seperti Menteri Besar (Perdana Menteri atau Orang Kaya Besar), seorang Bendahara, seorang Komandan Militer atau Panglima Angkatan laut yang lebih dikenal dengan sebutan Laksamana, seorang Sekretaris Kerajaan, seorang Kepala Mahkamah Agama yang dinamakan Qadi, dan beberapa orang Syahbandar yang mengepalai dan mengawasi pedagang-pedagang asing di kota-kota pelabuhan yang berada di bawah pengaruh kerajaan itu. Biasanya para Syahbandar juga merupakan penghubung antara sultan dan pedagang-pedagang asing.

Selain itu menurut catatan M.Yunus Jamil, bahwa pejabat-pejabat Kerajaan Islam Samudera Pasai terdiri dari orang-orang yang alim serta bijaksana. Adapun nama-nama dan jabatan-jabatan mereka adalah sebagai berikut:

1. Seri Kaya Saiyid Ghiyasyuddin sebagai Perdana Menteri.
2. Saiyid Ali bin Ali Al Makaarani sebagai Syaikhul Islam.
3. Bawa Kayu Ali Hisamuddin Al Malabari sebagai Menteri Luar Negeri

Kehidupan Politik Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudra Pasai yang didirikan oleh Marah Silu bergelar Sultan Malik al- Saleh, sebagai raja islam pertama yang memerintah tahun 1285 – sampai 1297. Pada masa pemerintahannya, datang seorang musafir dari Venetia atau dikenal dengan Italia pada tahun 1292 yang bernama Marcopolo, melalui catatan perjalanan Marcopololah maka dapat diketahui bahwa raja Samudra Pasai bergelar Sultan.

Setelah Sultan Malik al-Saleh wafat, maka pemerintahannya digantikan oleh keturunannya yaitu Sultan Muhammad yang bergelar Sultan Malik al-Tahir I yang memerintah pada tahun 1297 sampai 1326. Pengganti dari Sultan Muhammad adalah Sultan Ahmad yang juga bergelar Sultan Malik al-Tahir II yang memeiliki masa jabatan pada tahun 1326 sampai 1348.

Pada masa itu pemerintahan Samudra Pasai berkembang pesat dan terus menjalin hubungan kerjasama dengan kerajaan-kerajaan Islam di India maupun Arab. Bahkan melalui catatan kunjungan Ibnu Batutah seorang utusan dari Sultan Delhi tahun 1345 dapat diketahui Samudra Pasai merupakan pelabuhan yang penting dan istananya disusun dan diatur India dan patihnya bergelar Amir.

Pada masa selanjutnya pemerintahan Samudra Pasai tidak banyak diketahui oleh orang karena pemerintahan Sultan Zaenal Abidin yang juga bergelar Sultan Malik al-Tahir III kurang begitu jelas. Menurut sejarah Melayu, kerajaan Samudra Pasai diserang oleh kerajaan Siam, dengan demikian karena tidak adanya data sejarah yang lengkap, maka runtuhnya Samudra Pasai tidak diketahui secara pasti.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Samudera Pasai

Berkat letaknya yang tergolong strategis ternyata mampu membuat kerajaan Samudra Pasai ini semakin berkembang bahkan mampu menjadi kerajaan Maritim. Dengan demikian Samudra Pasai menggantikan peranan kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka.Kerajaan Samudra Pasai memiliki pengaruh atas pelabuhan-pelabuhan penting di Pidie, Perlak, dan lain-lain.

Kerajaan ini mampu berkembang dengan pesat saat berada di bawah pimpinan Sultan Malik al-Tahir II. Hal itu juga sesuai dengan keterangan Ibnu Batulah.Komoditi perdagangan di Samudra yang penting adalah lada, kapurbarus dan emas. Dan untuk kepentingan perdagangan sudah dikenal uang sebagai alat tukar yaitu uang emas yang dinamakan Deureuham atau dirham.

Kehidupan Sosial Budaya Samudera Pasai

Telah disebutkan di atas tadi bahwa, Samudra Pasai merupakan kerajaan besar, pusat perdagangan dan tempat perkembangan agama Islam. Selain itu di kerajaan ini juga berkembang suatu kehidupan yang menghasilkan karya tulis yang baik.

Sekelompok minoritas berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh Islam, untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu dan kemudian disebut sebagai bahasa Jawi, dan hurufnya disebut Arab Jawi. Di antara karya tulis sekelompok minoritas tersebut adalah Hikayat Raja Pasai (HRP). Bagian awal teks ini diperkirakan ditulis sekitar 1360 M. Hikayat Raja Pasai menandai dimulainya perkembangan sastra Melayu klasik di bumi nusantara. Bahasa Melayu tersebut kemudian juga digunakan oleh Syaikh Abdurrauf al-Singkili untuk menulis buku-bukunya.

bersamaan dengan itu, juga berkembang sebuah ilmu yaitu ilmu tasawuf. Di antara banyak buku tasawuf,salah satu buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu adalah Durru al-Manzum, karya Maulana Abu Ishak. Bukuini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Makhdum Patakan, atas permintaan dari Sultan Malaka.

Masa Kejayaan Samudera Pasai

Dari silsilah raja-raja yang memerintah Samudera Pasai dapat diketahui bahwa kerajaan Samudera Pasai mencapai masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Al-Malik azh-Zhahir II atau di sekitar tahun 1332 sampai 1349 Masehi. Fakta ini juga dikuatkan oleh catatan Ibnu Batutah, seorang pengembara asal Maroko yang pernah singgah di Samudra Pasai pada tahun 1345 M.

Menurut catatan Ibnu Batutah, Sultan Al-Malik azh-Zhahir II adalah seorang pemimpin dengan semangat yang membara layaknya api yang berkobar. Ia mampu mengubah Samudera Pasai yang awalnya hanya sebuah pelabuhan persinggahan, menjadi pelabuhan terbesar dan pusat perdagangan Internasional yang selalu dikunjungi kapal-kapal besar dari seluruh penjuru dunia.

Masa Keruntuhan atau Kemunduran Kerajaan Samudra Pasai

Runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai ini diakibatkan oleh beberapa pengaruh internal dan eksternal. Factor internal kerajaan sebelum masa keruntuhan sering terlibat pertikaian antar keluarga kerajaan. Perebutan kekuasaan dan jabatan kepemimpinan kerap terjadi. Perang Saudara dan pemberontakan tak dapat di hindari. Bahkan Raja pada masa itu meminta bantuan kepada Raja Melaka untuk meredam pemberontakan.

Namun pada tahun 1511 Kerajaan Melaka jatuh ketangan Portugal. Sepuluh tahun kemudia tepatnya pada tahun 1521 Portugal menyerang Kerajaan Samudera Pasai dan runtuhlah kerajaan itu. Tetapi kerajaan Samudra Pasai masih meninggalkan bibit, sehingga tahun 1524 Kerajaan Samudera Pasai menjadi bagian dari Kesultanan Aceh. Dibawah ini kami sajikan faktor internal dan eksternal jemunduran kerajaan Samudra Pasai.

Faktor Interenal Kemunduran Kerajaan Samudra Pasai

1. Tidak Ada Pengganti Yang Cakap dan Terkenal Setelah Sultan Malik At Thahrir

Kerajaan Samudera Pasai mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Malik At Tahrir, sistem pemerintahan Samudera Pasai sudah teratur dengan baik, Samudera Pasai juga menjadi pusat perdagangan internasional. Pedagang-pedagang dari Asia, Afrika, China, dan Eropa terus berdatangan ke Samudera Pasai untuk membeli lada dan bahan komoditi lainnya.

Hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Pulau Jawa juga terjalin dengan erat. Setelah Sultan Malik At Tahrir wafat tidak ada penggantinya yang cakap dalam memimpin kerajaan Samudra Pasai, sehingga peran penyebaran agama Islam diambil alih oleh kerajaan Aceh.

2. Terjadi Perebutan Kekuasaan

Pada tahun 1349 Sultan Ahmad Bahian Syah malik al Tahir meninggal dunia dan digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Zainal Abidin Bahian Syah Malik al-Tahir. Bagaimana pemerintahan Sultan Zainal Abidin ini tidak banyak diketahui kejelasannya.

Ternyatamenjelang akhir abad ke-14 Samudra Pasai banyak dirundung suasana kekacauan karena terjadinya perebutan kekuasaan, hal tersebut terungkap dari berita-berita Cina.

Faktor Eksterenal Kemunduran Kerajaan Samudra Pasai

1. Serangan Dari Majapahit pada Tahun 1339

Mahapatih rupanya sedikit terusik mendengar kabar tentang kejayaan Kerajaan Samudera Pasai di seberang lautan sana. Majapahit sangat khawatir akan pesatnya perkembangan kemajuan Kerajaan Samudera Pasai. Oleh sebab itu kemudian Gajah Mada mempersiapkan rencana penyerangan Majapahit untuk menaklukkan kerajaan Samudera Pasai.

Desas-desus tentang serangan tentara Majapahit, yang menganut agama Hindu Syiwa, terhadap kerajaan Islam Samudera Pasai terdengar di kalangan rakyat Aceh. Ekspedisi Pamalayu armada perang Kerajaan Majapahit di bawah komando Mahapatih Gajah Mada memulai aksinya pada tahun 1350 dengan beberapa tahapan-tahapan.

2. Berdirinya Bandar Malaka yang Letaknya Lebih Strategis

Tercatatsejak abad 13 sampai awal abad 16, Samudera Pasai dikenal sebagai salah satu kota di wilayah Selat Malaka dengan bandar pelabuhan yang sangat besar dan sibuk. Samudra Pasai menjadi pusat perdagangan internasional dengan dengan komoditi lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama.

Kerajaan Samudera Pasai terletak di Pantai Timur Pulau Sumatera bagian utara berdekatan dengan jalur pelayaran internasional (Selat Malaka). Letak Kerajaan Samudera Pasai yang strategis ini menyongsong kreativitas mayarakat untuk terjun langsung ke dunia maritim. Kerajaan Samudera pasai juga mempersiapkan bandar – bandar yang digunakan untuk:
1) Menambah perbekalan pelayaran
2) Mengurus masalah perkapalan
3) Mengumpulkan barang dagangan yang akan diekspor
4) Menyimpan barang dagangan sebelum diantar ke beberapa daerah di Indonesia.

Setapi setelah kerajaan Samudra Pasai dikuasai oleh Kerajaan Malaka pusat perdagangan dipindahkan ke Bandar Malaka. Dengan beralihnya pusat perdagangan ke Bandar Malaka maka perekonomian di Bandar Malaka menjadi ramai karena letaknya yang lebih strategis dibanding bandar Samudra Pasai.

3. Serangan dari Portugis

Orang-orang Portugis memanfaatkan keadaan kerajaan Samudra Pasai yang sedang lemah dengan menyerang kerajaan Samudra Pasai hingga akhirnya kerajaan Samudra Pasai runtuh. Sebelumnya itu memang orang-orang Portugis telah menaklukan kerajaan Malaka, yang merupakan kerajaan yang sering membantu kerajaan Samudra Pasai dan menjalin hubungan kerjasama dengan kerajaan Samudra Pasai.

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Terdapat banyak peninggalan kerajaan Samudra Pasai yang dapat menjadi bukti keberadaan kerajaan ini dimasa silam. Peninggalan kerajaan Samudra Pasai tersebut antara lain lonceng Cakra Donya, hikayat raja raja Pasai, Dirham Pasai, stempel kerajaan, surat yang dikirim Sultan Zainal Abidin serta makam-makam kuno dari raja dan pembesar kerajaan. Mari simak penjelasannya dibawah ini.

1. Cakra Donya

Cakra Donya merupakan sebuah lonceng unik peninggalan Kerajaan Samudra Pasai yang diberikan oleh Kaisar China di pertengahan abad ke 15 Masehi. Lonceng yang dibuat pada tahun 1409 Masehi ini dibawa oleh Laksamana Cheng Ho dalam pelayarannya ke Nusantara dan diberikan kepada Raja Samudra Pasai saat itu sebagai lambang persahabatan dengan Kerajaan China.Cakra Donya dahulu diletakan di kompleks istana Sultan Aceh, tepatnya di dekat Masjid Raya Baiturrahman. Untuk menjaga kelestariannya, lonceng itu kemudian dipindahkan ke halaman Museum Aceh pada tahun 1915 Masehi.

2. Peninggalan kerajaan Samudra Pasai berupa makam

Peninggalan kerajaan Samudra Pasai berupa makam merupakan peninggalan tertua yang menjadi bukti awal perkiraan masuknya Islam pertama kali ke Indonesia. Ada banyak peninggalan makam yang dapat kita temukan sebagai bukti eksistensi kerajaan Islam pertama ini di masa silam, di antaranya :

a. Makam Sultan Malik Al-Shaleh
Makam Sultan Malik al-Shaleh terletak di Desa Beuringin, Kec Samudera letaknya kurang lebih 17km sebelah timur kota Lhokseumawe.

b. Makam Sultan Muhammad Malik Al- Zahir
Malik Al-Zahir adalah putera dari Malik Al- Saleh yang memimpin Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1287 sampai 1326M. Letak makamnya bersebelahan dengan makam ayahnya yaitu Malik Al-Saleh.

c. Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah
Makam ini adalah peninggalan dari Dinasti Abbasiyah dan beliau merupakan cucu dari khalifah Al-Muntasir. Teungku Sidi mempunyai jabatan sebagai Menteri Keuangan di samudra pasai. Makam beliau terletak di Gampong Kuta Krueng, batu nisannya terbuat dari marmer dihiasi kaligrafi.

d. Makam Teungku Peuet Ploh Peuet
Makam ini terletak di Gampong Beuringen Kec Samudera. Pada batu nisanmakam tersebut juga bertuliskan kaligrafi surat Ali Imran ayat 18.

e. Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah)
Ratu Al-Aqla Adalah puteri Sultan Muhammad Malikul Dhahir, Makam Ratu Al-Aqla terletak di Gampong Meunje Tujoh Keca Matangkuli.

3. Peninggalan kerajaan Samudra Pasai berupa Hikayat raja-raja Pasai

Hikayat raja-raja Pasai adalah karya sastra dalam bahasa Melayu yang menceritakan bagaimana kondisi kerajaan Islam Pertama di Indonesia ini. Menurut sejarahwan Belanda, Dr Russel Jones, hikayat ini diperkirakan berasal dari abad 14 Masehi.

4. Dirham Pasai

Dirham pasai merupakan mata uang yang dikeluarkan kerajaan Samudra Pasai untuk menagani urusan. Mata uang dirham digunakan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al Zahir sebagai alat pembayaran yang syah pada saat itu.

Demikianlah artikel terkait peninggalan kerajaan Samudra pasai, semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda. Terimakasih.