Pangeran Antasari: Pahlawan Nasional Indonesia Dari Banjar

Pangeran Antasari
Image by: https://tirto.id/saat-pangeran-antasari-menyerang-tambang-asing-cxUH

Kalimat.ID – Pangeran Antasari lahir dari Kesultanan Banjar (Kayu Tangi) pada tahun 1979 atau 1809, dan meninggal di Bayan Begok, Hindia Belanda pada 11 Oktober tahun 1862, pada usia 53 tahun Pangeran Antasari adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

Pada bulan Maret 1862 ia diangkat sebagai pemimpin pemerintahan paling penting dan tinggi di Kesultanan Banjar dengan gelar Amiruddin Mukminin dilantik oleh Adipati (Gubernur) dan kepala dayak di Kapuas Atas, Kahayan Atas, yang biasa disebut Tumenggung Pati Jaya Raja.

Pangeran Antasari merupakan cucu dari Pangeran Amir, semasa muda Pangeran Antasari bernama Gusti Inu Kartapati, ibunda pangeran Antasari bernama Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman sedangkan ayahanda Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas’ud) bin Pangeran Amir, dan Ayahanda dari Pangeran Antasari (Kakek) bernama Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang gagal naik tahta pada tahun 1785.

Masa Perjuangan Pangeran Antasari

pangeran-antasari
Gambar oleh: Mediaindonesia.com

Pangeran Antasari merupakan pahlawan Nasional, pada Perang Banjar Pangeran Antasari dengan para prajurtinya yang berjumlah 300 orang menyerang sebuah tambang batu bara milik Belanda, di Pangaron pada tanggal 25 April tahun 1859, peperangan ini berlanjut dengan dikomandoi oleh Pengeran Antasari di wilayah Kerajaan Banjar. Pangeran Antasari menyerang pos milik Belanda di Hulu Sungai Riam Kanan Martapura, Tanah Laut Tabalong, yang berderet di sepanjang sungai Barito hingga ke Puruk Cahu.

Perang semakin berkobar antara pasukan Khalifatul Mu’minin dengan pasukan Belanda dengan semua bantuan dari Batavia (Jakarta) dengan senjata modern pada waktu itu, dan akhirnya terus mendesak pasukan Khilafah. Akhirnya Khalifah memindahkan pusat pertahanan tempurnya ke Muara Teweh, dan berkali-kali Belanda meminta Antasari untuk menyerah, tetapi ia tetap di posisinya.

Hal ini jelas tergambar dengan surat yang disampaikan untuk Letkol (Letnan Kolonel) Gustave Verspijk di kota Banjarmasin pada tanggal 10 Juli 1861 dan surat itu bernada: dengan tegas kami sampaikan kepada tuan, kami tidak setuju dengan usul minta ampun dan kami berjuang terus untuk menuntut hak pusaka (Kemerdekaan).

Pada saat peperangan melawan Belanda, Belanda pernah menawarkan hadiah untuk siapa saja yang mampu dan bisa membunuh atau menangkap Sultan Antasari maka ia akan diberikan hadian sebesar 10.000 Gulden, namun sampai akhir hayat Pangeran Antasari dari pihak manapun tidak ada yang mau menerima tawaran dari pihak Belanda itu.

Pada perang Banjar merupakan wujud umat Islam Banjar melawan terhadap Belanda. Perang Banjar yang dinahkodai oleh Sultan Antasari merupakan tindakan perjuangan bangsa indonesia dalam menolak penjajahan di Nusantara. Perang Banjar ini merupakan sejarah perang kemerdekaan indonesia yang terjadi pada Abad ke-19. Sama halnya dengan perjuangan dari daerah-daerah lainnya yang ada di Indonesia. Misalnya di Minangkabau ada pergerakan perang di sebut Perang Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol, di pulau Jawa juga ada Perang Diponegoro, juga Perang Aceh dan sejumlah daerah lainnya di Indonesia.

Pada awal abad ke-17 Belanda berlabuh di Banjarmasin, hal ini dikarenakan melimpahnya ruahnya tambang batu bara dan lada di Banjarmasin. Maka dari itu hal ini terjadi antara hubungan dagang pihak Banjarmasin dan Hindia Belanda. Dalam perkembangan selanjutnya Belanda memonopoli perdagangan lada, bahkan Belanda ingin menguasai wilayah yang berada pada Kerajaan Banjar, taktik ini menggunakan taktik politik devide et impera (Politik pecah belah atau politik adu domba).

Perang Banjar juga berada di belakang intervensi Belanda, yang nampak jelas pada penunjukan Belanda sebagai Sultan Tamjidillah pada tahun 1857 di Kerajaan Banjar. Pada penunjukan Sultan Tamjidillah ini melanggar wasiat yang dibuat oleh Sultan Adam yang ingin meminta Sultan Hidayatullah untuk menjadi Sultan ketika ia meninggal.

Setelah Sultan Tamjidillah diangkat dan resmi menjadi Sultan pada Kerajaan Banjar, maka timbullah kekacauan diwilayah Kerajaan Banjar, hal ini dipicu karena reaksi Masyarakat Banjar yang tidak suka dengan pengangkatan Tamjidillah menjadi Sultan Kerajaan Banjar. Pada tanggal 28 April 1859 pangeran Antasari memimpin perang terhadap pihak Belanda penyerangan ini berlangsung di benteng Oranye Nassau, maka sejak itulah perang Banjar terjadi.

Dalam pertempuran yang dipimpin oleh Pangeran Antasari muncul untuk memikul perjuangan untuk bahu-membahu dengan pejuang Banjar lainnya, dalam misi untuk menyelamatkan Kerajaan Banjar di Belanda. Sampai Pangeran Antasari bersumpah dengan kata-kata “Jangan takut pada kepausan, Haram manyarah waja sampai kaputing” yang berarti bahwa perjuangan dianggap haram jika menyerah kepada Belanda, oleh karena itu perjuangan rakyat Banjar dan Pangeran berlanjut sampai tanah Banjar bebas dari koloni Belanda. Tetapi menurut sejarawan Banjarmasin, Muhammad Iqbal, makna kata itu adalah: “Jangan tuan, lawanlah (dengan) sesamanya (seagama dan bangsa, konteks Dayak dan Banjar), ilegal (atau pantang) untuk menyerah sampai darah turun.”

Sumpah yang dia bawa ini adalah sebuah janji untuk dia dan para pengikutnya untuk taat. Pada 14 Maret 1862 Pangeran Antasari juga diangkat sebagai sultan kerajaan Banjar dan dimahkotai Panembahan Khalifatul Mukminin, meskipun pada saat itu ia telah meninggal, tetapi perjuangannya untuk rakyat Banjar diteruskan oleh putranya Pangeran Seman hingga perang berakhir.

Wafatnya Pangeran Antasari

Tanggal 11 Oktober momen bersejarah bagi Indonesia, dimana salah satu tokoh pahlawan Nasional yakni Pangeran Antasari tutup usia, tepatnya pada 11 oktober 1862. Sejak menjadi Sultan Kerajaan Banjar Pangeran Antasari terus memerangi tirani Belanda dengan berbagai peperangan.

Setelah berjuang melawan Belanda dengan Rakyat Banjar, pangeran Antasari wafat ditengah-tengah pasukannya yang gagah, tanpa ada kata menyerah, tertangkap apalagi terkena politik adu domba, kurang lebih usia beliau 75 tahun, dan meninggal pada tanggal 11 Oktober 1862, di tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang.

Menjelang wafatnya, ia terkena sakit paru-paru dan cacar, hal ini terkena setalah melakukan peperangan di bawah kaki bukit Bagantung, Tundakan, dan perjuangannya dilanjutkan oleh putra beliau bernama Muhammad Seman.

Gambar Pangeran Antasari

pangeran-antasari

Komentar disini