11 Obat Keputihan Resep Dokter Paling Ampuh dan Efektif

Kalimat.IDObat Keputihan Resep Dokter – Keputihan dalam istilah medis disebut juga dengan leukorrhea, yaitu suatu cairan yang secara normal keluar dari vagina secara berkala. Keputihan sendiri terdiri dari sel dan cairan vagina yang meluruh secara terus-menerus secara alami.

Sama halnya dengan menstruasi, peluruhan cairan vagina ini merupakan tanda bahwa tubuh bekerja dengan baik. Cairan tersebut berguna untuk membersihkan vagina dan mengganti sel-sel baru.

Tak hanya itu, cairan vagina atau keputihan juga berguna untuk melembabkan, memelihara jaringan vagina dan melindungi vagina dari iritasi dan infeksi.

Namun, keputihan juga bisa dikatakan tidak normal dan harus segera diatasi. Keputihan yang tidak normal bisa menjadi tanda masalah yang serius pada kesehatan. Wanita yang mengalami keputihan tidak normal biasanya akan merasa nyeri, panas dan gatal pada vagina.

Seberapa Umumkah Keputihan?

Keputihan sangat umum terjadi pada wanita, baik keputihan normal maupun tidak normal. Keputihan bisa terjadi pada wanita pada usia pubertas bahkan setelah menopause.

Setidaknya ada 75% wanita di dunia yang mengalami keputihan, walaupun hanya sekali seumur hidup. Sedangkan 45% mengalami keputihan lebih dari dua kali.

Wanita yang kurang istirahat dan menjalani pola hidup yang kurang sehat memiliki risiko keputihan lebih tinggi.

Penyebab Keputihan

Keputihan yang normal terjadi secara alami sebagai tanda bahwa vagina sedang melakukan pembersihan. Namun, jika cairan keputihan yang keluar berbeda dari biasanya dan berbau tidak sedap, bisa jadi merupakan tanda adanya gangguan kesehatan.

Berikut ini adalah beberapa penyebab keputihan tidak normal yang sering dialami wanita:

1. Infeksi Jamur

Keputihan yang disebabkan oleh infeksi jamur biasanya lebih kental, berwarna putih susu dan berbau tak sedap. Selain itu, keputihan akibat infeksi jamur juga menyebabkan rasa gatal pada vagina. Karena rasa hal tersebut, mulut vagina akan mengalami iritasi dan meradang.

Infeksi jamur pada vagina bisa dipicu oleh pemakaian pil KB, kehamilan, diabetes dan daya tahan tubuh yang menurun.

Bahkan, keputihan ini bisa menular pada bayi baru lahir karena proses persalinan yang mengharuskan bayi melewati vagina dan tidak sengaja menelan cairan keputihan. Infeksi jamur pada vagina juga bisa terjadi akibat stres dan mengonsumsi antibiotik.

2. Parasit Trichomonas Vaginalis

Keputihan juga bisa disebabkan oleh parasit trichomonas vaginalis. Parasit jenis ini ditularkan melalui hubungan seksual, bibir kloset dan perlengkapan mandi.

Keputihan yang disebabkan oleh parasit trichomonas vaginalis ditandai dengan cairan kental berwarna kuning atau kehijauan, berbuih dan berbau amis. Keputihan akibat parasit tidak menyebabkan gatal, hanya saja lubang vagina akan terasa nyeri jika ditekan.

3. Virus

Keputihan akibat virus identik dengan penyakit kelamin seperti herpes, condyloma dan AIDS. Virus herpes ditularkan melalui hubungan badan. Herpes ditandai dengan luka melepuh di sekeliling vagina, terasa gatal dan panas.

Sedangkan condyloma memiliki gejala seperti bintil-bintil pada vagina dan cairan keputihan yang berbau tak sedap.

Keputihan akibat condyloma sering dialami oleh wanita yang sedang hamil. Gejala-gejala keputihan yang timbul karena virus bisa memicu kanker rahim.

4. Radang Vagina

Radang vagina atau vaginitis juga bisa menyebabkan keputihan. Radang vagina bisa terjadi karena ketidakseimbangan bakteri pada vagina sehingga menimbulkan infeksi. Selain itu, turunnya kadar estrogen pada wanita yang sudah menopause juga bisa memicu radang vagina.

Vaginitis akan memicu vagina untuk mengeluarkan cairan keputihan yang tidak normal dengan volume yang lebih banyak dari keputihan normal.

5. Radang Leher Rahim

Keputihan yang tidak normal bisa disebabkan oleh adanya peradangan pada leher rahim. Peradangan leher rahim dipicu oleh alergi alat kontrasepsi, infeksi menular seksual dan bakteri berlebih pada vagina.

Keputihan karena radang leher rahim ditandai dengan rasa nyeri saat buang air kecil dan perdarahan setelah berhubungan seks.

6. Radang Panggul

Tak hanya radang vagina dan leher rahim saja, radang panggul juga bisa menyebabkan keputihan abnormal. Radang pada panggul bisa ditularkan lewat hubungan seksual.

Bakteri yang masuk melalui lubang vagina menyebar hingga ke rahim, saluran tuba dan panggul. Keputihan akibat radang panggul ditandai dengan keluarnya cairan yang berbau dan berwarna.

7. Kanker Serviks

Penyakit lainnya yang memicu timbulnya keputihan abnormal yaitu kanker serviks. Sel- sel kanker serviks berkembang pada leher rahim dan mengeluarkan cairan yang berwarna putih melalui vagina.

Pada kondisi yang lebih parah, cairan yang keluar bisa berwarna kecoklatan bahkan disertai darah dan bau yang menyengat.

8. Kencing Nanah

Penyakit kencing nanah bisa memicu keluarnya cairan yang tidak normal pada vagina. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Neisseria Gonorrhoeae dan ditularkan melalui hubungan badan.

9. Trikomoniasis

Trikomoniasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit kecil yang juga disebut protozoa. Sama seperti kencing nanah, Trikomoniasis juga ditularkan melalui hubungan seksual.

Trikomoniasis juga bisa memicu keluarnya cairan keputihan berwarna abu, kuning dan hijau pada vagina. Keputihan akibat trikomoniasis biasanya menimbulkan bau yang menyengat.

10. Chlamydia

Keputihan abnormal juga bisa menjadi tanda adanya penyakit Chlamydia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri chlamydia trachomatis. Chlamydia bisa ditularkan melalui hubungan seksual, baik oral, vaginal maupun anal.

Keputihan akibat Chlamydia ditandai dengan cairan vagina yang keluar secara terus-menerus. Gejala tersebut biasanya terjadi setelah 1 atau 2 minggu setelah terpapar bakteri chlamydia trachomatis.

11. Bakteri Gardnerella

Pemicu keputihan abnormal lainnya yang sering terjadi adalah bakteri Gardnerella. Keputihan yang disebabkan oleh bakteri gardnerella biasanya ditandai dengan keluarnya cairan berwarna keabuan, berbuih dan berbau anyir.

Faktor – Faktor Risiko Keputihan

Selain beberapa pemicu keputihan abnormal yang telah diterangkan sebelumnya, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko keputihan, yaitu:

– Memiliki riwayat penyakit diabetes
– Memiliki pasangan seksual lebih dari satu
– Tidak menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan badan
– Jarang membersihkan organ intim
– Lemahnya sistem imun pada tubuh
– Menggunakan KB hormonal
– Stres yang berlebihan

Kapan Harus Berkonsultasi Ke Dokter?

Ada banyak sekali tanda dan gejala yang muncul karena keputihan, baik keputihan normal maupun keputihan abnormal.

Ada wanita yang hanya mengalami keputihan sekali seumur hidup. Namun tak sedikit wanita yang sangat sering mengalami keputihan. Cairan yang keluar pun bisa sedikit dan bisa dalam jumlah yang lebih banyak.

Cairan keputihan umumnya keluar lebih banyak saat siklus haid dan ovulasi. Tak ada patokan yang pasti jumlah cairan keputihan yang masih dianggap normal, karena berbeda-beda pada setiap wanita.

Saat hamil, cairan yang keluar akan lebih banyak dari biasanya. Hal ini juga dialami oleh wanita yang telah menikah dan menggunakan KB hormonal. Selain jumlah cairan, warna, tekstur dan bau yang ditimbulkan juga berbeda-beda pada setiap wanita.

Namun, keputihan yang normal biasanya memiliki ciri-ciri seperti berikut:
– Tidak berbau busuk atau menyengat
– Berwarna bening
– Lengket dan licin
– Encer dan tidak terlalu kental

Anda harus berhati-hati jika keputihan yang anda alami tidak sama dengan ciri-ciri keputihan diatas, baik dari segi warna, tekstur, volume dan aromanya.

Segeralah berkonsultasi dengan dokter jika anda mengalami keputihan dengan ciri-ciri seperti berikut:

– Cairan yang keluar berwarna keabuan, kekuningan atau kehijauan
– Sekitar vagina terasa gatal
– Rasa seperti terbakar pada vagina
– Tekstur terlalu kental
– Cairan berbusa
– Terlihat seperti bongkahan putih dengan cairan yang kental
– Berbau amis atau menyengat
– Vagina terasa perih dan kemerahan
– Mengalami perdarahan diluar masa menstruasi secara tiba-tiba
– Panggul terasa nyeri

Bagaimana Cara Mendiagnosa Keputihan?

Untuk mendiagnosis keputihan, biasanya dokter akan akan menggali tentang riwayat penyakit yang pernah anda derita.

Dokter bisa saja bertanya sejak kapan anda mengalami keputihan, bagaimana tekstur dan warna cairannya, berbau atau tidak. Dokter juga mungkin akan bertanya mengenai hubungan seksual anda.

Jadi, jangan sungkan untuk menceritakan keluhan yang anda rasakan kepada dokter. Hal ini sangat penting untuk menentukan diagnosa keputihan yang anda alami. Diagnosa yang tepat dan akurat akan membantu anda untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai.

Tak hanya itu, untuk pemeriksaan yang lebih lanjut, dokter biasanya akan melakukan pengambilan sampel cairan keputihan atau sel dari leher rahim dengan pap smear.

Obat Keputihan Resep Dokter yang Ampuh

Untuk mengobati keputihan, anda bisa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter tentang obat-obatan yang sesuai untuk anda. Jika penyebab keputihan anda telah diketahui dengan pasti, dokter biasanya akan memberi resep obat yang harus anda konsumsi.

Keputihan yang masih tergolong ringan, biasanya akan sembuh dalam waktu seminggu hingga 2 minggu. Berikut ini adalah beberapa obat keputihan resep dokter yang sering diberikan kepada pasien:

1. Metronidazole

Obat keputihan resep dokter yang paling sering digunakan adalah metronidazol. Metronidazol sangat disarankan dan aman untuk mengatasi keputihan. Obat ini dapat mengobati keputihan yang disebabkan oleh bakteri, jamur hingga virus.

Namun, obat ini sangat tidak disarankan untuk dikonsumsi wanita hamil dan ibu menyusui. Selain itu, Metronidazole sebaiknya tidak dikonsumsi untuk jangka panjang, kecuali dibawah pengawasan dokter.

Metronidazole juga memiliki efek samping seperti gangguan saluran pencernaan dan mengurangi nafsu makan. Namun, efek samping seperti ini jarang terjadi. Metronidazole bisa dikonsumsi dengan makanan maupun dikonsumsi setelah makan dengan dosis 3×1 tablet per hari.

2. Micozole

Obat keputihan resep dokter berikutnya yang cukup manjur adalah Micozole. Micozole merupakan obat yang masuk dalam golongan antibiotik.

Micozole tersedia dalam kemasan tablet 200 mg. Obat ini tidak untuk diminum, melainkan untuk dimasukkan ke dalam vagina selama 6 hari sebelum tidur malam.

Micozole tidak boleh digunakan untuk jangka panjang. Selain itu, Micozole juga tidak boleh digunakan oleh penderita hipersensitif komponen. Efek samping yang mungkin muncul setelah penggunaan Micozole yaitu anoreksia atau tidak nafsu makan.

3. Miconazole Cream

Selain obat oral dan vaginal, ada obat keputihan resep dokter lainnya yang berbentuk cream, yaitu Miconazole Cream. Miconazole cream bisa mengatasi keputihan dengan efektif dan aman.

Jenis keputihan yang bisa diatasi dengan Miconazole cream adalah keputihan yang disebabkan oleh parasit topikal dan jamur. Tak hanya mengobati keputihan, miconazole cream juga bisa digunakan untuk mengobati penyakit kulit seperti kutu air dan kurap.

Cara menggunakan miconazole cream sangat praktis, anda hanya perlu mengoleskannya pada vagina secara rutin, namun jangan mengoleskannya secara berlebihan. Efek samping yang bisa terjadi akibat pemakaian miconazole cream yaitu dermatitis dan iritasi.

4. Albothyl Ovula

Albothyl Ovula merupakan salah satu obat keputihan resep dokter yang cukup ampuh. Tak hanya mengobati keputihan biasa, obat berbentuk tablet ovula ini juga bisa mengatasi vaginitis, servisitis, dan masalah lainnya yang memicu keputihan.

Albothyl Ovula bisa didapatkan di apotek dengan resep maupun tanpa resep dari dokter. Namun, penggunaan obat ini sangat tidak dianjurkan bagi penderita hipersensitif. Dosis penggunaan yang aman yaitu 1 tablet sehari selama 6 hari berturut-turut.

5. Albothyl Concentrate

Selain Albothyl Ovula, ada obat keputihan resep dokter lainnya yang bisa anda gunakan, yaitu Albothyl Concentrate. Obat ini mampu mengatasi keputihan yang disebabkan oleh bakteri, jamur dan virus.

Selain mengobati keputihan, Albothyl Concentrate dikenal sebagai obat untuk sariawan

Jika anda berkonsultasi dengan dokter mengenai keputihan, dokter mungkin akan meresepkan obat ini untuk anda. Namun, anda juga bisa mendapatkan Albothyl Concentrate di apotek tanpa resep dokter.

Albothyl concentrate bahkan sangat aman digunakan saat hamil, dan menjadi rekomendasi para dokter kandungan bagi ibu hamil yang menderita keputihan. Obat ini mengandung policresulen.

Albothyl concentrate dikemas dalam 3 kemasan, yaitu kemasan 30 ml, 10 ml dan 5 ml. Tidak ada kandungan yang berbeda dalam masing-masing kemasan, yang membedakan hanya volume dan harganya saja.

Albothyl concentrate dapat digunakan setelah mandi. Caranya, campurkan 6-10 tetes albothyl concentrate dengan air hangat, lalu gunakan untuk membasuh vagina.

6. Fluconazole

Obat keputihan resep dokter berikutnya yang bisa anda gunakan adalah Fluconazole. Fluconazole pada dasarnya merupakan jenis obat yang mampu mengobati infeksi jamur.

Cara kerja obat ini adalah dengan menghentikan atau menghambat pertumbuhan jamur dan enzim pertumbuhan jamur.

Bagian tubuh yang sering terinfeksi jamur yaitu vagina, saluran kemih, mulut, kerongkongan, tenggorokan, paru-paru dan rongga perut.

Tak hanya itu, Fluconazole juga dapat mengobati penyakit meningitis yang disebabkan oleh jamur cryptococcal meningitis.

Fluconazole juga bisa mencegah terjadinya infeksi jamur pada orang yang sistem imunnya lemah, seperti penderita kanker yang tengah menjalani radioterapi, kemoterapi, dan juga penderita HIV/AIDS.

7. Tinidazole

Obat keputihan resep dokter yang satu ini tak kalah manjur dengan obat keputihan lainnya, bahkan dengan efek samping yang sedikit. Tinidazole masuk dalam golongan antibiotik yang dapat menghambat perkembangan bakteri.

Tak heran jika obat ini bisa digunakan untuk mengatasi keputihan. Tinidazole dikemas dalam bentuk cream dan tablet.

Tinidazole cream bisa langsung dioleskan pada vagina. Untuk mengonsumsi tinidazole tablet, sebaiknya hindari minuman beralkohol.

8. Clindamycin

Clindamycin juga merupakan obat keputihan resep dokter yang bisa anda gunakan. Clindamycin dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada organ intim wanita sekaligus mencegah menyebarnya infeksi ke bagian tubuh lainnya.

Clindamycin tersedia dalam bentuk tablet dan cream. Namun, untuk mengobati keputihan sangat disarankan untuk menggunakan Clindamycin cream.

Saat melakukan pengobatan dengan Clindamycin, sebaiknya hentikan penggunaan alat kontrasepsi seperti kondom. Sebab, Clindamycin cream bisa merusak kondom, walaupun anda tidak lagi menggunakan cream tersebut setelah 3 hari.

9. Doxycycline

Obat keputihan resep dokter yang satu ini juga sangat ampuh untuk mengatasi keputihan. Doxycycline merupakan antibiotik yang mampu membunuh bakteri penyebab keputihan.

Doxycycline tidak dianjurkan untuk wanita hamil ataupun yang sedang melakukan program kehamilan, karena dapat meningkatkan risiko bayi lahir cacat. Obat keputihan resep dokter ini diberikan dengan dosis pemakaian satu kali seminggu.

10. Ceftriaxone

Selanjutnya, anda juga bisa mengonsumsi obat keputihan resep dokter yang satu ini. Ceftriaxione sangat ampuh mengobati keputihan karena dapat menghentikan pertumbuhan bakteri yang menyebabkan keputihan.

Obat ini biasanya digunakan pada penderita penyakit kencing nanah yang juga menjadi pemicu keputihan abnormal.

Obat keputihan resep dokter ini diberikan dengan dosis 1-2 kali sehari melalui suntikan vena atau otot. Penggunaan ceftriaxone dapat menyebabkan efek samping seperti kemerahan, bengkak dan rasa nyeri pada area bekas suntikan.

Jika efek samping tersebut tidak menghilang dan justru semakin memburuk, silahkan berkonsultasi kembali dengan dokter.

11. Erythromycin

Obat keputihan resep dokter yang terakhir adalah Erythromycin. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penyakit kencing nanah dapat menular dari ibu ke bayi lewat jalan lahir.

Sehubungan dengan itu, Erythromycin hanya digunakan untuk bayi yang terinfeksi gonore atau kencing nanah dari ibunya. Pemberian Erythromycin dilakukan dengan penyuntikan.

Mengatasi Keputihan Dengan Perawatan Medis Lainnya

Selain mengonsumsi obat keputihan resep dokter, anda juga bisa mengobati keputihan dengan perawatan medis lainnya.

Keputihan abnormal biasanya disebabkan oleh adanya infeksi bakteri, jamur dan virus pada organ intim. Keputihan bisa saja terjadi akibat perubahan hormon yang signifikan dalam tubuh wanita.

Keputihan juga dapat keluar dengan jumlah lebih banyak saat sedang hamil, menyusui, masa menopause. Penggunaan alat kontrasepsi hormonal juga bisa memicu timbulnya keputihan. Jenis keputihan seperti ini bisa disebabkan oleh vaginitis atrofi.

Diluar infeksi, keputihan dapat diatasi dengan perawatan medis seperti berikut:

1. Ganti metode KB

Metode KB hormonal seperti pil dan IUD dapat menyebabkan keputihan. Jika hal ini terjadi setelah anda menggunakan KB hormonal, segeralah berkonsultasi dengan ahli medis seperti dokter kandungan dan bidan.

Biasanya dokter dan bidan akan menyarankan untuk mengganti metode KB lainnya yang cocok untuk kondisi anda.

2. Terapi Hormon

Masih berkaitan dengan hormon, keputihan kerap terjadi di masa menopause. Keputihan pada masa menopause bisa diobati dengan terapi hormon estrogen.

Terapi hormon estrogen bisa dilakukan dengan pemberian obat oral atau melalui suntikan. Namun, terapi hormon estrogen dengan obat oral biasanya lebih efektif daripada suntikan.

3. Pembedahan

Jika penyebab keputihan adalah kanker serviks, maka cara mengobatinya yaitu dengan melakukan pembedahan atau operasi.

Pembedahan untuk kanker serviks bisa dilakukan dengan 3 cara, yaitu:

Trachelectomy
Trachelectomy dilakukan dengan cara mengangkat jaringan yang berada disekitar leher rahim serta vagina bagian atas tanpa menyentuh rahim.

Histerektomi
Pembedahan ini dilakukan dengan pengangkatan rahim berikut serviks, ovarium bahkan saluran tuba.

Pelvis Exenteration
Cara pembedahan yang terakhir yaitu Pelvis exenteration yang dilakukan dengan pengangkatan rahim, serviks, ovarium, saluran tuba, vagina, kandung kemih dan rektum.

4. Kemoterapi

Selain pembedahan, keputihan yang disebabkan oleh kanker serviks juga bisa diatasi dengan kemoterapi.

Kemoterapi bisa dilakukan dengan pemberian beberapa obat untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker.

Obat yang diberikan kepada pasien tidak hanya berupa obat oral, tetapi juga melalui penyuntikan pada selang infus agar obat bisa cepat bereaksi melalui aliran darah.

Pengobatan dengan kemoterapi memiliki beberapa efek samping yang cukup mengganggu. Bahkan, ada beberapa obat kemoterapi yang dapat merusak ginjal.

Selain merusak ginjal, kemoterapi juga menyebabkan beberapa efek samping lainnya, yaitu:
– Rasa nyeri pada tubuh
– Kerusakan jaringan disekitar sel kanker
– Tubuh terasa lelah
– Diare
– Nafsu makan berkurang
– Kerontokan rambut

Karena banyaknya efek samping yang bisa timbul saat melakukan kemoterapi, anda pasien harus benar-benar berada dalam pengawasan dokter.

Selain obat-obatan, kemoterapi juga bisa dikombinasikan dengan radioterapi, yakni terapi dengan menggunakan radiasi tingkat tinggi. Radioterapi dilakukan untuk memperkecil sel tumor dan menghancurkan sel kanker.

Cara Mencegah Keputihan

Selain melakukan pengobatan, keputihan juga bisa dicegah dengan melakukan beberapa hal. Karena keputihan tidak selalu diartikan sebagai penyakit.

Normalnya, vagina memang memiliki kemampuan untuk melakukan pembersihan sendiri, yaitu dengan mengeluarkan cairan yang disebut keputihan. Namun, keputihan juga bisa menjadi tidak normal jika terdapat infeksi pada vagina.

Untuk mencegah timbulnya keputihan yang tidak normal, ada beberapa hal yang perlu anda lakukan, antara lain:

1. Memperhatikan Kebersihan Vagina

Kebersihan vagina harus diperhatikan agar terhindar dari infeksi bakteri dan jamur. Untuk membersihkan vagina, sebaiknya hindari pemakaian sabun mandi biasa. Karena sabun mandi dapat menyebabkan pH vagina tidak seimbang.

Pada kondisi normal, pH vagina berkisar antara 3,8 hingga 4,5. Sedangkan sabun mandi memiliki pH antara 7 hingga 8.

Pada wanita yang vaginanya sensitif, membersihkan vagina dengan sabun mandi dapat menyebabkan alergi dan iritasi.

Untuk itu, sebaiknya gunakan sabun yang tidak mengandung pewangi atau parfum untuk membersihkan vagina. Jika perlu, bersihkan vagina dengan tisu bersih setiap selesai buang air kecil agar tidak lembab.

Sekalah vagina dengan tisu dari arah depan vagina ke bagian belakang (dekat anus). Cara tersebut dilakukan untuk mencegah bakteri yang berada disekitar anus pindah ke vagina.

2. Ganti Celana Dalam

Hal berikutnya yang perlu anda lakukan untuk mencegah keputihan yaitu dengan sering mengganti celana dalam.

Gantilah celana dalam 2 atau 3 kali dalam sehari, terutama jika celana dalam sudah terasa lembab karena sering buang air kecil.

Cara ini cukup efektif untuk mencegah perkembangan bakteri pada vagina. Sering mengganti celana dalam juga dapat mencegah timbulnya bau tak sedap pada vagina.

Selain itu, anda juga harus menggunakan celana dalam dengan bahan yang tepat. Pilihlah celana dalam yang bahannya terbuat dari katun dan hindari pemakaian celana yang ketat.

Pemakaian celana dalam yang tidak terlalu ketat akan memberikan ruang pada vagina untuk “bernapas” sehingga dapat mencegah iritasi pada vagina yang akhirnya akan memicu keputihan.

3. Ganti Pembalut

Untuk mencegah keputihan, anda juga perlu memperhatikan kebersihan vagina saat menstruasi. Seringlah mengganti pembalut, terutama saat hari-hari pertama menstruasi yang mana darah menstruasi keluar lebih banyak.

Hindari memakai pembalut yang sama dalam waktu yang lama. Pada hari-hari terakhir menstruasi, anda juga bisa menggunakan pembalut yang tipis atau pantyliner karena darah yang keluar biasanya sangat sedikit dan hanya berupa flek kecoklatan.

Hal ini dilakukan untuk mengurangi kelembapan pada vagina akibat pemakaian pembalut yang tebal.

4. Mengonsumsi Makanan yang Sehat

Kesehatan vagina juga dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi. Keputihan dapat dicegah dengan banyak mengonsumsi makanan yang bergizi dan sehat.

Mengonsumsi yogurt dan jus buah sangat baik untuk kesehatan reproduksi karena dapat mencegah pertumbuhan bakteri pada vagina.

5. Melakukan Hubungan Seksual Secara Aman

Banyak penyakit yang diakibatkan oleh bakteri dan ditularkan melalui hubungan seksual, misalnya herpes, sifilis, gonore dan AIDS. Penyakit-penyakit tersebut bisa memicu timbulnya keputihan yang tidak normal.

Untuk mencegahnya, mintalah pasangan anda untuk menggunakan alat kontrasepsi seperti kondom saat melakukan hubungan seksual.

6. Lakukan Pemeriksaan Serviks Secara Rutin

Keputihan dapat dideteksi dengan melakukan pemeriksaan serviks secara rutin. Pemeriksaan serviks secara rutin juga sangat dianjurkan pada wanita untuk mendeteksi gangguan pada leher rahim dan kanker serviks sejak dini.

Keputihan memang sangat umum terjadi pada wanita. Namun, keputihan yang ditandai dengan cairan berwarna, berbau dan menimbulkan rasa gatal perlu diwaspadai dan segera diatasi.

Sebelum mulai menggunakan obat-obatan, ada baiknya berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter agar pengobatan bisa dilkakukan dengan tepat.

Komentar disini
Hosting Unlimited Indonesia