Sejarah Lengkap Isi Piagam Jakarta (Jakarta Charter)

Isi Piagam Jakarta

Kalimat.ID – Mengenal lebih jauh tentang isi Piagam Jakarta. Piagam tersebut memang salah satu dokumen terpenting yang mempuntai nilai sejarah berisikan rumusan pancasila yang menjadi dasar daroi negara kita Indonesia. Bahkan didalamnya juga termuat tentang teks pembukaan dari UUD 1945. Piagam tersebut akhirnya berhasil dirumuskan tepatnya tanggal 22 Juni tahun 1945. Dimana piagam ini sudah di setujui oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Kabarnya penyusunan teks telah dilaksanakan oleh anggota panitia Sembilan.

Saat pembuatan piagam Jakarta ini ternyata sempat ada sebuah perdebatan yang telah terjadi antar kelompok Islam maupun kelompok Nasionalis. Hal ini berkaitan dengan naskah dari piagam Jakarta pada sila yang pertama yang termuat dalam isi piagam Jakarta ini. Namun permasalahan yang terjadi akhirnya bisa juga terselesaikan. Piagam Jakarta ternyata memberikan dampak yang begitu besar tentang terbentuknya sebuah pondasi negara Indonesia yang merdeka. Hanya saja pada sisi lainnya juga menimbulkan sebuah kontroversi terlebih dalam perubahan yang ada pada sila yang pertama.

Ketika perang antara pasukan Jepang melawan sekutu ini berlangsung, Indonesia memperoleh sebuah janji kemerdekaan yang telah direalisasikan oleh BPUPKI. Pembentukan badan ini ternyata berhasil dilaksanakan tepatnya tanggal 29 April tahun 1945 kemudian pelantikan dilakukan tanggal 28 Mei tahun 1945. Hal ini tentu saja menjadi bukti yang paling nyata dari Jepang atas Kemerdekaan Indonesia.

Dalam hal perencanaan sekaligus penyiapan berbagai macam kebutuhan akan kemerdekaan, BPUPKI ini mempunyai masalah yang begitu banyak tentang perbedaan pendapat. Hingga akhirnya saat itu Piagam Jakarta pun dimunculkan. Kali ini kita memang akan membahas informasi mengenai latar belakang, bagaimana proses pembentukannya, isi piagam Jakarta, bahkan juga waktu maupun tempat pelaksanaannya. Semoga saja dari informasi ini kita pun bisa mengerti apa saja isi Piagam Jakarta ini.

Latar Belakang Piagam Jakarta

Ketika menjelang sebuah kekalahan Jepang ketika menghadapai perang dunia yang kedua, pemerintah negate Jepang sudah menjanjikan kemerdekaan Indonesia tepatnya tanggal 7 September tahun 1944. Sebagai salah satu bukti nyata atas janjinya maka dibentuklah BPUPKI yang telah bersiap memulai persidangan yang pertama tepatnya tanggal 29 Mei tahun 1945. Pada saat sidang yang pertama BPUPKI ini melakukan sebuah musyawarah yang memberikan usulan tentang dasar negara sekaligus bentuk dari pemerintahan yang ada di negara Indonesia.

Dalam suatu persidangan, BPUPKI yang mempunyai anggota sebanyak 62 orang ini memang terlihat ada dua kutub dengan pandangan yang berbeda. Dimana 47 orang nasionalis berkeinginan agar Indonesia berdasar pada kebangsaan sedangkan untuk 15 orang yang bergolongan Islam menginginkan Indonesia berdasar pada syariat islam.

Adanya berbagai macam perbedaan pendapat ini ternyata sudah di sampaikan oleh Soepomo tepatnya tanggal 31 Mei tahun 1945. Soepomo berkata “Di sini memang sudah terlihat dua paham, dimana paham yang berasal dari anggota ahli agama lebih mengharuskan agar Indonesia berdiri sebagai negara Islam sedangkan untuk anjuran lainnya berdasarkan pada perkataan Tuan Mohammad Hatta. ” Supaya mampu mengatasi berbagai macam permasalahan yang mungkin terjadi saat sidang yang kedua BPUPKI pada tanggal 10 hingga 16 Juli tahun 1945 ini. Ada sekitar 38 anggota berencana membentuk sebuah panitia kecil yang beranggotakan Sembilan orang atau sering disebut dengan nama Panitia Sembilan.

Kesembilan orang yang tergabung dalam panitia sembilan tersebut adalah:
– Ir. Soekarno
– Drs. Mohammad Hatta
– Mr. A. A. Maramis
– Mr. Muhammad Yamin
– Ahmad Subardjo
– Abikoesno Tjokrosoejoso
– Abdul Kahar Muzakkir
– H. Agus Salim
– K.H Abdul Wahid Hasyim

Lima orang pertama dinilaimerupakan perwakilan dari golongan nasionalis dan empat orang terakhir merupakan perwakilan dari golongan Islam, yaitu Abikoesno Tjokrosoejoso (Partai Sarekat Islam Indonesia), Abdul Kahar Muzakkir (Muhammadiyah) dan Agus Salim (mantan tokoh Partai).

Proses Terbentuknya Piagam Jakarta

Ketika sidang BPUPKI yang kedua ternyata sudah terbentuk panitia Sembilan dimana didalamnya sudah ada 9 anggota agar mampu mengumpulkan berbagai macam gagasan yang terkait dengan persiapan kemerdekaan Indonesia. Bahkan panitia Sembilan ini juga berencana untuk melakukan penyusunan naskah teks proklamasi yang akhirnya menjadi pembukaan UUD 1945 dan di sebut dengan nama Piagam Jakarta.Perumusan Piagam Jakarta dilakukan melalui proses yang panjang, yaitu pada Masa persidangan Kedua BPUPKI yang dilaksanakan pada tanggal 10 sampai 16 Juli 1945.

Adapun untuk sidang BPUPKI pertama nyatanya sudah berakhir, hanya saja rumusan dasar negara untuk Indonesia kala itu masih belum terbentuk. Padahal BPUPKI nantinya akan beristirahat dalam jangka waktu satu bulan penuh. Inilah mengapa BPUPKI berencana melakukan pembentukan panitia yang menjadi perumus dasar negara dengan anggotanya yang berjumlah 9 orang. Tugas dari panitia ini pastinya untuk menampung semua pendapat mengenai pembentukan dasar negara Indonesia. Panitia Sembilan ini nyatanya mampu bekerja dengan cepat dan cerdas hingga akhirnya tanggal 22 Juni tahun 1945 rumusan dasar negara berhasil di buat.

Sejarah Piagam Jakarta

Sejarah dari piagam Jakarta ini sebetulnya di mulai ketika BPUPKI terbentuk. Ketika itu tugas dari BPUPKI ternyata menyiapkan semua proses kemerdekaan Republik Indonesia. Semua anggota dari BPUPKI ini berpendapat tentang dasar negara Indonesia yang pada akhirnya mendapatkan sebutan sebagai Pancasila. Memang ada banyak rumusan dari dasar negara yang sudah dikemukakan oleh Soepomo, Soekarno dan juga Muhammad Yamin.Berikut beberapa usulan dasar negara Indonesia:

A. Usulan mengenai dasar negara oleh Muhammad Yamin

1. Usulan tentang peri kemanusiaan
2. Usulan mengenai peri kebangsaan
3. Usulan mengenai peri kerakyatan
4. Usulan tentang kesejahteraan rakyat
5. Usulan mengenai peri ketuhanan

B. Usulan tentang dasar negara oleh Soepomo

1. Usulan mengenai persatuan
2. Usulan tentang demokrasi
3. Usulan mengenai kekeluargaan
4. Usulan tentang keadilan social
5. Usulan mengenai musyawarah

C. Usulan dasar negara oleh Soekarno

1) Perihal kesejahteraan untuk rakyat
2) Usulan mengenai Ketuhanan Yang Maha Esa
3) Kebangsaan Indonesia
4) Demokrasi

Pencetus Piagam Jakarta

Adapun untuk tokoh yang sudah terkait dalam hal perumusan isi Piagam Jakarta ini ternyata udah bergabung dalam panitia Sembilan. Adapun untuk 9 tokoh yang telah terlibat kala itu diantaranya:

1. Ir. Soekarno (ketua)

Ir. Soekarno merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Beliau adalah tokoh yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tidak terkecuali perannya dalam peristiwa perumusan Piagam Jakarta. Ir. Sukarno menjadi pemimpin dalam peristiwa tersebut.

2. Drs. Moh. Hatta (wakil ketua)

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902. Mohammad Hatta lebih dikenal dengan sebutan “Bung” Hatta merupakan sosok yang santun, rendah hati, taat beragama, dan jujur, serta berani melawan penjajah. Bung Hatta adalah wakil ketua dalam Panitia Sembilan.

3. Mr. Achmad Soebardjo (anggota)

Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo lahir di Karawang, Jawa Barat, 23 Maret 1896 – meninggal pada tanggal 15Desember 1978 saat umur 82 tahun. Siapa sangka ternyata beliau ini merupakan seorang pahlawan nasional dari Indonesia, seorang tokoh pejuang diplomat bahkan juga pejuang dalam kemerdekaan Indonesia.

4. Abdul Kahar Muzakir (anggota)

Abdoel Kahar Moezakir atau dalam ejaan baru Abdul Kahar Muzakir merupakan seorang Rektor Magnificus hasil pilihan dari Universitas Islam Indonesia dan pertama kalinya mempunyai nama STI selama kurang lebih 2 periode mulai dari tahun 1945 hingga 1948 dan juga tahun 1948 hingga tahun 1960. Beliau ternyata menjadi salah satu anggota BPUPKI .

5. Abikoesno Tjokrosoejoso (anggota)

Abikoesno Tjokrosoejoso, lahir di Kota KarangayarKebumen tahun 1897 dan meninggal tahun 1968. Ia merupakan anggota Panitia Sembilan yang merancang pembukaan UUD 1945 saat ini dikenal dengan Piagam Jakarta.

6. H. Agus Salim (anggota)

Haji Agus lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, dan meninggal di Jakarta pada tanggal 4 November 1954saat umur 70 tahun adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.

7. Mr. Muhammad Yamin (anggota)

Beliau ini sudah lahir di Talawi tepatnya lagi Sawahlunto propinsi Sumatera Barat pada tanggal 24 Agustus tahun 1903. Sayangnya beliau meninggal dunia saat berada di kota Jakarta tepatnya tanggal 17 Oktober 1962 ketika usianya masih 59 tahun. Salah satu perannya yang paling bersejarah adalah ikut serta dalam merumuskan dasar negara yang menghasilkan Piagam Jakarta.

8. KH. Wachid Hasyim (anggota)

KH. Wachid Hasyim lahir di Jombang Jawa Timur pada tanggal 1 Juni 1914. Meninggal di Cimahi Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun. Beliau merupakan salah satu pahlawan Nasional Indonesia sekaligus menteri negara yang berada dalam kabinet pertama yang ada di Indonesia.

9. Mr. A.A. Maramis (anggota)

Mr Alexander Andries Maramis lahir di Manado, SulawesiUtara tanggal 20 Juni tahun 1897. Meninggal di Indonesia tahun 1977 pada usia 80 tahun. Mr. A.A. Maramis adalah pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjadi anggota KNIP, anggota BPUPKI. Beliau merupakan satu-satunya tokoh yang beragama kristen dalam paniata Sembilan.

Naskah Isi Piagam Jakarta

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia Merdeka yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar negara Indonesia yang berbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Djakarta, 22-6-1945

Rumusan Isi Piagam Jakarta

Dari semua pernyataan mengenai piagam Jakarta diatas, akhirnya telah diambil sebuah kesimpulan mengenai rumusan dasar negara yakni Pancasila yang sudah tertuang dalam Piagam Jakarta dan terbagi menjadi 5 point yakni:
1. Ketuhanan dengan sebuah kewajiban untuk menjalankan semua syariat Islam
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Intisari dasar negara tersebut dirumuskan oleh Panitia Sembilan. Hasil tersebut kemudian diumumkan sebelum terjadi keretakan akibat perbedaan pendapat.Ketika sidang kedua BPUPKI pada tanggal 10 sampai 16 Juli 1945 dimana ketika itu diagendakan penyusunan UUD 1945 yang saat itu dinamai dengan Piagam Jakarta, Piagam Jakarta kemudian dijadikan sebagai prembule atau Muqaddimah.Butir sila pertama yang ercantum dalam isi Piagam Jakarta yang mengemukakan tentang “Kewajiban untuk menjalankan syariat Islam khusus bagi pemeluknya” kemudian diganti dengan sila 1 Pancasila yang kita kenal sekarang yaitu “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Menurut mereka, meskipun kata-kata tersebut tidak mengikat agama lain di selain Islam, namun dengan mencantumkan ketetapan seperti itu dalam UUD berarti menimbulkan perbedaan antar golongan. Untuk menghindari perpecahan dan pemberontakan, keesokan harinya pada tanggal 18 Agustus 1945 sebelum sidang PPKI dimulai, Mohammad Hatta mengadakan pembicaraan dengan tokoh-tokoh Islam, yakni KH Abdul Wahid Hasyim, Teuku Muhammad Hasan, dan Ki Bagus Hadikusumo tentang rencana perubahan kata-kata dalam Piagam Jakarta. Mereka menyetujui usulan yang disampaikan oleh Mohammad Hatta.

Pendekatan yang dilakukan oleh Mohammad Hatta terhadap wakil golongan Islam, berpegang pada pernyataan Ir. Soekarno bahwa UUD 45 tersebut bersifat sementara, serta mengingat pentingnya persatuan bangsa, maka usulan tersebut diterima dalam sidang PPKI.Selanjutnya, Piagam Jakarta yang sudah mengalami perubahan tersebut ditetapkan sebagai Pembukaan UUD 1945,

Masalah terkait keagamaan muncul kembali setelah kemerdekaan. Atas usul KH Abu Dardiri, M. Sukoso Wirjosaputro dan M Saleh Suadi,yang kemudian memperoleh dukungan dari Mohammad Natsir, Dr Marwadi, Marzuki Mahdi, dan N. Kartosudarmo. Sidang pleno Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir pada November 1945 di jakarta mendesak pemerintah agar membentuk satu departemen tersendiri yang mengurus masalah terkait agama.

Pemerintah menyetujui usulantersebut,hal tersebut ditandai dengan dikeluarkannya Penetapan Pemerintah tanggal 3 Januari 1946 mengenai pembentukan Departemen Agama secara yuridis formal.Kebijakan itu adalah bentuk nyata dari pasal 29 UUD 1945 dan penghargaan atas sikap umat beragama, khususnya umat Islam yang telah bersedia menghilangkan tujuh kata “dengan menjalankan semua syariat Islam bagi para pemeluknya” ketika sidang PPKI yang sudah terjadi tepatnya tanggal 18 Agustus tahun 1945.

Perkembangan Piagam Jakarta

Faktanya, apa yang dirumuskan oleh Panitia Sembilan mendapatkan banyak kecaman dari para rakyat di wilayah Indonesia bagian timur.Hal ini disebabkan oleh adanya ayat pertama yang mencantum nilai Islam bagi para pemeluknya.Apabila sila tersebut tidak diubah maka wilayah Indonesia tengah hingga timur memilih melepaskan diri dari Indonesia.

Hal tersebut yang membuat dasar kelahiran Pancasila yang saat ini dikenal sebagai ideologi Bhinneka Tunggal Ika Indonesia.Saat ini Piagam Jakarta telah berubah menjadi sila yang tercantum dalam ideologi Pancasila.Perubahan tersebut ada pada sila pertama menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” setelah Ir Soekarno pun menghubungi Mohammad Hatta dan wakil-wakil delegasi Islam.Setelah diadakan musyawarah, pihak delegasi Islam sebelumnya menolak atau keberatan dengan perubahan tersebut.

Namun, semua orang pun menyetujui perubahan tersebut demi menjaga keutuhan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Hasil perubahan tersebut diumumkan dalam sidang pleno PPKI sebelum akhirnya disahkan sebagai ideologi negara pada tanggal 18 Agustus 1945 termasuk keputusan mengenai pemerintahan sementara setelah Jepang menyerah kepada sekutu.

Nah itu tadi artikel yang membahas tentang isi piagam Jakarta. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda. Sekian terimakasih.

Komentar disini