10 Nama Pahlawan Revolusi Indonesia dan Daerah Asalnya

Pahlawan Revolusi

Kalimat.ID – Pahlawan Revolusi Indonesia merupakan para pahlawan Indonesia yang sangat berjasa menolak Indonesia mempunyai angkatan baru kelima yakni dimana beranggotakan Buruh dan Tani yang di persenjatai oleh PKI (Partai Komunis Indonesia).

Jika menilik dan membaca dengan seksama dibawah ini, memanglah tujuan PKI sangat bengis, maka dari itu 10 perwira dari Militer dibunuh karena menolak dengan idenya PKI yang ingin membangun kekuatan kelima.

Sebenarnya PKI ini sangat dekat dengan Presiden RI pertama yakni Pak Soekarno, ia menyarankan kepada pak Soekarno agar membentuk angkatan kelima, dimana angkatan kelima ini terdiri dari, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut, Kepolisian dan juga satu lagi angkatan dari kalangan petani dan buruh yang sudah berlatih.

Sejarah Pahlawan Revolusi

Pahlawan revolusi adalah gelar pahlawan kepada mereka yang diberikan oleh pemerintah Indonesia kepada para perwira Militer Indonesia yang meninggal pada peristiwa G30SPKI, dan mereka yang gugur mendapatkan gelar pahlawan revolusi melalui undang-undang Nomor 20 tahun 2009, dan juga diakui menjadi Pahlawan Nasional.

10 Biografi Pahlawan Revolusi Indonesia Lengkap

Pahlawan revolusi merupakan pahlawan yang dikenang oleh Masyarakat Indonesia dan pemerintah karena jasanya membela negara Indonesia diambang kehancuran setelah kemerdekaan Indonesia bebas dari penjajahan, pahlawan revolusi ini meninggal karena kekejaman PKI pada masa itu, dimana para Jenderal dan Kapten serta staf penting dalam tubuh TNI dibunuh pada malam hari tanggal 1 Oktober 1965 secara serempak, dan jasadnya ditemukan di Lubang Buaya, Jakarta, dan Lubang di Yogyakarta, berikut 10 daftar pahlawan revolusi yang patut kita kenal dan kenang perjuangannya.

1. Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani

jenderal ahmad yani

Jenderal Ahmad Yani lahir di Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, tanggal 18 Juni Tahun 1922, ia merupakan pahlawan revolusi, lahir dari keluarga Wongsoredjo, dimana keluarga Jenderal Ahmad Yani banyak bekerja di pabrik gula yang didirikan oleh Belanda pada masa itu.

Pada tahun 1927 Jenderal Ahmad Yani pindah ke Jakarta (Batavia) bersama keluarganya, alasan ia pindah ke Jakarta karena ayahnya bekerja kepada General Belanda. Pada saat di Batavia Jenderal Ahmad Yani mengeyam pendidikan sekolah dasar dan menengah, hingga pada tahun 1940-an, Jenderal Ahmad Yani meninggalkan meninggalkan sekolah formalnya, dan ikut wajib Militer kepada tentara Hindia-Belanda.

Hingga akhirnya Jenderal Ahmad Yani belajar mengenai kemiliteran di kota Malang, Jawa Tengah, akan tetapi selama mengeyam pendidikan militer itu ia terusik karena kedatangan Jepang ke Indonesia di tahun 1942, hingga memaksa Jenderal Ahmad Yani dan keluarga pindah ke tempat asal mereka.

Di tahun 1943 Jenderal Ahmad Yani bergabung dengan tentara besutan Jepang yakni PETA (Pembela Tanah Air) dan menjalani pendidikan lanjutannya di Magelang, hingga selesai menyelesaikan pelatihan PETA Jenderal Ahmad Yani akhirnya diutus menjadi komandan Peleton dan dimutasi ke Bogor, Jawa Barat untuk pelatihan berikutnya, hingga selesai pelatihan di Bogor, ia kembali lagi ke Magelang menjadi instruktur.

Hingga akhirnya Jenderal Ahmad Yani gugur dan mendapatkan gelar pahlawan revolusi, beliau menjadi sasaran dari kekejaman PKI, ia diculik lalu dibunuh melalui pemberontakan yang dilakukan oleg G30/PKI atau Gerakan Tiga Puluh September kala itu misi ini dipimpin oleh Letkol Untung.

Di tanggal 1 Oktober 1965 terjadi gerakan PKI (Partai Komunis Indonesia) dalam melakukan misi penculikan, sebanyak 200 anggota menyergap rumah Jenderal Ahmad Yani di Jl. Latuhary Nomor.6, Menteng Jakarta Pusat.

Jenderal Ahmad Yani gugur dan menjadi pahlawan revolusi Indonesia saat ia wafat karena ditembak saat ia terlelap tidur, hal ini terjadi pada tanggal 1 Oktober tahun 1965, hingga saat ia meninggal ditembak lalu beberapa kemudian jasad ia ditemukan di Lubang Buaya dengan jasad para Perwira lainnya.

2. Letnan Jenderal TNI Anumerta R. SupraptoMayjen Soeprapto

Letnan Jenderal R. Suprapto merupakan seorang pahlawan revolusi Indonesia yang gugur karena kekejaman PKI pada tahun 1965, dan beliau dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, ia lahir pada tanggal 20 Juni 1920 di daerah Purwokerto, Jawa Barat, Letnan Jenderal R. Suprapto menyelesaikan pendidikannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) jika sekarang setara dengan SMP, dan AMS setara dengan SMA di tahun 1941.

Letnan Jenderal R. Suprapto kemudian masuk dalam sekolah Militer yang didirikan oleh Militer Belanda di Bandung bernama Koninklijke Militaire Akademie, namun naas nasib beliau sama seperti Jenderal Ahmad Yani dimana pendidikan militernya tidak diselesaikan secara sempurna dikarenakan kedatangan Jepang, sempat menjadi tawanan, namun Letnan Jenderal R. Suprapto berhasil melarikan diri.

Pada masa-masa awal kemerdekaan Republik Indonesia Letnan Jenderal R. Suprapto bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), setelah masuk TKR beliau terlibat juga dengan pertempuran melawan Jepang di Cilacap, Jawa Barat, hingga berhasil melucuti senjata tentara Jepang.

Juga Letnan Jenderal R. Suprapto pernah menjadi ajudan Jendral Besar Sudirman di tahun 1946. Hingga pada bulan September tahun 1949 Letnan Jenderal R. Suprapto menjadi Kepala Staff Tentara dan Teritorial IV Diponegoro di Kota Semarang di tahun 1951 dan berpindah ke MABES TNI menjadi Kepala Staf Angkatan Darat.

Pada tanggal 1 Oktober Letnan Jenderal R. Suprapto saat itu susah untuk lelap tidur dikarenakan sakit gigi, ia didatangi oleh sekelompok orang yang mengaku dirinya ini pengawal kepresidenan (Cakrawibawa), sekelompok orang ini mengatakan Letnan Jenderal R. Suprapto dipanggil oleh Presiden Soekarno, hingga akhirnya sang Jenderal dimasukkan kedalam truk dan dimasukkan kedalam Lubang Buaya bersama 6 perwira lainnya.

3. Letnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo (MT) Haryono

letnan jenderal mt haryono

Letnan Jenderal MT Haryono lahir di kota Buaya Surabaya, Provinsi Jawa Timur pada tanggal 20 Januari 1924, hingga wafat dan ditemukan jasadnya di Lubang Buaya, Jakarta pada 1 Oktober tahun 1965, hingga wafat pada usia 41 ia mendapatkan gelar Pahlawan Revolusi yang terbunuh karena peristiwa G30SPKI.

Pada masa kehidupannya Letnan Jenderal MT Haryono mengeyam pendidikan ELS bisa dikatakan setingkat dengan Sekolah Dasar pada masa itu, hingga pendidikannya di lanjutkan ke tingkat selanjutnya HBS jika sekarang sama dengan Sekolah Menengah Umum, sempat setelah lulus Letnan Jenderal MT Haryono pernah juga sekolah di Ika Dai Gakko Sekolah Kedokteran milik penduduk Jepang di Jakarta namun tidak menyelesaikannya sampai lulus.

Ketika negara Indonesia di proklamirkan oleh Presiden RI Soekarno saat itu Letnan Jenderal MT Haryono sedang berada di Jakarta ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia hingga dilanjutkan masuk kedalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada awal masuk ia mendapatkan pangkat Mayor Jenderal.

Pada saat berada di kediamannya di Jalan Prambanan No. 8, Menteng, Jakarta Pusat pada tanggal 1 Oktober tahun 1965, ada sekelompok orang yang menuju rumahnya dan meneriakkan Jendral keluar Jenderal pada saat malam dimana sang Jenderal beristirahat.
Pada tanggal 1 Oktober tahun 1965 seseorang dari Anggota Tjakrabirawa dengan menyebut diri mereka sendiri adalah Gerakan 30 September, memaksa masuk kerumah Letnan Jenderal MT Haryono dan mengatakan ia di Panggil oleh Presiden Sukarno. Hingga akhirnya berhasil masuk kedalam rumah sang Jenderal dan membunuh sang Jenderal dengan brondongan senjata ketubuhnya, hingga ia meninggal dan di seret menuju truk yang sudah menunggu, dan didalam truk itu juga berisikan beberapa perwira lainnya, dimana didalam truk itu akan dibawa menuju markas PKI dan dimasukkan kedalam Lubang Buaya.

Hingga akhirnya jasad para perwira dari TNI ini ditemukan setelah seminggunya ia dimasukkan kedalam Lubang Buaya, hingga akhirnya pemerintah menetapkan status kepada Letnan Jenderal MT Haryono sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia bersamaan perwira lainnya yang mendapatkan gelar Pahlawan Revolusi sesuai Kepress Indonesia.

4. Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman

Letjen S Parman

Letnan Jenderal S Parman lahir pada tanggal 4 Agustus tahun 1918 di Kabupaten Wonoso, Jawa Tengah, dan beliau merupakan salah satu pahlawan revolusi Indonesia bersama perwira lainnya yang mengenaskan dibunuh oleh kekejaman PKI.

Letnan Jenderal S Parman merupakan sosok perwira TNI yang terbunuh bersama perwira lainnya karena ia menolak usul yang diajukan PKI, maka dari itu ia menjadi sasaran dari kekejaman PKI, hingga kemudian beliau mendapatkan gelar pahlawan revolusi Indonesia.

Letnan Jenderal S Parman merupakan anak ke-6 dari keluarga yang tinggal di Wonosobo, Jawa Tengah, ayahnya Letnan Jenderal S Parman bernama Kromodiharjo yang merupakan sehari-hari bekerja sebagai pedagang. Dimana Letnan Jenderal S Parman ini memiliki seorang kakak bernama Ir. Sakirman dimana sang kakak ini merupakan petinggi dari PKI.

Walaupun ayah dari Letnan Jenderal S Parman dan Ir. Sakirman ini hanyalah seorang pedagang biasa namun sang ayah bertekad menyekolahkan anak-anaknya hingga memperoleh pendidikan yang tinggi, Letnan Jenderal S Parman menyelesaikan pendidikannya di HIS (Hollandsch Inlandsche School) setingkat sekolah dasar yang berada di Wonosobo, hingga melanjutkan pendidikan di MULO (Meer Uitgebried Lager Onderwijs) atau setingkat dengan sekolah menengah pertama dan melanjutkan pendidikan ketingkat akhir yakni sekolah menengah atas pada saat itu disebut dengan AMS (Algemeene Middelbare School), hingga ayahnya meninggal dunia pada tahun 1937-an.

Pada saat ayahnya meninggal Letnan Jenderal S Parman tidak melanjutkan sekolahnya selama hampir 2 tahunan, hingga ia memaksa untuk membantu sang ibu berjualan di Pasar Wonosobo, hingga akhirnya menemukan waktu yang pas, Sang Jenderal kembali melanjutkan sekolahnya di AMS, setelah lulus dari AMS ia melanjutkan sekolahnya di STOVIA Sekolah Kedokteran sesuai dengan keinginan sang Ayahnya.

Lagi hal yang sama terjadi kepada sang Jenderal, dimana ia sekolah menjadi terhambat karena kedatangan tentara Jepang ke Indonesia, karena invasi militer Jepang pada tahun 1942 memaksa ia tidak bisa melanjutkan pendidikannya di Sekolah STOVIA Jakarta.

Hingga saban hari Letnan Jenderal S Parman bertemu dengan Tokoh Militer Jepang bernama Kenpetai ia mengatakan sedang butuh penerjemah yang bisa berbahasa inggris, pada saat itu Letnan Jenderal S Parman fasih berbahasa Inggris, hingga mengikuti Kenpetai sampai ke Yogyakarta, walaupun membantu Jepang rasa nasionalisme dari Letnan Jenderal S Parman masih tetap tinggi, ia terus berhubungan dengan rekan-rekannya dan diam-diam berjuang melawan penjajahan Jepang di Indonesia.

Setelah proklamasi Kemederkaan Indonesia S Parman memilih karir dalam dunia Militer sebagai pengabdian beliau kenegara tercinta Indonesia, selama perang melawan penjajahan atau disebut Agresi Militer kedua, Letnan Jenderal S Parman ikut berjuang dengan taktik gerilya diluar Kota.

S Parman sempat juga mendapatkan pendidikan di sekolah Koninklijke Militaire Academie setingkat dengan AKMIL di Breda, Belanda. Pada saat itulah karirnya ia semakin naik, dimana pangkat sebelumnya menjadi Brigadir Jenderal sebagai Asisten I Men Pangad bidang Intilijen hingga pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Jenderal.

Pada saat S Parman memegang jabatan Asisten I Bidang intilijen dimana pengaruh paham PKI sudah melebar hingga keseluruh bidang kenegaraan. Lawan utama dari PKI adalah Angkatan Darat TNI, dimana PKI membuat isu bawah Angkatan Darat akan menggulingkan tampuk kekuasaan Presiden Soekarno, maka dari itu PKI dengan isu atau fitnah ini mendesak Presiden membentuk angkatan kelima dimana isi dari angkatan ini adalah buruh dan tani yang dipersenjatai.

Pada saat inilah S Parman juga paling lantang yang tidak suka dengan alur jalannya PKI, sehingga ia dibunuh dan ditemukan jasadnya di Lubang Buaya Jakarta, dimana ia dibunuh ole peristiwa G30SPKI yang dipimpin oleh Serma Satar dari Tjakrabirawa, dimana ia sebelum wafat disiksa terlebih dahulu dan hingga jasadnya pada 4 Oktober tahun 1965 ditemukan di lubang Buaya Jakarta, dan karena inilah ia mendapatkan gelar pahlawan revolusi Indonesia., dimana S Parman diculik oleh kakanya sendiri Ir. Sakirman yang merupakan petinggi dari PKI.

5. Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan

mayjen panjaitan

Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan lahir di Balige, Provinsi Sumatera Utara, pada tanggal 9 Juni tahun 1925, ia merupakan tokoh dari tubuh TNI dan juga merupakan salah satu pahlawan revolusi Indonesia yang gugur atas kekejaman PKI pada masa itu.

Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan merupakan salah satu tokoh revolusi yang terkenal di Indonesia, walaupun ia meninggal dunia pada usia yang sangat masih muda 40-an tahun, perjuangan Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan sangat patut dihargai dan diacungi jempol.

Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan adalah pahlawan revolusi Indonesia, ia mendapatkan pendidikannya SD hingga perkuliahan di Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat. Saat masih di Indonesia Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan pernah menjadi anggota Gyugun di Ibukota Pekanbaru Provinsi Riau.

Dan ikut serta membentuk TKR (Tentara Kemanan Rakyat) yang sekarang kita kenal sebagai TNI, ia mendapatkan peran yang penting di TKR menjadi Komandan Batalyon hingga mendapatkan jabatan Komandan Devisi 9.Banteng di Sumatera Barat, Bukittinggi di tahun 1948-an, ia juga mendapatkan jabatan yang penting menjadi Kepala Staff Umum IV/Komandemen Tentara Sumatera.

Setelah menuntut ilmu nun jauh disana di Amerika Serikat, Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan berhasil membongkar kedok dari PKI, yang dikirim senjata melalui peti-peti bangunan yang dikirim dari negara China, senjata ini akan digukana oleh para PKI untuk melakukan pemberontakan.

Dalam aksi yang dilakukan oleh Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan yang berhasil membongkar kedok dari PKI, membuat Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan masuk dalam daftar merah kawanan PKI dan menjadi sasaran pembunuhan bersama para perwira lainnya, hingga ia ditemukan jasadnya pada 4 oktober tahun 1965 di Lubang Buaya Jakarta, maka dari jasanya ini pemerintah memberikan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia.

6. Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo

mayjen sutoyo

Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 18 Oktober tahun 1922, dan ia meninggal di Lubang Buaya, Jakarta pada usia 43 tahun, beliau merupakan pahlawan revolusi Indonesia yang gugur dibunuh oleh pemberontak PKI dalam peristiwa gerakan 30 September 1965.

Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo pernah mendapatkan pendidikan di HIS hingga AMS di Jawa Tengah, Semarang, dan melanjutkan pendidikannya di Balai Pendidikan Pegawai Negeri Jakarta, awal dari karir Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo ia sebagai Polisi Milter pada saat perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selama itu ia karirnya terus naik melejit hingga mendapatkan pangkat Kolonel di tahun 1961 dan menjabat sebagai IRKEHAD, hingga pada tahun 1964 selang 3 tahun ia dinaikkan pangkatnya menjadi Brigadir Jenderal.

Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo ia dikenal oleh Masyarakat Indonesia karena perjuangan ia melawan pemberontakan yang dilakukan oleh PKI, pada tanggal 1 Oktober tahun 1965, sebelum peristiwa besar ini pak Sutoyo mendapatkan firasat yang tidak enak, sempat sebelum kejadian itu ia memerintahkan untuk membuat hari ABRI pada tanggal 5 Oktober tahun 1965.

Benar dugaan itu, Pak Sutoyo pada tanggal 1 Oktober tahun 1965 dia ditawan oleh satu peleton pasukan, pada pukul 00.40 WIB, ia diculik oleh beberapa pasukan yang dipimpin oleh Serma Surono dan Men Cakrabirawa, hingga sampai masuk kedalam kamar pak Sutoyo para pasukan PKI ini mengatakan sang Jenderal di panggil oleh Presiden Soekarno, dibawa hingga keluar rumah, ia dikawal dan diapit oleh Serda Sudibyo dan Pratu Sumardi, hingga ia dibawa menuju truk meninggalkan rumahnya, dan dibawa kemarkas PKI, dan di siksa sebelum masuk kedalam Lubang Buaya, maka dari ini ia gugur sebagai pahlawan revolusi Indonesia bersama perwira lainnya.

7. Kapten Czi. Pierre Andries Tendean

kapten tendean

Kapten Czi. Pierre Andries Tendean lahir pada 21 Februari tahun 1939, dan ia meinggal tanggal 1 Oktober tahun 1965 pada usia yang sangat sangat masih muda yakni 26 tahun, dimana dia merupakan perwira dari tubuh TNI dan merupakan korban dari peristiwa G30SPKI.

Dalam karir militer Kapten Czi. Pierre Andries Tendean merupakan sang Ajudan Jenderal Besar Ah Nasution dengan pangkat Lentan Satu, kemudian ia mendapatkan gelar Kapten Anumerta setelah ia meninggal karena korban PKI, kemudian ia dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, bersama para perwira lainnya, dan beliau merupakan pahlawan revolusi Indonesia.

8. AIPDA Karel Satsuit Tubun

AIPDA Karel Satsuit Tubun

AIPDA Karel Satsuit Tubun lahir di pulau Maluku pada tanggal 14 Oktober tahun 1928, dan ia meninggal pada tanggal 1 Oktober tahun 1965, dimana usia ia pada saat itu masih 36 tahun, ia meninggal karena menjadi korban gerakan 30 September 1965 oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) dan beliau merupakan pahlawan revolusi Indonesia, yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

AIPDA Karel Satsuit Tubun merupakan pahlawan revolusi Indonesia yang menjadi korban peristiwa G30SPKI pada tahun 1965, AIPDA Karel Satsuit Tubun menjadi Polisi saat ia di Ambon, ia mendapatkan pendidikan Kepolisian, saat selama pendidikan ia mendapatkan pangkat AIPDA hingga kemudian ia bergabung kesatuan Brigade Mobil (Brimob) di Ambon, hingga akhirnya dimutasi ke Ibu Kota Jakarta.

Dimana AIPDA Karel Satsuit Tubun ditugaskan pada saat itu untuk menjaga atau mengamankan rumah Dr. J Leiman, dimana rumah Dr. J Leiman ini bertetangga dengan rumah AH Nasution, hingga terdengar suara gaduh yang dilakukan oleh PKI, akhirnya AIPDA Karel Satsuit Tubun terjaga saat itu sedang dalam keadaan istirahat, maka ia bergegas mengambil senjata dan menembak gerombolan PKI namun tidak seimbang, PKI juga melakukan perlawanan dimana akhirnya AIPDA Karel Satsuit Tubun gugur terkena tembakan dan kalah dalam hal jumlah dan senjata, dan ia merupakan orang pertama pahlawan dalam institusi Kepolisian Republik Indonesia.

9. Brigadir Jenderal TNI Katamso Darmokusumo

Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo

Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo ia lahir pada tanggal 5 Februari tahun 1923 di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dan meninggal di Yogyakarta, karena kekejaman PKI, ia tidak meninggal di Jakarta bersamaan dengan perwira lainnya, melainkan di Yogyakarta, namun tanggal ia wafat sama seperti Jenderal lainnya pada 1 Oktober tahun 1965.

Pada sore hari PKI menculik Komandan Korem 072, Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Sugiono, usai diculik ia dibawa ke daerah bernama Kuntungan, kedua perwira itu disiksa sebelum dibunuh dengan kunci mortar dan dimasukkan kedalam lubang yang sudah disediakan oleh PKI, namun jasad kedua tokoh ini ditemukan hampir satu bulan, yakni ditemukan pada tanggal 21 Oktober tahun 1965, dimana jasad ia temukan dalam keadaan rusak, dan ia gugur menjadi pahlawan revolusi Indonesia, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta dan gugur sebagai pahlawan revolusi Indonesia.

10. Kolonel Inf. R. Sugiyono Mangunwiyoto

Kolonel Inf. R. Sugiyono Mangunwiyoto

Kolonel Inf. R. Sugiyono Mangunwiyoto lahir pada tanggal 21 Agustus tahun 1926, di Kabupaten Klaten, Yogyakarta, ia meninggal pada tanggal 1 Oktober tahun 1965 dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta dimana ia gugur sebagai pahlawan revolusi karena ulah PKI pada saat itu.

Berikut 10 daftar pahlawan revolusi Indonesia, karena kekejaman PKI tak segan-segan membunuh para pejabat Militer dan Polisi pada masa itu, diatas adalah mereka para pahlawan Indonesia yang menjaga dan mencegah Indonesia di ambang kehancuran oleh perbuatan oleh separatisme, maka dari itu sebagai bangsa yang kuat dan adil juga beradab, maka laporkanlah ketika ada kegiatan PKI kepada TNI, jangan sungkan untuk melapor ini kepada anggota TNI, jika perlu datangi markas besar TNI nya, biar ditumpas habis oleh TNI.

Karena sebagai prajurit TNI ini merupakan pukulan telak, dimana para Jenderal kebanggaan mereka di habisi secara tidak manusiawi, dan ini hal memilukan juga bagi rakyat Indonesia, terutama para keluarganya yang di tinggalkannya, semoga Allah senantiasa menjaga NKRI ini melalui TNI, POLRI, Ulama, dan rakyat Indonesia.

Komentar disini