Agresi Militer Belanda 2 Beserta Latar Belakang dan Tujuannya

Agresi Militer Belanda 2

Kalimat.ID – Perjuangan para pahlawan untuk memberikan kado Indonesia merdeka, membuat beberapa catatan sejarah. Salah satunya adalah peristiwa Agresi Militer Belanda 2. Didalam kesempatan kali ini akan dikupas secara lengkap mengenai peristiwa tersebut. Silahkan pahami beberapa penjelasan dibawah ini.

Penyebab Agresi Militer Belanda 2

Belanda yang masih ingin berkuasa di wilayah Indonesia memiliki beberapa cara didalam mencari celah mengembangkan lagi wilayah kekuasaannya. Dimana Belanda berusaha untuk melanggar perjanjian lingarjati yang sudah disepakatinya. Sebagai tahapan awal , Belanda sudah lebih dulu mengingkari dari adanya Agresi Militer Belanda I.

Selanjutnya melalui Komisi Tiga Negara (KTN) yang digencarkan Dewan Keamanan PBB, harus disepakati kembali perjanjian Renville yang digelar di kapal Amerika USS Renville. Dari adanya kesepakatan menggelar gencatan senjata, maka tercetuslah garis demarkasi (Garis Van Mook) yang dibuat untuk menghubungkan beberapa titik terdepan dari wilayah Belanda.

Setelah itu, upaya Belanda dalam merongrong wilayah Indonesia, dilanjutkan kembali dengan melakukan aksi Agresi Militer Belanda II. Dimana peristiwa ini dikenal sebagai aksi penyerbuan kemileteran Belanda yang terjadi pada tanggal 19 Desember 1948 ke wilayah Indonesia dan ibu kota Jogjakarta.

Pemerintah Belanda yang masih menduduki bekas dari wilayah Hindia Belanda masih bersikeras jika momen yang mereka jalankan merupakan aksi polisionil. Istilah aksi polisonil dalam pendapat Belanda, bukan merupakan salah satu gerakan yang memiliki dasar militer yang berkaitan dengan peperangan.

Belanda juga masih beranggapan jika saat itu wilayah Indonesia masih ada di area de facto yang dimiliki oleh Kerajaan Belanda. Belanda menjalankan aksi ini sebagai bentiuk usaha untuk menumpas pemberontak.

Sejak Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, pihak Belanda masih ingin kembali menduduki beberapa wilayah Indonesia yang bisa diambil alih. Bahkan Belanda mengambil beberapa cara licik untuk memojokkan Indonesia melalui jalur militer dan diplomasi.

Diplomasi pertama yang dilakukan antara pihak Belanda dengan Indonesia yaitu melalui Perjanjian Linggarjati. Pada saat penandatanganan pada perjanjian tersebut, sebenarnya pihak Indonesia masih sangat ragu tentang apa yang sudah disepakati dengan pihak Belanda.

Penyerangan yang dijalankan oleh pasukan Belandadi tanggal 19 Desember 1948 memiliki tujuan untuk mengikis kekuatan Indonesia dengan menghancurkan TNI yang menjadi salah satu pasukan yang sulit dikalahkan. Cara Belanda sangat licik, dimana mereka melakukan kekacauan dan mengasingkan beberapa pemimpin republik.

Latar Belakang Agresi Militer Belanda 2

Awal mula penyerangan di tanggal 19 Desember 1948 yakni dengan langkah Belanda menjalankan perang dengan taktik perang kilat, pada beberapa wilayah di kawasan Indonesia. Awalnya Belanda menduduki bandar Maguwo (Adi Sucipto saat ini).

Beberapa pasukan payung yang diturunkan dalam wilayah tersebut mampu dengan cepat menguasai kota Yogyakarta yang saat itu memang menjadi pusat dari pemerintahan Indonesia. Dimana dalam aksinya, Belanda mampu menangkap Soekarno Hatta yang menjadi pemimpin Republik Indonesia.

Bukan hanya mengamankan pemimpin negara, Belanda juga berhasil menawan Agus Salim, Mohammad Roem, Syahrir dan A.G Pringgodigdo. Kemudian semua tokoh tersebut diasingkan ke Pulau Bangka dan Prapat Sumatra.

Tapi saat itu, Soekarno sudah bisa membaca situasi dan membuat sebuah surat kuasa yang ditujukan pada Safrudin Prawiranega dan menyarankan untuk menyusun pemerintahan darurat.

Aksi Belanda mengasingkan beberapa jajaran menteri ternyata tidak sepenuhnya berhasil, ada beberapa menteri yang masih bisa lolos antara lain: Dr. Sukiman (Menteri Dalam Negeri), Supeno (Menteri Pembangunan dan Pemuda), Mr. I.J. Kasimo (Menteri Persediaan Makanan) dan Mr. Susanto (Menteri Kehakiman).

Belanda menjalankan aksi ini tentunya memiliki strategi didalam mengurangi kekuatan bangsa Indonesia. Strategi ini dikenal dengan strategi tiga sisi, yang isinya:

– Pertama, Belanda menginginkan jika semua kekuatan militernya mampu menhancurkan wilayah Indonesia secara cepat.
– Kedua, ingin jika Indonesia berubah menjadi Negara Federal Serikat sehingga Belanda lebih leluasa dalam menggencarkan devide et impera (politik adu domba) sehingga Indoneisa akan terpecah belah.
– Ketiga, Belanda bertujuan jika Indonesia bisa terkena sanksi internasional atas izin mereka memberikan kedaulatan ke federasi yang saat itu sudah dikuasai Belanda.

Dari adanya Agresi Militer Belanda II, pihak Belanda menganggap jika usahanya sudah berhasil dan membawa kemenangan besar bagi mereka. Karena pihak Belanda memang sudah berhasil mengamankan pemimpin bangsa dan beberapa tokoh penting lainnya.

Namun usaha yang dijalankan Belanda malahan mendapatkan beberapa kecaman keras dari beberapa negara lain, termasuk Amerika Serikat.

Sebagai salah satu bentuk simpatinya, Amerika Serikat kemudian membuat sebuah pernyataan. Apa isi pernyaannya, silahkan simak dibawah ini.

– Amerika Serikat akan menghentikan semua bantuan pada pihak Belanda jika militer mereka masih melakukan aksi kekerasan terhadap bangsa Indonesia.
– Amerika Serikat akan memaksa Belanda segera menarik pasukannya berdasarkan status quo Renville.
– Amerika Serikat akan memaksa Belanda untuk membebaskan pemimpin bangsa Indonesia.
– Amerika Serikat akan segera mendesak pihak Belanda untuk melakukan perundingan kembali agar mengikutinya secara jujur.

Tujuan Agresi Militer Belanda

Usaha belanda melakukan agresi militer tentu saja memiliki tujuan, salah satunya untuk memperlihatkan kepada seluruh dunia jika Republik Indonesia dan TKR saat itu memang telah tidak berfungsi.

Sehingga Belanda memang bisa leluasa dan bebas melakukan banyak sekali usaha terbaik salah satunya yaitu menguasai Indonesia. Jika disimpulkan, belanda melancarkan Agresi Militer bertujuan untuk:

– Berusaha keras untuk menghancurkan Republik Indonesia yang sudah memiliki sistem ketatanegaraan.
– Sebagai salah satu usaha Belanda di dalam membentuk pemerintahan interim Federal yang didasari oleh peraturan pemerintah.
– Memiliki wakil dari beberapa daerah Federal dan beberapa unsur kooperatif dari sebagian bekas Republik sehingga bisa mudah diambil dalam PIF tanpa memiliki wakil republik.
Bukan hanya itu saja agresi militer yang dilakukan Belanda juga memiliki latar belakang, berikut ini merupakan beberapa latar belakang atas dijalankannya Agresi Militer oleh pihak Belanda ke Indonesia.
– Dari sisi ekonomi, atas berkuasanya kembali Belanda di Indonesia maka semua kepentingan ekonomi yang berupa investasi bisa semakin diperluas oleh pihak Belanda dan mendapatkan banyak sekali di pasaran.
– Dari sisi sosial, belanda memiliki keleluasaan soal kependudukan yang mana selama itu banyak sekali orang Belanda yang ingin tetap tinggal di Indonesia.
– Dari sisi eksistensi, karena Belanda sudah memiliki citra buruk di mata dunia, maka dengan melakukan Agresi Militer pihak Belanda akan kembali mendapatkan tempat Setelah didukung sekutu dan militer.

Dampak Agresi Militer Belanda 2

Agresi Militer Belanda 2 yang saat itu terjadi di ibukota Indonesia memiliki banyak sekali dampak. Untuk memahami apa saja dampak yang terjadi, berikut ini adalah penjelasannya.

Dampak Negatif Agresi Militer Belanda 2

– Belanda berhasil menguasai lapangan terbang Maguwo dengan menggunakan serangan udara memakai 14 pesawat Masteng dan Kitty Hawk.
– Adanya pembentukan Pemerintah darurat di Bukittinggi
– Beberapa yang terpenting di pemerintahan Indonesia berhasil diasingkan, antara lain: Presiden dan Wakilnya Ir Soekarno dan Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Mr. AG. Pringgodigdo, Menlu Haji Agus Salim, dan Mr. Assaat.
– Kota Jogjakarta dikuasai Belanda dan beberapa bangunan penting hancur setelah adanya serangan.
– Korban tewas dari TNI yaitu 128 pasukan.

Dampak Agresi Militer Belanda 2 bagi Belanda

– Dari adanya Agresi Militer semakin memperkuat para pejuang tanah air untuk memperjuangkan kedaulatan negara Indonesia. Hal ini tentunya membuat pihak Belanda semakin tertekan di tanah air.
– Lahirnya perlawanan yang dilakukan oleh para pejuang tanggal 1 Maret yang sampai saat ini dikenal sebagai Supersemar.
– Beberapa perlawanan yang dilakukan oleh para pejuang tanah air membuat Belanda semakin kewalahan dan akhirnya bisa dilumpuhkan.
– Sudirman yang bergerak dengan strategi gerilya mampu menguasai beberapa wilayah di sekitar Jogjakarta dan mampu mengamankan.

Peristiwa Penting Selama Agresi Militer Belanda

Serangan Belanda ke Maguwo

Pada tanggal 18 desember 1948, sekitar jam 23.30 menyiarkan melalui radio jika esok pagi wakil tinggi mahkota Belanda yaitu Dr. Beel akan menyampaikan beberapa pidato penting. Sementara itu pada tempat lain Jenderal Spoor yang sudah mempersiapkan rencana akan memusnahkan TNI, menyarankan jika semua tentara belanda yang berada di Sumatera dan Jawa untuk menjalankan serangan ke wilayah Indonesia. Kemudian operasi tersebut dinamakan “operasi kraai”.

Setelah adanya penyerangan di wilayah Bandar Udara Maguwo, pada tanggal 19 Desember 1948, WTM Beel mengungkapkan dalam pidatonya di radio jika Belanda sudah tidak sepakat dengan adanya persetujuan Renville.

Dengan adanya penyerbuan pada beberapa wilayah di kawasan Jawa dan Sumatera, ibukota Indonesia yang saat itu berada di Jogjakarta juga terkena dampaknya. Kemudian aksi tersebut dikenal dengan agresi militer Belanda II. Belanda sebagai tokoh dan sekaligus dalam adanya aksi ini, menamakannya sebagai aksi polisional.

Serangan yang ditujukan ke beberapa kota di wilayah Jogjakarta dilangsungkan secara menyeluruh. Pengeboman dan beberapa pasukan yang diturunkan memakai terjun payung mampu melumpuhkan beberapa kekuatan militer di sana. Setelah adanya serangan Belanda, panglima Sudirman kemudian menyatakan perintah kilat yang kemudian diunggah pada radio pada jam 08.00.

Pemerintah Darurat Republik Indonesia

Panglima Sudirman yang saat itu dalam keadaan sakit memberikan laporan kepada presiden tentang kondisi yang sedang dialami semua wilayah Indonesia. Akhirnya pemerintah Indonesia mampu membuat keputusan jika tidak akan meninggalkan wilayah ibukota. Berhubung Panglima Sudirman masih dalam kondisi sakit dan didampingi dokter pribadi, presiden tidak mengizinkannya untuk meninggalkan kota untuk mengikuti gerilya.

Dengan apa yang sudah diputuskan oleh dewan siasat yang berbasis pemeri di wilayah Sumatera. maka akan dibentuk sistem pemerintahan baru di wilayah Sumatera. Presiden dan wakil presiden kemudian mengirim surat kepada Syafruddin Prawiranegara yang berada di Bukittinggi bahwa dia diberikan mandat untuk mengambil alih pusat pemerintahan.

Sebagai jalan untuk menjaga adanya berbagai kemungkinan, dr. Sudarsono wakil duta besar RI yang berada di India menghubungi beberapa menteri tersisa untuk membuat kabinet sementara. Saat itu ditunjuk 3 orang menteri untuk mengurusi pemerintahan sementara tersebut, yaitu Menteri Kehakiman, Menteri dalam negeri dan Menteri Perhubungan.

Pengasingan pimpinan Republik

Pada tanggal 22 Desember 1948, perintah langsung dari Kolonel D.R.A. van Langen menyatakan jika pemimpin Republik diterbangkan menuju pelabuhan udara Jogjakarta namun tanpa memiliki tujuan yang jelas.

Perjalanan tersebut memakai pesawat B-25 yaitu salah satu pesawat dari Angkatan Udara Belanda. Sama sekali tidak ada yang tahu arah tujuan dari pesawat, dan pilot yang saat itu mengendarai baru tahu Setelah Membekas surat perintah dan sama sekali tidak disampaikan ke pemimpin Republik.

Setelah pesawat mendarat di wilayah Pelabuhan Udara Kampung Dul Pangkalpinang, semua pemimpin Republik menyadari jika saat itu para pemimpin negara sedang diasingkan ke pulau Bangka. Sutan Sjahrir,Presiden Soekarno, dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim terus dibawa ke Sumatera Utara dan diasingkan ke Berastagi.

Sedangkan wakil presiden Muhammad Hatta, MR. Assaat, RS. Soerjadarma dan MR. AG. Pringgodigdo dibawa ke Kampung Dul Pangkalpinang. Pada saat membawa beberapa tokoh negara tersebut pasukan Belanda diisi oleh truk penuh tentara mengapa sampai tempat tujuan.

Beberapa Peristiwa Selama Agresi Militer Belanda 2

18 Desember 1948: Adanya pemberontakan PKI di Madiun

19 Desember 1948: Gelandang membatalkan adanya persetujuan gencatan senjata serta melakukan aksi pengeboman di lapangan terbang Maguwo dan beberapa pasukan baret hijau turun di wilayah tersebut.

Jenderal Spoor yang bertindak sebagai pemimpin menamakan operasi tersebut menjadi operasi gagak. Belanda mampu menguasai Jogjakarta pada pukul 16.00.

22 Desember 194: Semua pejabat sipil yang telah diamankan dan ditangkap oleh Belanda diasingkan dari Jogjakarta.

23 Desember 1948: Negara rusia perusahaan mengajukan resolusi pada dewan keamanan PBB serta melakukan kecaman keras kepada Belanda yang bertindak agresor. Namun Belanda sama sekali tidak menggubris semua pernyataan tersebut.

24 Desember 1948: Dewan Keamanan PBB sudah secara lengkap menerima beberapa resolusi diantaranya dari Amerika Serikat. PBB kemudian ingin Indonesia dan Belanda tidak lagi berperang dan mengambil sikap membebaskan semua pemimpin negara RI.

29 Desember 1948: Seluruh kota Jogjakarta dikarang oleh pasukan gerilya dan taktik gerilya tersebut berhasil mengambil alih kekuasaan Belanda di beberapa wilayah Jogjakarta.

31 Desember 1948: Ir Soekarno, H. Agus Salim dan Syahrir dipindahkan dari lokasi pengasingan menuju ke Prapat.

20 – 23 Januari 1949: Adanya konferensi Asia yang saat itu dihadiri sebanyak 21 negara di dalam kawasan Asia dan Australia. Topik pembahasan dalam Konferensi tersebut yaitu mengulas lengkap tentang sengketa pihak Indonesia dan Belanda. Semua masalah akan dibicarakan bersama dengan dewan keamanan PBB.

24 Januari 1949: Adanya konferensi resolusi yang dikirimkan pada pihak dewan keamanan PBB yang menuntut tentang pembebasan pemimpin RI dan penarikan mundur pasukan Belanda yang berada di wilayah Jogjakarta.

26 Januari 1949: Mr. Sjafrudin Prawiranegara memberikan pernyataan dan instruksi kepada Mr. Maramis, agar Dewan Keamanan segera mengirimkan beberapa militer KTN menuju beberapa wilayah yang dikuasai pihak Republik Sumatera.

31 Januari 1949: Semakin luasnya perlawanan kepada Belanda yang difokuskan ke seluruh penjuru Pulau Sumatera dan Jawa.

Februari 1949: Semakin berlanjutnya perang gerilya dan beberapa perlawanan yang mengembalikan Republik Indonesia.

Dari adanya agresi militer Belanda II, tentu saja membuat Indonesia kembali mendapat perhatian dunia. Bahkan dari adanya serangan umum 1 Maret, banyak negara lain yang mengakui jika Indonesia memiliki pertahanan yang semakin solid. Hal ini dapat mematahkan beberapa ungkapan dari Belanda yang mengatakan jika Indonesia saat itu telah mereka kuasai.

Sekian beberapa hal yang berkaitan langsung dengan agresi militer Belanda II yang bisa anda ketahui. Semoga dengan mempelajari beberapa penjelasan diatas akan semakin menambah pengetahuan dan wawasan anda tentang sejarah Indonesia.

Komentar disini