Sejarah Isi Perjanjian Hudaibiyah Beserta Latar Belakangnya

Kalimat.ID – Mempelajari sejarah memang penting sekali untuk kita semua. Terlebih lagi jika kita mau mempelajari isi Perjanjian hudaibiyah. Perjanjian tersebut merupakan salah satu perjanjian yang sudah di lalui kaum Musyrikin Mekah dengan Rasulullah tepatnya pada tahun yang keenam hijriah atau katakanlah 638 Masehi. Perjanjian tersebut nyatanya sudah berlangsung di suatu Lembah Hudaibiyah tepatnya lagi di pinggiran dari kota Mekah.

Namun sayangnya isi perjanjian hudaibiyah ini sudah dianggap mampu merugikan umat muslim namun di sisi lain perjanjian tersebut justru membawa keuntungan.

Pada awalnya perundingan ini terjadi karena rombongan dari kaum Muslimin di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW akan melaksanakan ibadah Umroh. Hanya saja kaum musyrikin kala itu menghalangi rombongan dari kaum muslimin yang hendak berangkat ke Mekah. Pada akhirnya Rasulullah melakukan penawaran sampai harus mengadakan perjanjian hudaibiyah. Isi perjanjian Hudaibiyah adalah kaum kafir Quraisy tidak boleh menghalang-halangi umat islam untuk melaksanakan ibadah haji di Makkah.

Latar Belakang Terjadinya Isi Perjanjian Hudaibiyah

Sebetulnya Perjanjian Hudaibiyah ini telah dilatarbelakangi oleh perjuangan dalam hal penyebaran risalah tauhid yang sudah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW berserta kaum muslimin. Ada banyak halangan maupun tantangan yang sering mereka temui.

Saat era Makkah ketika agama islam baru masuk memang masih sedikit yang menjadi pengikutnya. Kala itu kaum mushrikin Quraysh sangat gencar mengintimidasi maupun menghalangi kaum muslim supaya dakwah agama islam tidak tersebar luas.

Pada era Madinah saat Rasulullah SAW beserta para sahabatnya ini sudah hijrah meninggalkan kota Makkah, orang yang telah memusuhi islam pun kini semakin bertambah.

Bukan hanya orang mushrikin Quraysh saja melainkan juga sekelompok kaum munafik maupun orang Yahudi. Mereka memang sangat antusias ingin menghancurkan islam tetapi usaha yang mereka tempuh ini ternyata mengalami kegagalan.

Saat itu rombongan kaum muslimin berhasil memenangkan peperangan entah itu yang besar maupun yang kecil kecuali dengan perang Uhud. Nyatanya sudah tidak ada lagi kebenaran Allah yang tidak diingkari.

Semuanya ini berlangsung dalam waktu 13 tahun, Rasulullah SAW kala itu berada di Makkah sedangkan di Madinah hanya selama 6 tahun saja. Sekarang ini tibalah waktunya Allah SWT menginginkan agama islam yang lebih kokoh.

Setelah sekian lamanya kaum muslimin sudah terlatih dan juga terdidik menghadapi berbagai macam cobaan. Allah berkeingin menundukkan manusia yang kerasa kepala pada kebenaran maupun kekuasaan-Nya.

Allah mempunyai keinginan agar kaum mukmin ini bisa memperlihatkan semua kemampuannya yang mampu getarkan kaum mushrikin di Makkah. Kota itu memang harus di bawah naungan pemeluk Islam sedangkan Baitullah kala itu memang harus segera dibersihkan dan juga disucikan dari beberapa patung berhala yang mungkin masih ada.Untuk itulah Allah SWT akhirnya menciptakan sebab dan sarana.

Sebabnya ini tentu saja karena adanya perjanjian Hudaibiyah. Isi perjanjian Hudaibiyah ini telah disusun oleh Mikraz bin al Hafs, Suhail bin Amr, bahkan juga Hawatib bin Abdul Azza. Bermula dari apa yang telah diceritakan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya bahwa beliau telah bermimpi masuk ke Makkah dan juga bertawaf mengitari Baitullah al-Haram, tanpa adanya kejelasan tentang waktu, bulan maupun tahunnya. Para sahabatnya terutama mereka kaum muhajirin begitu gembira mendengar berita tersebut.

Mereka bahkan tidak merasa ragu bahkan beliau menganggap bahwa mimpi beliau ini pasti akan terjadi dan menjadi nyata. Inilah mengapa mereka sangat antusias dan semangat untuk bersiap eprgi ke Makkah bersama dengan Rasulullah SAW.

Saat tiba pada bulan Dzulqa’dah tepatnya pada tahun ke 6 Hijriah, Rasulullah dan para rombongan yang berasal dari kaum muslimin ini memutuskan untuk berangkat ke Makkah dengan tujuan mengikuti ibadah umrah bukan untuk berperang. Saat mengikuti perjalanan menuju ke Makkah, Rasulullah kala itu berusaha memperlihatkan apa niatan beliau menghormati ka’bah.

Kala itu mereka sampai di sebuah tempat demgan nama Dzu al-Halifah mereka kala itu berihram umrah supaya orang Makkah tahu tentang kedatangan Rasulullah ke Makkah bersama dengan rombongan dari kaum Muslimin.

Dzul-Halifah ini sebetulnya adalah nama sebuah tempat yang letaknya sekitar 11 km dari kota Madinah. Tempat tersebut memang sangat memikat bahkan digunakan sebagai tempat berihram untuk orang yang datang dari Madinah yang hendak melaksanakan ibadah haji.

Ketika rombongan sudah sampai di Asfan beliau memang sudah mendapatkan informasi dari Bisyr bin Sufyan al-Ka’bi yang sedang ditugaskan untuk menghimpin semua informasi. Bisyr bin Sufyan al-Ka’bi memberitahukan bahwa kaum mushrikin Makkah kala itu sudah tahu tentang kedatangannya.

Bahkan mereka mempunyai tekad mengumpulkan semua kekuatan yang ada demi menghalangi beliau beserta rombongannya yang hendak berkunjung ke Makkah. Menurut kabar yang ada Khalid bin Walid ini belum memeluk agama islam bersama dengan para pasukannya.

Mendengar berita tersebut, Rasulullah SAW akhirnya bermusyawarah dengan para sahabatnya dan mendapat sebuah keputusan untuk melanjutkan perjalanannya. Dengan demikian Rasulullah beserta dengan rombongan sudah sepakat melanjutkan perjalanan mereka.

Ketika berada di Asfan saat sudah mendengarkan berita kehadiran dari pasukan berkuda ini, kau mushrikin memang lebih berhati-hati. Rasulullah bersama dengan rombongannya akhirnya berencana untuk melakukan sholat khauf.

Hak ini bertujuan untuk melanjutkan perjalannya dengan aman bahkan menghindari pasukan berkuda Khalid bin Walid supaya tidak terjadi pertumpahan darah, Rasulullah SAW memang harus menempuh jalur yang terbilang berat bahkan jauh sekali tidak langsung menuju ke kota Makkah. Jalan yang ahrus dilalui sangat berliku, sempit bahkan juga naik turun di penuhi dengan batu-batuan yang keras.

Rasulullah SAW beserta rombongan dari kaum muslimin akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan mengambil jalur yang tidak langsung menuju ke Hudaibiyah. Di tempat tersebut Rasulullah membuat tenda hanya saja sumber air yang berada disana ternyata sedikit sekali bahkan tak mampu mencukupi kebutuhan minum para rombongan. Banyak anggota dari rombongannya mengeluh kehausan karena kehabisan tenaga dan belum minum.

Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW. Ada yang mengatakan mengapa tempat ini dinamakan Hudaibiyah, sebab di tempat itu sudah banyak tumbuh sebatang pohon yang bengkok dalam bahasa Arab disebut hudaba’ yang mempunyai arti melengkung atau bengkok. Setelah itu airnya memancar begitu deras dan rombongan pun akhirnya bisa minum hingga puas.

Sejarah Terjadinya Perjanjian Hudaibiyah

Setelah 6 tahun meninggalkan Makkah, umat Islam belum mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji. Setelah perang Khandak, Nabi Muhammad saw memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji ke Makkah.Pada tahun 6 H atau 628 M. Nabi SAW mengajak para sahabat untuk melaksanakan haji ke Mekkah.

Nabi Muhammad saw memimpin sekitar 1.000 umat Islam pada bulan Dzul Qaidah(dalam tradisi Arab dilarang berperang). Namun kaum Kafir Quraisy berusaha menghadang dan menghalangi umat Islam untuk melakukan ibadah haji di Makkah.

Nabi saw mengutus Utsman bin Affan untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka. Kaum kafir Quraisy menolak kedatangan Umat Islam dan memerintahkan umat Islam untuk kembali ke Madinah.

Pada saat itu juga, tersebar isu bahwa Utsman bin Affan dibunuh oleh kaum kafir Quraisy. Mendengar berita tersebut, Nabi Muhammad saw memerintahkan umat Islam untuk melakukan bai’at kepada nabi SAW bahwa mereka bertekad berjuang demi kejayaan Islam hingga tetes darah penghabisan. Baiat tersebut dikenal dengan Bai’at al-Ridwan. Setelah Umat Islam bersumpah, Utsman bin Affan kembali dari Madinah dengan selamat.

Kafir Quraisy begitu khawatir akan tekad Umat Islam untuk memasuki kota Makkah. Oleh sebab itu, mereka mengutus Mikraz bin al-Hafs , Suhail bin Amr dan juga Hawatib bin Abdul Azza untuk membuat isi perjanjian Hudaibiyah bersama dengan Nabi Muhammad saw.

Isi Perjanjian Hudaibiyah

Kafir Quraisy sudah mengutus Suhail bin Amr, Mikraz bin al Hafs dan juga Hawatib bin Abdul Azza guna menyusun isi perjanjian Hudaibiyah bersama dengan Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad Saw akhirnya meminta bantuan Ali bin Abi Thalib sebagai juru tulis dari naskah isi perjanjian Hudaibiyah. Namun kala itu Suhail menolak pencantuman Bismillaahirrahmanirrahiim.

Sebagai gantinya akhirnya ada sebuah usulan Bismika Allahumma (atas nama ya Allah). Bahkan beliau pun juga menolak adanya pencantuman Muhammad Rasulullah namun diganti dengan Muhammad bin Abdullah. Kedua usul tersebut akhirnya bisa diterima oleh Nabi Muhammad meskipun para sahabatnya masih menentangnya.

Mungkin anda merasa penasaran sekali dengan isi perjanjian hudaibiyah. Supaya anda mengetahuinya, inilah berbagai macam isi perjanjian hudaibiyah, yakni:

1. Kedua belah pihak sudah sepakat mengadakan sebuah gencatan senjama selama kurnag lebih 10 tahun lamanya.
2. Setiap orang mempunyai kebebasan untuk bergabung dan juga mengadakan sebuah perjanjian dengan Muhammad.
3. Orang Quraisy yang sudah tergabung dengan nabi Muhammad SAW tanpa seizin walinya ternyata harus dikembalikan. Sedangkan untuk pengikut nabi Muhammad yang sudah bergabung dengan kafir Quraisy justru tidak dikembalikan.
4. Tahun ini Muhammad memang harus kembali ke Madinah sedangkan untuk tahun berikutnya, mereka sudah diizinkan untuk menjalankan ibadah haji sesuai dengan syarat yang ada bahwqa harus menetap selama 3 hari lamanya di Makkah tanpa ada senjata.

Saat isi perjanjian hudaibiyah ini sudah ditandatangani, Abu Jandal bin Suhail, anak Suhail bin Amr, wakil Quraisy dalam perjanjian, datang kepada Nabi Saw dengan kaki yang terbelenggu.

Beliau kala itu meminta sebuah perlindungan kepada nabi Muhammada, sebab ayahnya sudah menyiksanya setelah ia masuk Islam. Ayahnya, Suhail bin Amr sudah memukulnya. Sesuai perjanjian, Nabi Muhammad Saw pun membenarkan tindakan Suhail terhadap anaknya ini, meskipun sikap Nabi Muhammad Saw mendapatkan protes dari beberapa sahabatnya.

Pada akhirnya Mikraj bin al-Hafs dan juga Hawaitib bin Abdul Uzza ingin memberikan sebuah perlindungan kepada Abu Jandal.akhirnya Abu Jandal ini mengambil keputusan untuk kembali pada pihak Quraisy, meskipun sudah tidak lagi tinggal bersama orang tuanya. Meskipun tidak melaksanakan ibadah haji, Nabi Muhammad memerintahkan pengikutnya untuk mencukur rambut dan juga menyembelih korban sebelum akhirnya kembali ke Madinah.

Kerugian dan Keuntungan Isi Perjanjian Hudaibiyaah bagi Umat Islam

Isi perjanjian Hudaibiyah ternyata membawa banyak kerugian untuk umat islam. Tapi siapa sangka di sisi lain ternyata mampu menunjukkan kearifan dari Nabi Muhammad SAW dengan adanya peluang yang ia peroleh.

Peluang bagi nabi Muhammad tersebut antara lain:
1. Legitimasi terjadi pada pemerintah Islam
Isi perjanjian Hudabiyah ini secara tidak langsung ternyata mengakui sebuah status politik Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin dari umat islam bahkan juga pemimpin untuk kota Madinah.
2. Lebih fokus dalam hal penyebaran agama Islam

Isi perjanjian hudaibiyah ini ternyata juga mencantumkan mengenai gencatan senjata dalam waktu 10 tahun lamanya. Dimana kesempatan tersebut dinilai sebagai kesempatan emas agar mampu menyebarkan agama islam tanpa takut terganggu dengan urusan perang.

Nabi Muhammad Saw beserta sahabatnya bisa lebih terfokus dengan rencananya menyebarkan Islam sekaligus melaksanakan ibadah haji tanpa terganggu urusan perang.Sebelum perjanjian, mereka tengah disibukkan oleh peperangan dengan kafir Quraisy.

Antara tahun 6 H dan 8 H, Nabi Muhammad Saw mengirim utusannya ke berbagai kerajaan, antara lain:
1. Heraclius (Kaisar Byzantium)
2. Muqauqis (Penguasa Mesir),
3. Negus/Najasyi (Penguasa Habasyah/ Abessinia)
4. Haris Al-Ghassani (Raja Hirah)
5. Gubernur Persia Dari Yaman
6. Haris Al-Himsari (Penguasa Yaman).
7. Kisra (Penguasa Persia),

Dari banyaknya nama yang sudah terdaftar maka yang masuk islam adalah gubernur Persia di Yaman. Hanya saja masih banyak dari mereka yang menolak halus bahkan sembari mengirimkan hadiah.

Mariah kemudian dinikahi oleh Nabi Muhammad Saw dan Sirrin dinikahi oleh Hasan bin Sabit. Dari perkawinannya dengan Mariah ini akhirnya beliau memiliki seorang putra yang bernama Ibrahim namun harus meninggal dunia saat masih kecil.

salah satu penolak yang terbilang paling kasar ternyata adalah Haris al-Ghassani. Dimana beliau sudah membunuh utusan dari Nabi Muahmmad SAW. Nabi Muhammad SAW pun akhirnya mengirimkan semua pasukannya yang berjumlah 3.000 orang di bawah kekuasaan Zaid bin Haris guna menyerang raja Haris al-Ghassani.

Peperangan pun akhirnya terjadi di Mut’ah. Pasukan Islam mendapat kesulitan karena pasukan Haris al-Ghassani mendapat bantuan dari pasukan kekaisaran Romawi. Hingga akhirnya Khalid bin Walid ini berhasil mengambil alih komandonya bahkan memberikan perintah kepada pasukannya supaya kembali ke kota Madinah.

Kemampuan dari Khalid bin Walid yang mampu menarik mundur semua pasukan islam dari kepungan pasukan al- Ghassani dengan jumlah ratusan ribu ini mampu membuat masyarakat sekitar merasa kagum padanya.

Banyak dari kabilah Nej masuk agama islam, ribuan dari kabillah Sulaima, Asya’ Gutafan, dan juga Fazara bahkan ikut serta memeluk agama islam berkat keberhasilan dakwah dan juga politik Islam yang sudah ada.

Hanya saja dengan adanya perjanjian hudaibiyah ini lama kelamaan terbukti hasilnya, inilah Nabi Muhammad SAW yang memiliki visi politik hebat. Ada dua hal penting yang menjadi hasil dari isi perjanjian hudaibiyah ini, yakni:

1. Isi perjanjian hudaibiyah yang sudah ditandatangani Suhail Bin Amr ini memang wakil dari kaum Quraisy. Suku Quraisy ini merupakan suku yang paling terhormat di Arab sehingga Madinah pun dianggap sebagai kota dengan otoritasnya tersendiri.

2. Adanya perjanjian ini kaum Quraisy Mekah memberi kekuasaan kepada pihak Madinah untuk menghukum pihak Quraisy yang sudah menyalahi perjanjian ini.Nabi Muhammad SAW telahmengetahui betul karakter orang Mekah, sehingga beliau mengetahui bahwa mereka akan melanggar perjanjian tersebut sebelum selesai 10 tahun.

Sekian artikel yang dapat saya bahas mengenai isi perjanjian Hudaibiyah. Semoga sedikit ulasan ini dapat bermanfaat bagi anda semua. Kini anda pun memahami apa saja isi dari perjanjian hudaibiyah ini. Semoga saja banyaknya penjelasan diatas mampu memberikan wawasan yang lebih luas untuk anda.

Komentar disini
Hosting Unlimited Indonesia