8 Gejala Kanker Rahim yang Paling Mudah Dikenali

Gejala Kanker Rahim

Kalimat.ID – Gejala Kanker Rahim – Kanker rahim merupakan salah satu jenis kanker yang sangat mematikan bagi wanita. Disebut kanker rahim karena menyerang sel-sel pada dinding rahim. Kanker rahim lebih sering terjadi pada wanita usia  lanjut, atau wanita yang sudah mengalami menopause.

Kanker Rahim yang juga dikenal dengan Kanker Endometrium terbagi menjadi dua tipe utama, yaitu:

Kanker endometrium tipe 1 – Ini adalah tipe kanker rahim yang paling sering terjadi. Pada tipe ini, sel kanker berkembang secara perlahan sehingga bisa dideteksi dan ditangani sejak dini.

Kanker endometrium tipe 2 – Berbeda dengan sebelumnya, perkembangan sel kanker endometrium tipe 2 jauh lebih agresif dan lebih cepat menyebar.

Faktor-Faktor Risiko Kanker Rahim

1. Faktor Usia

Sama seperti kanker pada umumnya, faktor paling mendasar yang dapat meningkatkan risiko kanker rahim adalah usia. Kanker rahim sangat rentan terjadi pada wanita usia lanjut atau dalam masa menopause.

2. Faktor Hormonal

Ketidakseimbangan antara jumlah hormon estrogen dengan hormon progesteron akan meningkatkan risiko penyakit kanker rahim.

Sebelum memasuki masa menopause, ovarium akan memproduksi hormon estrogen dan progesteron yang mana kedua hormon tersebut sangat berperan dalam mengendalikan siklus menstruasi.

Sel telur kemudian akan dilepaskan dan membuat dinding rahim menebal guna mempersiapkan kehamilan.

Jika tidak terjadi pembuahan, siklus akan dimulai dari awal lagi, begitu seterusnya. Setelah memasuki masa menopause, ovarium akan berhenti memproduksi hormon yang berkaitan dengan reproduksi.

Namun, hormon estrogen masih bisa dihasilkan dari lemak tubuh. Hal ini menyebabkan kadar hormon estrogen dalam tubuh terlalu tinggi tanpa adanya hormon progesteron sebagai penyeimbang.

3. Kelebihan Berat Badan

Salah satu faktor yang dapat menimbulkan kanker rahim adalah kelebihan berat badan. Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, orang dengan berat badan berlebih tentunya memiliki cadangan yang cukup banyak didalam tubuhnya.

Cadangan lemak tersebut secara tidak langsung akan membuat kadar estrogen menjadi lebih tinggi dari hormon lainnya sehingga dapat memicu kanker rahim. Tak hanya itu, seseorang yang kurang beraktifitas juga akan berisiko mengidap kanker rahim.

4. Faktor Genetik

Dalam beberapa kasus, faktor genetik ternyata dapat meningkatkan risiko kanker rahim. Jika seseorang memiliki keluarga dengan riwayat kanker seperti kanker rahim dan kanker payudara, maka besar kemungkinan dirinya akan terkena kanker pula. Faktor genetik ini hanya bisa diwariskan oleh kerabat dekat seperti orang tua, kakak dan adik.

5. Tamoxifen

Anda mungkin merasa sangat asing dengan tamoxifen. Tamoxifen adalah obat yang digunakan oleh penderita kanker payudara. Penggunaan Tamoxifen dalam jangka panjang ternyata bisa mengakibatkan kanker rahim..

6. Mengidap Penyakit Lainnya

Orang yang mengidap penyakit tertentu akan berisiko mengalami kanker rahim, diantaranya yaitu:

Hiperplasia endometrium – Hiperplasia endometrium merupakan suatu penyakit dimana dinding rahim menjadi lebih tebal dari sebelumnya.

Diabetes – Diabetes yang berkaitan dengan obesitas akan meningkatkan risiko kanker rahim.

Kista ovarium – Wanita yang memiliki kista ovarium akan mengalami masalah kesuburan dan jarang mengalami menstruasi. Kondisi seperti ini akan memicu timbulnya kanker rahim.

Kanker ovarium – Orang yang menderita kanker ovarium kadar estrogennya akan meningkat. Hal ini akan meningkatkan risiko seorang wanita mengalami kanker rahim.

Stadium Kanker Rahim

Stadium 1 – Sel kanker hanya berada di dalam dinding rahim dan belum menyebar.

Stadium 2 – Sel kanker mulai merambat ke leher rahim.

Stadium 3 – Sel kanker semakin ganas dan mulai menggerogoti kelenjar getah bening dan panggul.

Stadium 4 – Sel kanker mulai menggerogoti kandung kemih, usus besar dan organ tubuh lainnya.

Tanda dan Gejala kanker rahim

1. Panggul atau Perut Sakit

Gejala kanker rahim yang paling umum terjadi adalah nyeri pada panggul dan perut. Menurut penelitian, dari 100 penderita, ada 80 orang yang mengalami gejala ini.

Jika dibiarkan, rasa nyeri akan terus berlangsung seiring dengan pertumbuhan sel kanker dalam rahim.

2. Munculnya Benjolan Pada Rahim

Kanker rahim biasanya ditandai dengan adanya benjolan pada dinding rahim. Namun, untuk mengetahui benjolan dalam rahim diperlukan alat khusus. Penderita kanker rahim biasanya akan merasakan seperti ada yang mengganjal di dalam perut bagian bawah.

Bila anda merasakan ada sesuatu yang mengganjal dan berat pada perut bagian bawah, maka waspadalah dan segera lakukan pemeriksaan.

3. Perdarahan yang Tidak Normal

Perdarahan pada vagina bisa dikatakan tidak normal jika volumenya berlebihan, terlebih lagi jika anda sedang dalam masa menopause. Dan juga tidak normal jika periode menstruasi anda berjalan jauh lebih lama dari bulan-bulan sebelumnya.

Tidak semua wanita yang mengidap kanker rahim pasti mengalami gejala ini, sebagian penderita sama sekali tidak mengalaminya.

Catatlah semua perubahan saat anda mengalami periode menstruasi secara normal dan tidak normal. Banyak wanita yang salah menafsirkan antara menstruasi yang normal dan tidak normal.

Untuk lebih mudahnya, anda hanya perlu mengamati volume darah yang keluar saat periode menstruasi, dan berapa lama menstruasi terjadi.

Berkonsultasilah dengan dokter jika anda mengalami menstruasi dengan volume darah yang banyak selama dua minggu atau lebih untuk mencari tau penyebabnya secara pasti.

4. Nyeri Saat Menstruasi

Normalnya, menstruasi tidak menimbulkan rasa nyeri dan aroma darah masih tergolong wajar. Namun, anda perlu waspada jika darah menstruasi beraroma tidak sedap dan amis. Ditambah lagi jika disertai dengan nyeri hebat pada perut bagian bawah.

Sebagian wanita memang merasakan nyeri pada saat hari pertama periode menstruasi, namun rasa nyeri masih tergolong wajar dan akan menghilang dengan sendirinya pada hari kedua atau ketiga.

Tapi, anda perlu memeriksakan diri secepatnya jika sebelumnya anda sama sekali tidak pernah mengalami nyeri haid, ditambah lagi jika anda merasakan nyeri yang sangat hebat hingga tidak bisa melakukan apapun.

5. Sering Buang Air Kecil

Kanker rahim dapat menyebabkan penderita buang air kecil lebih sering dari biasanya. Bukan soal frekuensi saja, penderita juga akan selalu merasa ingin buang air kecil walaupun volume air seni hanya sedikit.

Tak hanya itu, terkadang penderita kanker rahim akan merasakan nyeri saat buang air kecil. Keadaan ini disebabkan oleh sel-sel kanker rahim yang sudah menyebar ke dinding kandung kemih.

Selain itu, buang air kecil yang terlalu sering juga disebabkan oleh penumpukan cairan pada perut yang menekan kandung kemih.

6. Nyeri Saat Berhubungan Seksual

Selain nyeri saat buang air kecil, penderita kanker rahim juga akan merasakan nyeri saat berhubungan intim. Hal ini bisa terjadi karena letak rahim berdekatan dengan vagina. Jangan tunggu lebih lama lagi, segera periksakan diri jika anda mengalami gejala ini.

7. Kelelahan Fisik

Gejala kanker rahim lainnya yang juga sering terjadi ialah kelelahan fisik. Orang yang menderita kanker rahim tingkat lanjut biasanya akan mengalami nyeri yang hebat pada beberapa bagian tubuh.

Menahan rasa nyeri yang datang terus-menerus akan membuat penderita kehilangan tenaga dan merasa kelelahan.

8. Penurunan Berat Badan

Penderita kanker pada umumnya akan mengalami penurunan berat badan secara signifikan begitu juga dengan penderita kanker rahim.

Akibat menahan nyeri yang sangat hebat pada bagian perut, penderita akan kehilangan selera makan sehingga asupan nutrisi untuk tubuh tidak terpenuhi dan berat badan akan turun.

Pengobatan Kanker Rahim

Sebelum melakukan pengobatan untuk kanker rahim, biasanya ada beberapa faktor yang diperhatikan, yaitu:

– Tipe kanker rahim
– Tingkat penyebaran kanker di dalam rahim
– Ukuran tumor
– Lokasi kanker rahim
– Kondisi kesehatan pasien

Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter akan segera menentukan metode mana yang harus dilakukan untuk mengobati pasien kanker rahim.

Metode pengobatan kanker rahim ada beberapa jenis, diantaranya yaitu:

1. Operasi

Metode paling paling utama yang biasa dilakukan untuk mengatasi kanker rahim adalah operasi. Operasi akan dilakukan jika kanker rahim masih dalam stadium awal.

Metode operasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1. Histerektomi

Histerektomi adalah metode penanganan kanker rahim dengan melakukan pengangkatan rahim. Histerektomi sangat efektif untuk memberantas sel kanker, namun operasi jenis ini menyebabkan penderita tidak bisa memiliki anak.

2. Salpingo-oophorectomy

Operasi jenis ini dilakukan dengan cara mengangkat sel telur dan tuba falopi. Sama seperti histerektomi, operasi jenis ini mengakibatkan pasien tidak dapat memiliki anak.

2. Kemoterapi

Selain operasi, ada metode lain yang bisa dilakukan untuk mengobati kanker rahim, yaitu kemoterapi. Kemoterapi dilakukan dengan memberikan obat-obatan yang diharapkan bisa mematikan sel-sel kanker serta mencegah penyebarannya. Obat yang digunakan antara lain carboplatin, paclitaxel, cisplatin dan doxorubicin.

3. Radioterapi

Radioterapi merupakan salah satu metode pengobatan penyakit kanker rahim dengan cara memancarkan energi tinggi. Radioterapi kerap dikombinasikan dengan pengobatan lainnya, salah satunya yaitu kemoterapi.

Pengobatan dengan metode ini biasanya dilakukan jika operasi tidak mampu membendung penyebaran sel kanker.

Radioterapi dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

Radioterapi eksternal: Terapi radiasi dilakukan dengan memancarkan energi cahaya pada bagian tubuh yang terdapat sel kanker dengan menggunakan mesin.

Radioterapi internal: Terapi radiasi dilakukan dengan cara menempatkan radioaktif ke dalam vagina.

4. Terapi hormon

Metode terakhir yang bisa digunakan ialah terapi hormon. Terapi ini dilakukan dengan memberikan obat-obatan yang bisa mempengaruhi kadar hormon pada tubuh. Terapi hormon biasanya dilakukan untuk penderita kanker rahim stadium lanjut.

Terapi hormon bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1. Meningkatkan kadar hormon progesteron untuk menghambat proser perkembangan dan penyebaran sel kanker. Terapi ini biasanya menggunakan progestin.

2. Penurunan kadar hormon estrogen yang akan menghancurkan sel kanker yang perkembangannya sangat bergantung pada hormon estrogen. Obat yang sering digunakan pada terapi ini ialah tamoxifen.

Jangan lupa untuk berdiskusi dengan dokter mengenai terapi hormon pada masa menopause. Penggunaan terapi hormon kombinasi estrogen dan progesteron, bisa meningkatkan risiko penyakit kanker payudara.

Apakah kanker rahim bisa dicegah?

Sebagian besar pertumbuhan kanker rahim tidak bisa dicegah, namun kita bisa melakukan beberapa hal untuk menurunkan faktor risiko kanker rahim seperti berikut:

1. Periksalah organ reproduksi secara rutin, seperti pap smear dan pemeriksaan panggul. Pemeriksaan tersebut akan membantu dokter untuk mendeteksi kelainan atau gangguan pada organ reproduksi anda sejak dini.

2. Gunakan pil KB sebagai alat kontrasepsi. Alat kontrasepsi oral yang digunakan selama minimal setahun akan menurunkan risiko kanker rahim. Tetapi, penggunaan kontrasepsi secara oral pastinya memiliki efek samping. Untuk itu, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu kelebihan dan kelemahan alat kontrasepsi oral dengan dokter

3. Jagalah berat badan anda agar tetap ideal. Hindari kegemukan atau risiko obesitas karena timbunan lemak dalam tubuh dapat memicu kanker rahim. Mulai sekarang, konsumsilah makanan sehat yang rendah lemak jenuh dan kalori.

4. Lakukan olahraga secara rutin. Luangkan waktu anda untuk berolahraga setidaknya 30 menit setiap harinya. Tak perlu olahraga berat, anda cukup melakukan olahraga yang ringan seperti jogging.

Itulah informasi seputar gejala kanker rahim yang sangat berbahaya bagi wanita. Walaupun demikian, pria juga bisa tertular kanker jika berhubungan seksual dengan pasangannya yang mengidap kanker rahim.

Ditambah lagi jika pria tersebut mengalami infeksi kelamin dan terpapar virus lainnya. Maka, waspadalah terhadap gejala kanker rahim agar bisa ditangani sejak dini.