Beranda Pendidikan 15 Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno Beserta Nama Raja dan Peninggalannya

15 Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno Beserta Nama Raja dan Peninggalannya

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Kalimat.ID – Peninggalan kerajaan mataram kuno, Kerajaan Mataram kuno merupakan kerajaan hindu budha di Indonesia yang berdiri tepatnya diantara daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain dikenal sebagai kerajaan Mataram kuno, orang-orang mengenalnya dengan kerajaan medang. Selama kerajaan ini didirikan, terdapat 3 dinasti yang memegang kekuasaanya yakni dinasti Sanjaya, Syailendra, dan Isana.

Dinasti Sanjaya dan juga dinasti Syailendra ialah dinasti yang sangat banyak menyumbangkan beragam peninggalan kerajaan Mataram Kuno misalnya prasasti dan candi. Kita akan membagi beberapa peninggalan kerajaan mataram kuno ini menjadi 2, yaitu candi dan prasasti, berikut pembahasannya.

Raja Kerajaan Mataram Kuno:

Didalam kerajaan mataram kuno juga terdapat nama raja raja besar yang pernah memimpin sebelumnya. Berikut ini daftar lengkap nama raja raja Mataram kuno yang dulu pernah berkuasa:

– Sanjaya, sebagai pendiri Kerajaan Mataram kuno.
– Rakai Panangkaran.
– Rakai Panunggalan.
– Rakai Warak.
– Rakai Garung.
– Rakai Pikatan.
– Rakai Kayuwangi.
– Rakai Watuhumalang.
– Rakai Watukura Dyah Balitung.
– Mpu Daksa.
– Rakai Layang Dyah Tulodong.
– Rakai Sumba Dyah Wawa.
– Mpu Sindok.
– Sri Lokapala.
– Makuthawangsawardhana.
– Dharmawangsa Teguh

Apa Saja Peninggalan Sejarah Kerajaan Mataram Kuno?

1. Candi Sewu

candi sewu

Candi sewu merupakan candi terbesar nomor dua di Jawa tengah sesudah candi Borobudur. Candi ini bercorakkan budha dimana kerajaan Mataram dibangun sekitar di abad 8 Masehi. Lokasinya ada di desa Bugisan, kecamatan Prambanan, kabupaten klaten Jawa tengah sebagai peninggalan kerajaan mataram kuno.

Ternyata letaknya candi ini sangat dekat dengan candi Prambanan dan jarak kedua candi tersebut hanya kurang lebih 800 Meter.

Selain itu candi Sewu ternyata lebih tua dari dua candi yang terdapat di jawa tengah (Candi Borobudur dan candi Prambanan). Hal yang unik dari candi Sewu ini adalah, namanya tidak sesuai dengan banyak jumlah candi sebenarnya, yang mana jumlah asli candinya kira kira hanya 249 saja.

Bayangkan nama sewu kalau diartikan menurut bahasa Indonesia ialah seribu. Usut punya usut ternyata candi tersebut berasal dari cerita melegenda Roro Jonggrang.

2. Candi Arjuna

candi arjuna
Image by: pegipegi.com

Berbeda juga dengan candi Sewu yang bercorakkan budha, candi Arjuna ini adalah candi yang bercorak Hindu. Candi Arjuna dibangun sekitar abad 9 Masehi dan Lokasinya candi ini berada di Dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, provinsi Jawa Tengah, Indonesia.

Selain candi Arjuna yang di daerah tersebut juga terdapat candi lainnya seperti Candi semar, Srikandi, Puntadewa, serta candi Sembadra. Kalau melihat dari namanya ini berarti masyarakat memberi nama dengan nama tokoh yang terdapat di pewayangan.

3. Candi Bima

candi bima
Image by: situsbudaya.id

Candi bima ini juga letaknya di daerah Dataran Tinggi Dieng bertepat di Banjarnegara, provinsi Jawa Tengah. Dibangun pada abad 7 hingga abad ke 13 Masehi. Candi ini bercorakkan Hindu, makanya dari desainnya secara umumnya ada kesamaan dengan candi yang terdapat di negara India.

Karakteristik dari candi Bima ialah atapnya hampir sama dengan shikara dan juga bermodelkan mangkok yang telah di telungkupkan. dan di bagian atasnya terdapat arca Kudu. Pada zaman dulu candi ini digunakan sebagai upacara Pradaksina.

4. Candi Borobudur

candi borobudur
Image by: kemdikbud.go.id

Candi Borobudur terbesar dan terkenal di dunia yang termasuk dari 7 keajaiban dunia dengan versi UNESCO. Candi ini ialah candi yang bercorakkan budha dan letaknya ada di kota Magelang, Jawa tengah.

Pembuatan peninggalan kerajaan mataram kuno ini dilakukan pada masa dinasti Syailendra oleh pemeluk Budha kira kira tahun 800-an atau di abad 8 Masehi.

Asal mula Borobudur baru dinamai pada waktu Sir Thomas Raflles menyebutnya di salah satu karya bukunya yaitu berjudul “Sejarah Pulau Jawa”. Di dalam bukunya tersebut Sir Thomas Raffles memberikan nama Borobudur karena mengacu pada tempat yang lokasinya terdekat dengannya, yakni desa Bore dan Budur dan dari kata Bhudhara yang berarti gunung.

Candi Borobudur ini letaknya juga berdekatan dengan candi terkenal lainnya yakni candi Mendut dan Candi Pawon. Peninggalan kerajaan mataram kuno ini sekarang masih bisa kita nikmati keindahannya dan masih banyak pengunjungnya.

5. Candi Mendut

candi mendut
Image by: wikimedia.org

Selain candi Borobudur, Candi mendut ini juga termasuk candi yang bercorakkan Budha. Letaknya sama dengan keberadaan candi Borobudur yaitu di daerah Magelang, Jawa Tengah. Candi Mendut tersebut dibuat sekitar tahun 800-an Masehi pada waktu dinasti Syailendra berkuasa tepatnya dibawah kekuasaannya seorang Raja Indra.

Di sekitar dindingnya ada banyak sekali jenis relief diantaranya Brahmana, Hewan Angsa dan Kura-kura, Dharmabuddhi dan Dustabuddhi, serta 2 burung betet.

6. Candi Pawon

candi pawon
IMage by: wisatane.com

Candi lainnya yang letaknya juga berdekatan dengan candi Borobudur dan Candi Mendut ialah candi Pawon. Sayangnya sejarah pada candi Pawon ini masih simpang siur dan masih tidak jelas. Menurut sebagian para peneliti kata Pawon sendiri ini berasal dari bahasa Jawa yang berarti dapur ataupun bisa sebagai tempat perabuan.

Selain itu juga di dalamnya pada candi tersebut tidak ada arca, kemungkinan akan bertambah sulit lagi untuk melakukan penilitian.

7. Candi Puntadewa

candi puntadewa
Image by: kemdikbud.go.id

Candi ini satu daerah keberadannya dengan candi Arjuna dan candi lainnya yaitu dinamakan di pewayangan. Pada zaman dulu candi ini digunakan untuk sebuah tempat pemujaan dewa Siwa, tak salah bila coraknya berasal dari India.

Dalam sejarahnya candi ini pun tidak jelas asal-usulnya, tetapi berdasarkan penelitian candi ini sudah berusia lebih dari 1000 tahunan. Sebenarnya pada candi ini tidak terlalu besar sekali, hanya saja candi ini lebih menjulang ke atas.

8. Candi Semar

candi semar
Image by: situsbudaya.id

Candi ini juga letaknya berada dalam satu kawasan dengan candi yang bernama di pewayangan lainnya seperti candi Arjuna tepatnya di Dataran Tinggi Dieng. Candi ini juga termasuk candi Hindu Syiwa yang dibuat oleh seorang kerajaan Mataram kuno. Menariknya ialah candi ini berhadapan langsung dengan sebuah candi Arjuna.

Keunikan lainnya dari candi ini adalah paling pendek dan kecil, ukuran candinya sekitar 3,5 m dan 7 m dengan atapan yang berbentuk limas. Kegunaan dari candi ini ialah sebagai tempat penyimpanan peralatan dari senjata dan pemujaan.

9. Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto
image by: situsbudaya.id

Prasasti ini merupakan sebuah peninggalan dari dinasti Syailendra yang lokasinya di kota Batang, Jawa Tengah. Di prasasti sojomerto tersebut terdapat tulisan dengan menggunakan bahasa Melayu kuno yang beraksara bahasa Kawi.

Berdasarkan penelitian prasasti ini dibuat pada akhir abad 7 atau berawal dari abad ke 8.
Prasasti Sojomerto dibuat pada waktu kerajaan Mataram kuno yang masih beragama Hindu Siwa. Di dalam prasasti tersebut ada nama-nama keluarga dari raja-raja dinasti Syailendra yang terkhusus raja Dapunta Selendra yang mempunyai ayah dan ibu bernama Santanu dan Sampula.

10. Prasasti Kalasan

prasasti kalasan
Image by: situsbudaya.id

Prasasti kalasan merupakan sebuah prasasti peninggalan dari dinasti Sanjaya pada waktu Kerajaan Mataram Kuno yang dibuat sejak tahun 778 Masehi. Prasasti ini ada di daerah Sleman Jogjakarta. Di Prasasti tersebut isinya digunakan bahasa Sanskerta menggunakan aksara Pranagari (huruf yang berasal dari Negara India Utara).

Di dalam prasasti Kalasan isinya tentang keberhasilan dari Guru Sang Raja yang merayu Kariyana Panangkara dalam permintaan keluarga dinasti Syailendra agar bersedia mendirikan bangunan suci untuk Dewi Tara. Selain itu isinya pun terdapat tentang pemberian hadiah dari desa Kalasan sebagai tempat biara oleh para biarawan sebagai tempat suci untuk mereka (Candi Kalasan).

11. Prasasti Kelurak

prasasti kelurak

Prasasti Kelurak berdiri tahun 782 M dan ditemukan di dekat sebuah Candi Lumbung, Desa Kelurak, di sebelah utara Kompleks Percandian Prambanan, provinsi Jawa Tengah. Keadaan prasasti Kelurak ini sudah sangat aus, sehingga isinya semua kurang diketahui. Secara garis besar, berisi tentang berdirinya sebuah bangunan suci untuk sebuah arca Manjusri atas perintah Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadhananjaya. Menurut beberapa para ahli, yang dimaksud dengan bangunan tersebut ialah Candi Sewu, yang letaknya di Kompleks Percandian Prambanan.

12. Prasasti Canggal

prasasti canggal

Prasasti Canggal ini juga disebut sebagai Prasasti Gunung Wukir atau juga Prasasti Sanjaya yaitu sebuah prasasti berangka tahun 654 Saka atau sekitar 732 Masehi. Peninggalan kerajaan mataram kuno ini ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Kadiluwih, kecamatan Salam, Magelang, provinsi Jawa Tengah.

Prasasti ini menggunakan sebuah aksara Pallawa dan juga bahasa Sanskerta. Prasasti ini dipandang sebagai suatu pernyataan diri seorang Raja Sanjaya pada tahun 732 yang menjadi seorang penguasa universal berasal dari kerajaan mataram kuno.

13. Prasasti Mantyasih

prasasti mantyasih

Prasasti ini telah ditemukan di kampung Mateseh, Magelang Utara, provinsi Jawa Tengah dan memuat daftar silsilah dari raja-raja Mataram sebelum Raja Balitung. Prasasti ini dibuat sebagai sebuah upaya melegitimasi Balitung yang menjadi pewaris tahta yang sah, jadi menyebutkan raja-raja sebelumnya yang berdaulat secara penuh atas wilayah kerajaan Mataram Kuno.

Dalam peninggalan kerajaan mataram kuno ini juga telah disebutkan bahwa desa Mantyasih menetapkan Balitung sebagai sebuah desa perdikan (daerah bebas pajak). Di kampung Meteseh pada saat ini masih terdapat sebuah lumpang batu, yang diyakini menjadi sebuah tempat upacara penetapan sima atau desa perdikan.

Selain itu disebutkan juga tentang keberadaan Gunung Susundara serta Wukir Sumbing (yang sekarang Gunung Sindoro dan Sumbing).

14. Prasasti Wanua Tengah III

prasasti wanua tengah 3
Image by: situsbudaya.id

Prasasti ini telah ditemukan pada November 1983 sebagai salah satu peninggalan kerajaan mataram kuno berikutnya. Prasasti ini berlokasi di ladang di Dukuh Kedunglo, Desa Gandulan, Kaloran, kurang lebih 4 km arah timur laut Kota Temanggung.

Di dalam prasasti ini juga dicantumkan daftar lengkap dari beberapa raja-raja yang memerintah bumi Mataram. Khususnya saat masa sebelum pemerintahan seorang raja Rake Watukara Dyah Balitung.

Prasasti ini dianggap sangat penting karena menyebutkan 12 nama seorang raja Mataram. Sehingga melengkapi penyebutan di dalam Prasasti Mantyasih (ataupun nama lainnya Prasasti Tembaga Kedu) yang hanya menyebut dari 9 nama raja saja.

15. Prasasti Tri Tepusan

prasasti tri tepusan

Prasasti Tri Tepusan ini menyebutkan bahwa Sri Kahulunan saat tahun 842 M menganugerahkan tanahnya di desa Tri Tepusan sebagai pembuatan dan pemeliharaan tempat suci Kamulan I Bhumisambhara (yang kemungkinan besar menjadi nama dari candi Borobudur sekarang). Duplikat dari sebuah prasasti ini tersimpan di dalam museumnya candi Borobudur.

Demikianlah beberapa informasi mengenai peninggalan kerajaan Mataram kuno di Indonesia. Mulai dari sejarah kerajaan mataram kuno, isi prasasti kerajaan mataram kuno hingga nama raja raja yang memerintah di kerajaan mataram kuno. Semoga bermanfaat.