7 Peninggalan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur

Peninggalan Kerajaan Kutai

Kalimat.ID – Peninggalan Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang berdiri pada abad 5 M atau ± 400 M. Bukti yang menujukkan kerajaan tersebut dibangun pada abad ke-4 adalah ditemukannya tujuh buah prasasti Yupa. Prasasti yupa merupakan peninggalan kerajaan Kutai.

Kerajaan Kutai terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur tepatnya di hulu sungai Mahakam. Tidak banyak informasiyang menunjukkan mengenai Kerajaan Kutai. Hanya 7 buah prasasti Yupa tersebut itulah sumbernya. Pengambilan nama Kerajaan Kutai sendiri ditentukan oleh para ahli sejarah dengan mengambil nama dari tempat ditemukannya prasasti Yupa tersebut yaitu di wilayah Kutai.

Ditemukannya tujuh buah batu yang bertuliskan dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta serta disusun dalam bentuk syair. Prasasti Yupa merupakan prasasti tertua yang menyatakan telah berdirinya suatu Kerajaan Hindu tertua yaitu Kerajaan Kutai.

Prasasti Yupa adalah sebuah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang dibuat oleh para Brahmana atas kedermawanan Raja Mulawarman. Raja yang baik dan kuat merupakan anak dari Aswawarman dan merupakan cucu dari Raja Kudungga.

Prasasti Yupa yang berada di Kerajaan Kuta pertama kali dibangun oleh Kudungga, hingga kemudian dilanjutkan oleh anaknya bernama Aswawarman hingga mencapai puncak kejayaan pada masa Mulawarman.

Saat ini, peninggalan Kerajaan Kutai masih bisa dilihat pada Museum Mulawarman di Tenggarong, kutai Kartanegara dan sebagian lainnya juga disimpan pada Museum Nasional Jakarta. Dalam sebuah karya tulis dari ahli sejarah berkebangsaan Belanda yaitu C.A Maees yang berjudul De Kroniek van Kutai pada tahun 1935 mengulas tentang pantai yang ada di Indonesia. Maes yakin jika nama Kutai berasal dari kata Koti yang memiliki arti yaitu ujung dan pendapat tersebut tidak ia buat secara sembarangan, sebab ia memiliki dalih posisi Kutai yang berada di bagian ujung Timur Pulau Kalimantan.

Kapan masa kejayaan kerajaan Kutai?

Tidak banyak informasi yang dapat ditemukan mengenai Kerajaan. Akan tetapi menurut prasasti Yupa, puncak kejayaan Kerajan Kutai berada pada masa pemerintahan Raja Mulawarman. Pada masa pemerintahan Mulawarman, kekuasaan Kerajaan Kutai hampir meliputi seluruh daerah Kalimantan Timur. Pada saat pemerintahan Mulawarman,rakyat Kerajaan Kutai pun hidup sejahtera dan makmur.

Bidang Politik

Dalam prasasti yang ditemukan di Kutai, terdapat salah satu prasasti yang didalamnya tetulis Sang Maharaja Kundungga yang amat mulia mempunyai putra yang manshur, Sang Aswawarman namanya yang seperti Sang Ansuman atau Dewa Matahari menumbuhkan keluarga yang sangat mulia.

Sang Aswawarman mempunyai putra tiga orang, seperti api yang suci. Yang paling terkenal dari ketiga putra itu adalah Mulawarman, raja yang berperadaban baik dan kuat. Sang Mulawarman telah mengadakan kenduri untuk memperingati tugu batu yang didirikan oleh para Brahmana.

Dari prasasti Yupa tersebut dapat diketahui nama-nama raja yang pernah memerintah di Kerajaan Kutai. Raja pertama kerajaan Kutai bernama Kundungga yang mempunyai seorang anak bernama Aswawarman yang dianggap sebagai pendiri dinasti atau pembentuk keluarga Wamsakerta.

Nama Kundungga di atas menunjukkan telah masuknya pengaruh agama Hindu dalam Kerajaan Kutai. Dalam prasasti tersebut dapat membuktikan bahwa raja-raja Kutai adalah orang asli Indonesia yang telah memeluk agama Hindu. Pemerintahan bukan lagi dipimpin oleh kepala suku melainkan dipimpin oleh Raja. Di bawah ini adalah raja-raja yang pernah memerintah di kerajaan Kutai :

Siapa nama raja Kerajaan Kutai?

– Kudungga
Kudungga merupakan raja pertama dari Kerajaan Kutai tetapi apabila dilihat nama tersebut sangat kental dengan nuansa lokal dan ahli sejarah berpendapat pada saat ia berkuasa pengaruh dari Hindu baru saja masuk ke wilayah Nusantara. Kemungkinan besar Kudungga adalah seorang kepala suku yang merubah sistem pemerintahan menjadi kerajaan dan mengangkat dirinya menjadi seorang raja.

– Raja Aswwarman
Raja Aswwarman adalah keturunan dari Kudungga yang terkenal dengan sebutan Dewa Matahari. Raja Aswwarman juga merupakan pendiri dari Kerajaan Kutai sehingga mendapat gelar Wangsakerta yang memiliki arti pembentuk keluarga. Pada Prasasti Yupa juga telah disebutkan jika Raja Aswwarman adalah seorang raja yang kuat dan juga cekatan sehingga Kerajaan Kutai bisa semakin luas dan ini terbukti dengan pelaksanaan upacara Asmawedha.

– Raja Mulawarman
Mulawarman adalah sosok raja yang sangat berpengaruh di Kerajaan Kutai dan merupakan cucu dari Kudungga serta anak Aswawarman, selain itu ia juga dijadikan sebagai ikon dari Kerajaan Kutai.

Secara geografis Kerajaan Kutai berlokasi pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Kerajaan Kutai merupakan tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal tersebut menunjukkkan bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai, disamping pertanian. Dan prasasti yang berada di kerajaan Kutai juga menunjukkan bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan hartanya berupa minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.

Dapat diperkirakan bahwa pertanian dan peternakan merupakan mata pencaharian masyarakat Kutai. Melihat letak kerajaan Kutai yang berada di sekitar Sungai Mahakam sebagai jalur transportasi laut, diperkirakan perdagangan masyarakat Kutai sangat ramai. Bagi pedagang luar yang ingin berjualan di Kutai, mereka harus memberikan hadiah kepada raja agar diizinkan untuk berdagang.

Pemberian hadiah ini biasanya berupa barang dagangan yang cukup mahal dan ini dianggap sebagai upeti atau pajak kepada pihak Kerajaan. Melalui hubungan dagang tersebut, baik melalui jalur transportasi sungai, laut maupan transportasi darat, berkembanglah hubungan antara agama dan kebudayaan dengan wilayah-wilayah sekitar. Banyak pendeta yang diundang datang ke Kutai dan juga sebaliknya, banyak pula orang Kutai yang berkunjung ke daerah asal para pendeta tersebut.

Bidang Agama

Kehidupan masyarakat Kerajaan Kutai sangat erat berkaitan dengan kepercayaan masyarakatnya terhadap agama yang ia anut, dan Yupa merupakan salah satu hasil dari kebudayaan Masyarakat Kutai, Yupa sendiri merupakan sebuah tugu yang terbuat dari batu yang merupakan hasil warisan nenek moyang bangsa Indonesia pada zaman Megalitikum, berbentuk menhir.

Salah satu yupa itu juga menyebutkan bahwa suatu tempat suci dengan nama Waprakeswara atau tempat pemujaan Dewa Siwa. Dengan telah terbukti bahwa masyarakat Kutai adalah pemeluk agama Hindu Syiwa. Selain itu, masyarakat Kutai juga ada yang masih menjalankan adat istiadat serta kepercayaan asli nenek moyang mereka.

Bidang Sosial dan Budaya

Karena Kerajaan Kutai telah terpengaruh agama Hindu, maka kehidupan agamanya menjadi lebih maju. Salah satunya adalah pelaksanaan upacara Hindu atau pemberkatan seseorang yang memeluk agama Hindu yang disebut Vratyastoma. Upacara tersebut dilakukan sejak pemerintahan Aswawarman dan dipimpin oleh para pendeta atau brahmana dari India. Selanjutnya pada masa pemerintahan Mulawarman, upacara tersebut dipimpin oleh kaum brahmana dari Indonesia.

Dari keterangan tersebut dapat kita simpulkan bahwa kaum brahmana dari Indonesia ternyata memiliki tingkat intelektual yang tinggi karena mampu menguasai bahasa Sanskerta, bahasa ini bukanlah bahasa yang dipakai sehari-hari oleh rakyat India tetapi bahasa resmi kaum brahmana untuk masalah keagamaan.

Masuknya pengaruh kebudayaan India ke Nusantara, menyebabkan budaya Indonesia mengalami sedikit perubahan yaitu timbulnya suatu sistem pemerintahan dengan raja sebagai kepalanya. Sebelum budaya India masuk, pemerintahan hanya dipimpin oleh seorang kepala suku dan percampuran lainnya adalah kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia mendirikan tugu batu. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa dalam menerima unsur-unsur budaya asing yang masuk bangsa Indonesia bersikap aktif. Artinya bangsa Indonesia berusaha mencari dan menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan asing tersebut dengan kebudayaan sendiri yaitu kebudayaa Indonesia.

Kemunduran Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai berakhir pada saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji. Perlu diingat bahwa Kutai Martadipura berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama atau Tanjung Kute. Kerajaan inilah yang disebutkan dalam sastra Jawa yaitu Negarakertagama. Kutai Kartanegara setelah itu menjadi kerajaan Islam yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara

Apa saja peninggalan kerajaan Kutai?

Setelah mengetahui mengenai sejarah singkat dari Kerajaan Kutai, dibawah ini akan saya menyajikan beberapa peninggalan Kerajaan Kutai yang masih bisa anda lihat hingga sekarang di Museum Nasional Jakarta dan juga Museum Mulawarman, Tenggarok, Kutai Kartanegara.

1. Prasasti Yupa

prasasti yupa
Image by: situsbudaya.id

Prasasti Yupa merupakan salah satu dari peninggalan Kerajaan Kutai yang tertua dan benda ini menjadi bukti sejarah dari Kerajaan kutai di Kalimantan tersebut. Ada sekitar 7 prasasti Yupa yang masih bisa dilihat hingga sekarang.

Yupa merupakan sebuah tiang batu yang dipakai untuk mengikat kurban hewan ataupun manusia yang dipersembahkan kepada para Dewa dan pada tiang batu tersebut terdapat tulisan yang dipahat. Tulisan-tulisan tersebut ditulis menggunakan bahasa sansekerta atau huruf Pallawa. Namun dari ketujuh Prasasti Yupa tersebut ditemukan tahun pembuatannya sehingga tidak diketahui dengan pasti tanggal pembuatan prasasti tersebut.

Prasasti Yupa menceritakan tentang kehidupan politik. Pada prasasti pertama menceritakan tentang raja pertama Kerajaan Kutai yaitu Kudungga yang merupakan nama asli Indonesia dan memperlihatkan jika ia bukan pendiri dari keluarga kerajaan. Pada prasasti Yupa juga tertulis jika di masa pemerintahan Asmawarman, di Kerajaan Kutai juga melaksanakan upacara Aswamedha dan ini adalah upacara pelepasan kuda sebagai penentu batas wilayah Kerajaan Kutai. Raja Kudungga memiliki seorang putra terkenal bernama Aswawarman dan ia mempunyai 3 orang putra terkenal yang persis seperti tiga api suci.

Dari ketiga putra raja Kudungga tersebut, Mulawarman menjadi anak yang paling terkenal karena sangat tegas, kuat dan juga sabar untuk raja dipersembahkan kurban Bahu Suwarnakam. Di masa pemerintahan Raja Mulawarman, Kerajaan Kutai mencapai masa keemasan dan sesudah pemerintahannya, tidak diketahui lagi siapa saja raja yang pernah memerintah karena sumber sejarah yang sangat terbatas. Mulawarman diabadikan dalam salah satu prasasti Yupa sebab rasa dermawan yang dimilikinya sangat tinggi dengan mempersembahkan 20 ribu ekor sapi pada kaum Brahman.

2. Ketopong Sultan

ketopong sultan
Image by: indonesiakaya.com

Ketopong adalah mahkota Sultan Kerajaan Kutai yang terbuat dari emas dengan bobot 1.98 kg yang sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Ketopong Sultan ini ditemukan pada tahun 1890 di daerah Muara Kaman, Kutai Kartanegara, sementara yang dipajang di Museum Mulawarman adalah Ketopong tiruan. Mahkota ini pernah dipakai oleh Sultan Aji Muhammad Sulaiman dari tahun 1845 sampai 1899 dan juga dipakai oleh Sultan Kutai Kartanegara, selain terbuat dari emas, mahkota ini juga dilengkapi dengan permata.

3. Kalung Ciwa

Kalung Ciwa
Kalung Ciwa

Kalung Ciwa merupakan peninggalan Kerajaan Kutai berikutnya dari Kerajaan Kutai yang berhasil ditemukan di pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman pada tahun 1890 oleh salah satu penduduk sekitar Danau Lipan, Muara Kaman. Kalung Ciwa sampai sekarang ini masih digunakan untuk perhiasan kerajaan dan sudah pernah dipakai Sultan pada masa penobatan Sultan yang baru.

4. Kalung Uncal

kalung uncal

Kalung Uncal adalah kalung yang terbuat dari emas seberat 170 gram berhiaskan liontin dengan relief cerita Ramayana. Kalung ini sering digunakan sebagai atribut Kerajaan Kutai Martadipura dan dipakai oleh Sultan Kutai Kartanegara sesudah Kutai Martadipura berhasil dikalahkan. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan, Kalung Uncal berasal dari india dengan nama Unchele dan masih ada 2 Kalung Uncal di dunia lainnya yang berada di India dan juga di Museum Mulawarman, Kota Tenggarong. Kalung ini berbentuk buklat dengan panjang 9 cm yang terbuat dari emas 18 karat. Pada kalung itersebut juga terdapat ukiran Dewi Sinta serta Sri Rama yang sedang memanah babi. Selain itu juga terdapat 4 buah bulatan dan 2 diantaranya dihiasi dengan batu permata. Kalung ini juga sebagai penentu sah atau tidaknya pelantikan Raja Kutai.

Ada 2 Raja Kutai yang bisa memakai Kalung Uncal ini yaitu pada saat penobatan dan juga pernikahan serta tidak ada satu orang pun yang boleh memakai kalung ini selain Sultan atau Raja. Saat kalung akan dikeluarkan, maka dilakukan prosesi ritual tertentu seperti bakar kemenyan dan juga membacakan mantra yang disebut dengan basawai. Konon dikabarkan jika Kalung Uncal yang berasal dari India ini hanya ada sebanyak 2 pasang di dunai sebab hanya digunakan oleh Sri Rama dan juga Dewi Shinta. Pada saat Sri Rama bisa merebut kembali Dewi Shinta istrinya dari Rahwana, maka ia menjadi ragu apakah istrinya tersebut masih suci dan belum diganggu oleh Rahwana. Kecurigaan Sri Raman ini beralasan, sebab Kalung Uncal yang menjadi lambang kesucian sudah hilang dari leher Dewi Shinta.

5. Kura Kura Emas

kura kura emas

Peninggalan kerajaan kutai yang selanjutnya adalahKura-kura emas. Peninggalan Kerajaan Kutai yang sekarang disimpan di Museum Mulawarman dengan ukuran setengah kepalan tangan. Benda ini ditemukan di daerah Long Lalang yang merupakan daerah yang berada di hulu sungai Mahakam.

Benda ini dapat dikatakan merupakan persembahan dari pangeran kerajaan di Cina untuk putri Raja Kutai yaitu Aji Bidah Putih. Kura kura emas ini dibuat dari emas 23 karat dengan bentuk kura kura yang juga digunakan dalam upacara penobatan Sultan Kutai Kartanegara, Kura kura ini juga menjadi simbol penjelmaan Dewa Wisnu.

6. Pedang Sultan Kutai

pedang sultan kerajaan kutai

Peninggalan Kerajaan Kutai yang selanjutnya adalah pedang sultan kutai. Pedang Sultan Kutai terbuat dari emas padat dan pada bagian gagang diukir gambar seekor harimau yang siap untuk menerkam, sedangkan pada ujung sarung pedang berhiaskan seekor buaya dan kini pedang Sultan Kutai disimpan di Museum Nasional Jakarta.

7. Tali Juwita

tali juwita

Tali Juwita merupakan peninggalan Kerajaan Kutai yang mewakili 7 simbol muara serta 3 anak sungai yaitu sungai Kelinjau, Belayan dan juga Kedang Pahu di Sungai Mahakam. Tali Juwita ini dibuat dari 21 helai benang dan biasanya dipakai pada upacara adat Bepelas.

Utasan tali ini terbuat dari emas, perak dan juga perunggu dengan hiasan 3 bandul berbentuk gelang dan 2 buah permata kucing serta barjat putih serta bandul lain berbentuk lampion dengan hiasan 2 bandul berukuran kecil. Sekian yang dapat saya sampaikan dalam artikel berjudul peninggalan kerajaan Kutai. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda semua.

Komentar disini